Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 04:05 WIB
Surabaya
--°C

Tim Dayung Surabaya Pertahankan Juara Umum di Porprov Jatim IX 2025

Tim dayung Kota Surabaya.

MALANG-KEMPALAN: Tim dayung Kota Surabaya sukses mempertahankan gelar juara umum pada Porprov Jatim IX 2025 yang berlangsung di Bendungan Lahor Desa Karangkates Kecamatan Sumberpucung. Hingga hari terakhir,  Sabtu (21/6), Kota Surabaya berhasil mendulang 10 medali emas, 5 perak, dan 8 perunggu atau total 23 medali dengan  poin 58.

Urutan kedua ditempati Kabupaten Sidoarjo yang meraih 10 medali emas, 6 perak, dan 3 perunggu atau 19 medali dengan poin 45.
Urutan ketiga diisi Kabupaten Mojokerto dengan 3 emas, 8 perak dan 7 perunggu atau 18 medali, poin 35.

Pada hari terakhir ini Kota Surabaya sukses menambah 3 medali emas dan 1 perunggu. Tiga medali emas masing-masing diraih dari nomor kayak 200 m putra atas nama Arif Rahman Mahardika, kayak 200 m putri atas nama Avriella Adinda Putri Razak, dan canoe 200 m putri atas nama Nadia Febianan Acropolis. Sedang 1 medali perunggu diraih dari nomor TBR 200 m mix.

“Perolehan medali ini lebih banyak dibandingkan Porprov Jatim VIII 2023 lalu. Saat itu kita juara umum dengan meraih 9 medali emas, 6 perak, dan 7 perunggu atau total 22 medali dengan poin 55,” kata Sugiyo, Wakil Ketua PODSI Kota Surabaya, Sabtu (21/6).

Padahal, pada Porprov 2025 ini tim dayung Kota Surabaya hanya ditarget merebut 8 medali emas. Sehingga, Sugiyo mengaku sangat puas dan sekaligus bahagia karena target tersebut berhasil terlampaui.

“Alhamdulillah, saya benar-benar sangat bersyukur. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para atlet dan pelatih yang telah berjuang keras sehingga tim dayung Kota Surabaya kembali sukses mempertahankan gelar juara umum dan target medali terlampaui,” ujar Sugiyo.

Selain itu, ia juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Ketua KONI Kota Surabaya Hoslih Abdullah.

“Khususnya Pak Wali Kota. Sebab berkat motivasi dari Pak Wali saat pelepasan kontingen, semangat anak-anak jadi semakin terlecut untuk memberikan yang terbaik buat Kota Surabaya,” pungkas Sugiyo yang juga Wasekum I KONI Kota Surabaya. (Dwi Arifin)

Total Perolehan Medali Cabor Dayung :

10 Emas
1. Canoe 1000M Putri
2. Kayak 1000M Putra
3. TBR 1000M Putri
4. TBR 1000M Mix
5. Canoe 500M Putri
6. TBR 500M Putri
7. Rowing ergometer
8. Kayak 200M Putra
9. Kayak 200M Putri
10. Canoe 200M Putri

5 Perak
1. Kayak 1000M Putri
2. Kayak 500M Putra
3. Kayak 500M Putri
4. Canoe Slalom Putri
5. Double Scull Putra

8 Perunggu
1. Single Scull Putra
2. Single Scull Putri
3. Double Scull Putri
4. Ergometer Putri
5. Canoe 1000M Putra
6. TBR 1000M Putra
7. TBR 500M Putra
8. TBR 200M Mix

Perolehan Medali Akhir Cabor Dayung Porprov Jatim IX 2025:

1. Surabaya: 10 emas, 5 perak, 8 perunggu (23 medali), poin 58.
2. Kab. Sidoarjo: 10 emas, 6 perak, 3 perunggu (19 medali) poin 45.
3. Kab.Mojokerto: 3 emas, 8 perak, 7 perunggu (18 medali) poin 35.
4. Kab.Malang: Emas 3, perak 3, perunggu 3 (9 medali) poin 21
5. Kab. Bangkalan: Emas 3, perak 4, perunggu 1 (8 medali)  21

Perang, antara Kemanusiaan dan Ego Elite Politik

KEMPALAN: Dalam sejarah panjang umat manusia, perang selalu menjadi gambaran paling kelam tentang kegagalan peradaban dalam menjaga kemanusiaan.

Di tengah kemajuan teknologi, diplomasi global, dan kesadaran akan pentingnya hak asasi manusia, konflik bersenjata justru tetap menjadi pilihan utama bagi para penguasa yang memegang kendali atas kekuatan militer dan politik.

Seolah tak pernah belajar dari luka masa lalu, dunia kini kembali terperosok dalam ketegangan baru seperti yang terlihat pada konflik Iran dan Israel.

Di medan tempur yang mereka pilih, bukan hanya bangunan yang runtuh, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang hancur bersama jerit pilu korban yang tak bersalah.

Malala Yousafzai, seorang pejuang penerima Nobel Perdamaian 2014 asal Pakistan yang menjadi simbol harapan dunia, pernah berkata bahwa dalam peperangan, baik pemenang maupun pecundang sama-sama kalah karena mereka kehilangan kemanusiaan.

Kutipan ini bukan sekadar untaian kata penuh empati, tapi cermin tajam yang menelanjangi realitas pahit di balik setiap konflik bersenjata.

Perang bukan hanya soal siapa menguasai wilayah atau siapa yang unggul dalam strategi militer, melainkan tentang siapa yang rela menanggalkan nurani demi harga diri politik.

Ketika ego para elit mendominasi panggung pengambilan keputusan, suara rakyat, terutama mereka yang paling rentan, tenggelam dalam debu ledakan dan dentuman rudal.

Konflik antara Iran dan Israel menjadi contoh nyata bagaimana diplomasi gagal bersaing dengan ego politik yang membara.

Ketegangan ini bukan semata pertikaian dua negara, melainkan sebuah simbol dari kehancuran sistem internasional yang semakin sulit menemukan ruang damai di tengah retorika konfrontatif.

Padahal dunia pernah menyaksikan harapan besar saat Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran lahir.

Perjanjian itu sempat menjadi titik terang dalam upaya menghindari benturan senjata. Namun semuanya berubah ketika Amerika Serikat secara sepihak keluar dari kesepakatan tersebut.

Sejak saat itu, jalur diplomatik seakan dibekukan, sementara Iran kembali meningkatkan pengayaan uranium sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan internasional.

Sejak itulah, politik saling tuding berubah menjadi aksi saling serang. Setiap provokasi dijawab dengan balasan yang lebih keras, membentuk siklus kekerasan yang tak berujung.

Yang paling menyedihkan, korban utama dari konflik ini bukan para politisi yang duduk di ruang aman dengan pendingin udara dan tim penasihat, melainkan rakyat biasa yang tak pernah memilih untuk terlibat dalam perang.

Anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang tak bersenjata menjadi statistik kematian yang terus bertambah, seolah mereka hanya angka yang bisa dinegosiasikan di meja perundingan yang tak pernah benar-benar digelar.

Di sinilah letak persoalan utama dunia saat ini. Kemanusiaan tak lagi menjadi dasar dalam pengambilan keputusan global. Sebaliknya, yang lebih dominan adalah ego sektoral, ideologi ekstrem, dan ambisi untuk mempertahankan kekuasaan.

Bahkan organisasi internasional seperti PBB pun kerap terlihat tak berdaya dalam menengahi konflik yang dipicu oleh negara-negara besar dengan kepentingan masing-masing.

Multilateralisme, yang dulu menjadi pilar utama dalam menciptakan perdamaian pasca Perang Dunia II, kini hanya terdengar sebagai jargon kosong di tengah kebisingan senjata.

Padahal, jika kita kembali kepada prinsip dasar kemanusiaan, perdamaian seharusnya menjadi tujuan utama setiap bangsa.

Dunia yang dibangun dari rasa saling percaya, saling menghormati, dan saling mengakui perbedaan budaya serta keyakinan seharusnya bisa menjadi benteng terakhir dari godaan untuk memilih jalan kekerasan. Namun sayangnya, dunia yang diimpikan itu kini retak oleh serangan udara dan retorika politik yang memperkeruh suasana.

Tidak ada solusi militer yang mampu menyelesaikan akar masalah politik. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap perang hanya meninggalkan puing dan dendam. Diplomasi preventif semestinya menjadi strategi utama, bukan opsi terakhir setelah kekacauan terjadi.

Dunia membutuhkan lebih banyak ruang untuk negosiasi, lebih banyak keberanian untuk mendengar, dan lebih banyak empati dalam mengambil keputusan.

Sayangnya, dalam konteks Iran dan Israel, ruang-ruang seperti itu semakin sempit karena masing-masing pihak memilih mempertahankan prinsip yang kaku, bahkan ketika nyawa manusia dipertaruhkan.

Elite politik seringkali terjebak dalam ilusi bahwa menjaga gengsi dan harga diri negara adalah segalanya. Mereka melupakan bahwa negara adalah kumpulan manusia, dan kemanusiaanlah yang seharusnya dijaga terlebih dahulu.

Ketika sebuah keputusan politik justru menyebabkan ribuan rakyat tak berdosa kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan, maka jelaslah bahwa keputusan itu bukanlah kemenangan, melainkan kegagalan peradaban.

Ego yang tak mau berubah adalah penyebab utama penderitaan kolektif yang tak perlu terjadi.Dunia tidak kekurangan suara-suara perdamaian, tetapi kekurangan keberanian untuk mendengarkannya.

Kata-kata Malala Yousafzai adalah panggilan nurani bagi siapa pun yang masih memegang harapan akan dunia yang lebih adil dan damai.

Perang tidak pernah menjanjikan apapun selain luka. Maka kini saatnya bagi semua pihak, tanpa kecuali, untuk menundukkan ego dan mengedepankan dialog. Sebab hanya dengan jalan damai, dunia bisa diselamatkan dari kehancuran yang terus mengintai di setiap penjuru. ()

Oleh : Bambang Eko Mei

Perspektif Tasawuf dalam Puisi ‘Oase Zam-Zam’

KEMPALAN : Dalam perspektif tasawuf, kisah Siti Hajar dan Ismail dipahami sebagai simbol ketauhidan, kepasrahan, dan usaha keras dalam menghadapi ujian hidup.

Siti Hajar digambarkan sosok yang teguh dalam keyakinan, sabar dalam menghadapi cobaan, dan tawakal saat berusaha.

Kisahnya menjadi inspirasi para Sufi dalam menjalani kehidupan spiritual.

Sebagaimana saya singgung pada tinjauan sebelumnya berjudul ‘Apakah Filsuf Juga Penyair?’ pada buku Kempalan.com. 5 Juni 2025, demikian juga puisi M. Rohanudin berjudul ‘Oase Zam-Zam’ yang terdiri dari tiga bait yang ada di halaman 38 buku kumpulan puisi tunggalnya Bicaralah yang Baik-Baik.

Ia gambarkan kisah Siti Hajar dan anaknya dalam dimensi kesufian, dimana pada khasanah kearifan lokal disebut sebagai meneping ati itu.

Mari kita tengok bait pertama puisi tersebut :

di dekat Kiblat
ada aroma rasa telaga
Shafa dan Marwah
Makkah belum dihuni manusia, gulita malam,
angin kencang, dahaga, panas berterik
perjuangan anak manusia
Ismail dan gua pertapaannya Siti Hajar masih menyusui
dua hati lambang kepatuhan, keikhlasan dan airmata
demi Allah kami bersumpah
demi Ibrahim kami melawan

Pada baris awal puisinya ini, penyair kelahiran Sumenep, Madura itu, membuka dengan ungkapan indah :

di dekat Kiblat ada aroma rasa telaga

Ya, sebuah metafora bernuansa tasawuf, setidaknya terindikasi pada aroma rasa telaga.

Pada baris lain, Rohan menulis begini:

dua hati lambang kepatuhan,
keikhlasan dan air mata

Mereka dianggap sebagai contoh keikhlasan dan kepatuhan kepada Allah dalam menjalankan perintahNYA tanpa ragu-ragu.

Perjalanan Siti Hajar di antara bukit Shafa dan Marwah adalah simbol perjuangan tentang ketaatan. Mereka berlari-lari kecil mencari air, melambangkan pencarian spiritual.

Mereka tidak menyerah dan terus berjuang, meskipun dalam kesulitan yang mendera, sebagaimana terbaca pada bait kedua dan ketiga puisi berjudul ‘Oase Zam-Zam’ ini. Mari kita ikuti:

haus, lari-lari kecil,
jiwa, di padang pasir seram tanpa manusia, tanpa suara
raga kelaparan seperti musafir

tiba-tiba gemuruh berkali-kali menggetar
degub jantung Ismail-Siti Hajarr meledak
di padang pasir yang tandus
di Shafa-Marwah garis dan titik suara Allah
inilah mukjizat, air memancur,
memancarkan peradaban kehidupan baru, imaji baru
menghirup udara segar,
adalah OASE ZAM-ZAM
air mukjizat di telaga
telaga bagi yang meneguknya
adalah surga Allah

Rohan selanjutnya mencoba memasuki lorong tasawuf, menggiring perjalanan spiritual, menyibak peradaban baru — sebagai gambaran penemuan sumber air itu : oase jiwa. Setidaknya hal tersebut terdiksikan sebagaimana di bawah ini :

inilah mukjizat, air memancur,
memancarkan peradaban kehidupan
baru


Dari bait kedua dan ketiga puisi tersebut, kita coba tarik perspektif :

  • Air Zamzam dianggap sebagai mukjizat Allah yang membawa kehidupan dan peradaban baru. Dalam perspektif Sufi, air Zamzam melambangkan keberkahan dan rahmat Allah yang diperoleh melalui keikhlasan dan kepatuhan.
  • Kisah Siti Hajar dan Ismail juga dipahami sebagai simbol cinta dan pengorbanan. Nabi Ibrahim yang meninggalkan mereka di padang pasir tandus dianggap sebagai contoh cinta dan kepatuhan kepada Allah, melebihi cinta kepada keluarga.

Bagi seorang Sufi, sebagaimana saya temukan pada rentetan studi kepustakaan, Shofa dan Marwah bukan hanya dua bukit fisik, juga simbol dari dua sisi keberadaan manusia: sisi lahiriah (Shofa) dan sisi batiniah (Marwah). Atau : Dunia dan Akhirat.

Perjalanan keduanya menginspirasi Sufi sebagai keselarasan tasawuf dalam meniti kehidupan.

Demikian perspektif yang saya baca dari puisi karya M. Rohanudin ini.

Di sisi lain, usaha Siti Hajar mencari air dengan berlari-lari kecil antara Shofa dan Marwah dipersepsi sebagai simbol zikir terus-menerus. Suatu upaya untuk mencari kehidupan spiritual yang hakiki : mendekatkan diri kepada Allah.

Keyakinan dan ketawakalan Siti Hajar diperlihatkan dengan terus berusaha meski dalam situasi sulit, menjadi titik cahaya yang lantas menghadirkan penerang bagi perjalanan spiritual. Inilah hakikat ajaran untuk selalu tawakal dan yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik pada waktunya. (Amang Mawardi).

Islam Antara Kesucian dan Realitas Sosial

KEMPALAN: Kita semua paham bahwa Islam adalah agama yang sejak awal dihadirkan sebagai rahmatan lil alamin—rahmat bagi seluruh alam.

Sebuah ajaran yang mengusung kesempurnaan hidup, keadilan sosial, kedamaian batin, keadaban moral, dan keseimbangan spiritual. Ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia: dari akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak.

Dalam Islam, manusia dimuliakan karena akalnya, dihargai karena amalnya, dan diminta menjadi khalifah di muka bumi.

Namun ironisnya, dalam realitas global hari ini, umat Islam kerap kali dikaitkan dengan kemunduran, kekerasan, kemiskinan, bahkan krisis moral.

Sebuah stigma yang tidak hanya tidak adil, tetapi juga menunjukkan kegagalan dunia dalam memahami Islam secara menyeluruh.

Mengapa agama yang membawa misi suci malah umatnya sering kali dikambinghitamkan atas kerusakan dan ketidakadaban sosial?

Salah satu jawabannya terletak pada pemisahan antara nilai-nilai Islam dan perilaku sebagian umat Islam itu sendiri. Nilai Islam adalah cahaya yang konsisten, sedangkan perilaku umatnya kadang jauh dari nilai itu karena berbagai faktor, termasuk politik, ekonomi, pendidikan, dan sejarah kolonialisme yang panjang.

Dalam banyak kasus, umat Islam menjadi korban sejarah dari marginalisasi, keterbelakangan struktural, serta manipulasi wacana global yang menyudutkan dengan stigma bahwa Islam identik dengan kericuhan dan kekerasan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi mercusuar dunia. Di saat Eropa tenggelam dalam zaman kegelapan, Baghdad, Kairo, dan Andalusia justru menjadi pusat ilmu pengetahuan, kedokteran, filsafat, dan seni.

Para cendekiawan Muslim seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Khaldun mewariskan khazanah intelektual luar biasa yang bahkan menjadi dasar perkembangan renaisans di Barat hingga saat kini. Islam tidak pernah anti ilmu, tidak membenci kemajuan, dan tidak mengajarkan kekerasan sebagai norma kehidupan.

Tetapi dalam perjalanan sejarah yang panjang, narasi-narasi ini terpinggirkan dan digantikan dengan citra sempit yang dikonstruksi melalui konflik dan propaganda.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi pernah berkata, “Saya kagum pada Islam karena kesederhanaannya… Islam tidak membuat perbedaan antara ras dan bangsa. Setiap orang yang memeluk Islam akan menjadi saudara bagi yang lain.”

Gandhi memang beberapa kali mengomentari Islam secara positif dalam konteks hubungan antaragama. Gandhi menunjukkan penghargaan terhadap ajaran Islam, terutama tentang persaudaraan dan kesetaraan.

Salah satu kutipan yang terdokumentasi dengan baik dari Gandhi berbunyi: “I become more than ever convinced that it is not the sword that won a place for Islam in those days in the scheme of life. It was the rigid simplicity, the utter self-effacement of the Prophet…” (Young India, 1924). Artinya: “Saya semakin yakin bahwa bukan pedang yang memberi tempat bagi Islam dalam kehidupan masa lalu. Tapi kesederhanaan yang teguh, penghapusan diri yang total dari sang Nabi…”

Pandangan ini menunjukkan bahwa orang luar yang obyektif bisa melihat keindahan Islam saat tidak terjebak dalam prasangka.

Begitu juga Edward Said, dalam karyanya Orientalism, mengkritik cara pandang Barat yang sering menyudutkan Timur, termasuk Islam, dalam bingkai stereotip dan superioritas budaya. Karya Orientalism ditulis oleh Edward Said pada tahun 1978. Buku ini mengkritik cara pandang Barat yang bias terhadap Timur Tengah

Ia menyebut bahwa citra Islam di mata dunia sering kali bukan hasil dialog, melainkan hasil konstruk media dan politik luar negeri.

Namun, sebagian umat Islam sendiri turut berperan dalam memperburuk citra agamanya. Ketika Islam dipolitisasi, ketika agama dijadikan alat kekuasaan, ketika simbol keislaman dikedepankan tanpa substansi akhlak, maka yang muncul bukanlah kedamaian, tapi kekerasan simbolik.

Dalam beberapa kasus ekstrem, ada kelompok yang mengatasnamakan Islam untuk melakukan tindakan yang justru bertentangan dengan ruh Islam itu sendiri.

Mereka lupa bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang mengedepankan kelembutan, bahkan terhadap musuhnya.

Sejarah penaklukan Makkah adalah contoh nyata bagaimana Rasulullah memberikan amnesti kepada orang-orang yang dahulu mengusir dan menyakitinya, bukan membalas dengan pedang.

Krisis moral yang terjadi di sebagian negara mayoritas Muslim hari ini bukanlah refleksi dari Islam, melainkan dari lemahnya institusi, rendahnya kualitas pendidikan, minimnya literasi agama, dan pengaruh sistem politik yang korup.

Banyak umat Islam hanya mewarisi Islam secara budaya tanpa memahami Islam secara ilmiah. Mereka mewarisi identitas tetapi belum menjiwai esensi.

Tugas besar umat Islam hari ini bukan hanya mempertahankan identitas, tetapi membangkitkan kembali semangat iqra’—membaca, berpikir, merenung, dan mencipta—yang dulu menjadikan Islam pelopor dunia.

Barack Obama dalam pidatonya di Kairo tahun 2009 juga mengakui kontribusi Islam terhadap peradaban dunia. Ia menyatakan: “Islam has a proud tradition of tolerance… it was Islam that carried the light of learning through so many centuries, paving the way for Europe’s Renaissance and Enlightenment.”

Ucapan ini tidak datang dari seorang Muslim, tetapi dari pemimpin negara adidaya yang mampu melihat sejarah secara jernih.

Yang perlu dibangun adalah kesadaran baru di kalangan umat Islam bahwa identitas keislaman bukan sekadar label atau pakaian luar, melainkan tanggung jawab untuk menampilkan akhlak terbaik, kerja keras, kejujuran, dan cinta kasih universal.

Menjadi Muslim hari ini bukan sekadar menjalankan ritual, tetapi juga menghadirkan Islam sebagai solusi atas problem kemanusiaan global—termasuk ketidakadilan, kemiskinan, degradasi lingkungan, dan kerusakan moral.

Stigma negatif tidak bisa dibalas dengan kemarahan atau pembelaan emosional semata. Ia hanya bisa dilawan dengan teladan. Islam tidak butuh pembelaan, tetapi butuh pembuktian.

Ketika umat Islam bisa menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi yang membawa rahmat bagi sekelilingnya, stigma itu akan runtuh dengan sendirinya.

Sebab sejatinya, Islam bukan sekadar agama yang benar, tetapi juga jalan hidup yang membebaskan, mencerahkan, dan mengangkat martabat manusia.

Sudah saatnya umat Islam menjadi jembatan antara ajaran dan tindakan, antara kata dan perbuatan, antara Islam sebagai rahmat, dan kita sebagai umat yang menebarkannya.

Oleh Bambang Eko Mei

Advokat Bandung Bergerak: Lawan Kriminalisasi Aktivis

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Tanggal 18 Juni 2025 di tempat bersejarah  Gedung Indonesia Menggugat Bandung telah dideklarasikan pembentukan Aliansi Advokat Bandung Bergerak (AABB) sebagai wadah Advokat Bandung untuk berjuang bersama rakyat dan aktivis dalam menegakkan kebenaran dan keadilan hukum. Aliansi dipimpin oleh Prof. Dr. Anton Minardi, SH, S.Ip, M.Ag, MA sebagai Ketua dan Lahmudin, SH  S.Pd,  CPM, C.CLE sebagai Sekretaris.

Para Advokat sepakat membentuk wadah perjuangan Aliansi Advokat Bandung Bergerak (AABB) berdasar pada keprihatinan bahwa supremasi hukum belum berjalan sebagaimana mestinya. Kemandirian hukum terganggu oleh berbagai kepentingan pragmatik baik finansial maupun intervensi kekuasaan, korupsi yang merajalela di ruang pengadilan dan dalam proses penegakan hukum. Hukum semakin tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Secara khusus AABB mendukung perjuangan untuk membongkar dugaan ijazah palsu Joko Widodo yang dilakukan oleh TPUA, aktivis, akademisi, serta elemen lainnya termasuk emak-emak dan para advokat yang dengan gigih telah berjuang bersama. Medesak Bareskrim Mabes Polri untuk menuntaskan penyelidikan dan penyidikannya, menolak kriminalisasi aktivis dan akademisi melalui Polda Metro Jaya.

AABB mendorong Presiden Prabowo untuk lebih peduli pada perjuangan rakyat.  Menunaikan kewajiban untuk berkontribusi dalam penegakan hukum. Pembenahan dan pembersihan aparat penegak hukum merupakan conditio sine qua non. Keadilan harus dirasakan oleh semua warga negara, bukan segelintir orang kaya atau kuasa. Ketidakadilan harus dilawan.

Memberi sambutan dan motivasi dalam acara deklarasi AABB tersebut antara lain Advokat Senior H. Dindin S Maolani, SH, Tokoh Sunda Mantan Kadisbudpar Jawa Barat H. Memet Hamdhan, SH M.Sc, Aktivis wanita berusia 81 tahun Hj. Umi Siti Marifah, SH, Ir. Syafril Sofjan, MM Bc Teks, M Rizal Fadillah, SH, Ketua KNPRI Hj Mery Samiri, dan Brigjen Purn. Hidayat Poernomo.

Pilihan Gedung Indonesia Menggugat Bandung mengingatkan pada tempat proses peradilan kriminalisasi aktivis atau pejuang kemerdekaan Ir. Soekarno bersama Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadiredja, dan Soepriadinata oleh Kolonial Belanda pada tanggal 18 Agustus 1930. Keempatnya didampingi Advokat antara lain Mr. Sartono Mr. Sastro Moelyono, Idi Prawiradipoetra, dan Mr. Suyudi.

Indonesia Menggugat sendiri adalah judul Pledoi Ir. Soekarno yang dibacakan 2 Desember 1930 di depan Hakim Landraad te Bandoeng.

Masih terngiang sepenggal pidato Soekarno dalam pledoi nya :

“Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Akan tetapi, suatu bangsa tidak mungkin bertahan tanpa kepercayaan. Ya, kepercayaan, dan itulah yang kami punyai. Itulah senjata rahasia kami”.

Aliansi Advokat Bandung Bergerak (AABB) berjuang untuk membangun kepercayaan rakyat dan berupaya menolong pemerintah agar dipercaya oleh rakyat.
Pengkhianat rakyat apakah pejabat atau konglomerat harus dihukum berat.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 20 Juni 2025

Pengusaha Sukses

KEMPALAN: Imbeng akhirnya sukses sebagai pengusaha muda yang memiliki sekian perusahaan — semuanya menguntungkan.

Pengusaha muda ini akhirnya diwawancarai salah satu stasiun televisi :

“Bagaimana kisah Bapak saat pertama kali mengawali usaha?” tanya presenter.

“Bisa dibilang saya mengawali dengan modal yang tak seberapa. Waktu pertama kali datang di Ibukota, saya hanya punya uang 25 ribu rupiah,” tutur Imbeng.

“Wah menarik sekali. Lalu bagaimana cara Anda menginvestasikan uang yang cuma 25 ribu rupiah itu?”

“Saya menggunakannya untuk menelepon Bapak saya di daerah, agar beliau mengirimkan uang dua ratus lima puluh juta rupiah sebagai modal”.


Tentu saja tidak menarik mengangkat kisah pengusaha sukses yang memulai usahanya seperti narasi di atas.

Ada juga sih pengusaha yang meneruskan usaha orangtuanya yang lantas menjadi besar dan besar. Tetapi itu tidak begitu inspiratif.

Akan lebih menarik kisah orang-orang sukses yang diawali dengan hal-hal dramatis, biasanya dari “kredo” berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian.

Jadi kalau ada pengusaha sukses macam di atas, seringkali orang kurang begitu antusias untuk menontonnya. Kurang greget. Meski bisa saja itu terjadi, tergantung situasinya. Mungkin : karena presenternya cantik; atau pengusaha tadi macho.

Yang sangat menarik manakala modal yang menyertai awal usahanya dari Rp 25 ribu itu, bukan Rp 250 juta. Di situ daya magnetnya.

Makanya cerita di atas sekadar lintas genre anekdot. (Amang Mawardi).

Rekonstruksi Jembatan Penghubung di Pesantren Zainul Hasan Genggong Ditarget Tuntas Agustus

Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau rekonstruksi jembatan penghubung Pondok Putri Hafshawaty Zainul Hasan Genggong ke SMK Zainul Hasan dan Pondok Putra Hafshawaty di Desa Karangbong,0 Kabupaten Probolinggo, Kamis, (19/6). 

PROBOLINGGO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau rekonstruksi jembatan yang menghubungkan Pondok Putri Hafshawaty Zainul Hasan Genggong di Desa Temenggungan Kecamatan Krejengan ke SMK Zainul Hasan dan Pondok Putra Hafshawaty di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Kamis, (19/6). 

Gubernur Khofifah menyampaikan, jembatan tersebut dibangun ulang setelah pada Februari 2025 mengalami kerusakan akibat intensitas hujan lebat disertai rombolan material yang beragam menghantam jembatan. Akibatnya akses masyarakat pun terputus.

“Bisa dibayangkan para santri harus keliling dengan berjalan kaki. Insya Allah saat ini sedang disambung dan ditargetkan selesai ahir Agustus,” ujar Khofifah.

Menurut Khofifah, rekonstruksi jembatan masuk ke dalam 9 Nawa Bhakti Satya, yakni Jatim Akses. Sebab, aspek terkait infrastruktur merupakan penguat konektivitas.

“Bersama-sama memberikan layanan terbaik bagi seluruh masyarakat untuk memudahkan akses dan mempercepat pergerakan manusia,” tuturnya.

Ke depan, Khofifah berharap sinergi memperkuat infrastruktur khususnya jembatan di Jawa Timur harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota.

“Bersama-sama membangun infrastruktur antara Pemprov dan Pemkab untuk percepatan konektivitas serta memaksimalkan layanan terbaik bagi masyarakat,” jelasnya.

Perbaikan jembatan disambut baik Lailatul Nafizah siswi SMK jurusan DKV kelas XI yang mengungkapkan terima kasih kepada Gubernur Khofifah karena membantu perbaikan jembatan.

“Senang dan terima kasih karena saya dan teman-teman bisa berangkat sekolah lebih cepat,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Aulya sebagai alumni santri mengatakan, perbaikan jembatan memudahkan aktivitas santri karena jaraknya tidak jauh.

“Mempermudah akses. Untuk itu saya ucapkan terima kasih Bu khofifah,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Zainul Hasan Andiy J Musthafa mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Khofifah karena menaruh perhatian kepada santri sehingga akses santri dari pondok ke sekolah lebih cepat.

“Saya ucapkan terima kasih dan berharap pengerjaan jembatan segera diselesaikan untuk mendukung aktivitas santri,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Samudra Supermarket Lengkapi Fasilitas Ritel Komersial di CitraLand The Greenlake Surabaya

SURABAYA-Fasilitas di CitraLand The Greenlake Surabaya makin lengkap. Setelah Binus School dan Universitas Bhayangkara serta berbagai fasilitas lain, kini menyusul Samudra Supermarket dengan luas 2500 meter persegi menjadi salah satu fasilitas komersial di CitraLand The Greenlake Surabaya.

Samudra Supermarket hari ini dengan bangga meresmikan pembukaan toko ketujuhnya di Jawa Timur, berlokasi strategis di CitraLand The Greenlake, Surabaya. Pembukaan cabang baru ini menegaskan komitmen Samudra Supermarket untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan berbelanja bagi seluruh warga Surabaya.

“Fasilitas Samudra Supermarket ini prima, ada buah sayur, fasilitas yang belum ada di perumahan kita. Samudra Supermarket juga salah satu retail yang terbaik interiornya di Kota Surabaya sekaligus merupakan Samudera ke-7. Di Surabaya konsepnya lebih baik dan lebih bagus, karena kita selalu berinovasi. Yang berbeda adalah ambiens di Samudra Supermarket CitraLand The Greenlake ini lebih bagus dan modern,” ujar Direktur Ciputra Group Lauw Hendra, Kamis 19 Juni 2023.

“Keberadaan fasilitas retail baru ini melengkapi Binus dan Bhayangkara akan operasional jg Agustus ini, sehingga fasilitas di CitraLand The Greenlake akan makin lengkap,” ujar GM CitraLand The Greenlake Sianne Wahjoeni.

“Selain itu, CitraLand The Greenlake tahun ini akan ada pengembangan lahan baru lagi, totalnya 10 hektaran di luar ruko. Penjualan terkini juga sudah mencapai on track target tahunan,” terang Sianne.

Sementara itu, COO Samudra Supermarket April Wahyu Widati dari PT Samudra Sukses Mandiri mengungkapkan fasilitas ritelnya di CitraLand The Greenlake lebih banyak memiliki varian produk, termasuk produk impor.

“Kami menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Surabaya. Kami berusaha membidik semua segmen. Daya saing kami ada pada harga, servis, dan varian produk. Dengan mengusung slogan Get More Pay Less,  customer mendapatkan lebih banyak dengan harga murah. Samudra Supermarket bertekad menjadi destinasi utama bagi keluarga untuk menikmati penawaran belanja yang murah, nyaman, dan berkesan,” ujar April.

“Samudra Supermarket menyediakan aneka kebutuhan sehari-hari yang lengkap, mulai dari kebutuhan pokok, sayuran segar, buah-buahan, hingga daging dan ikan berkualitas. Selain itu juga meyediakan kebutuhan peralatan rumah tangga. Selama acara grand opening ini, pelanggan akan dimanjakan dengan berbagai penawaran menarik, antara lain  belanja murah, pulang bawa logam emas, voucher belanja, dan boneka Popmart eksklusif. Tak hanya itu, program belanja tertentu, customer bisa mendapatkan gratis member Samudra, di samping berbagai promosi lainnya yang melimpah. Samudra Supermarket juga menjamin harga murah setiap hari, menjadikan setiap kunjungan belanja lebih hemat dan menguntungkan,” terang April. (*)

Wapres Gibran Apresiasi Bazar Blitar Djadoel, Ini Komentar Khofifah!

Wapres Ri Gibran Rakabuming bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat pembukaam Bazar Blitar Djadoel, Rabu (18/6).

BLITAR-KEMPALAN:  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau Pembukaan Bazar Blitar Djadoel di Alun-Alun Kota Blitar, Rabu (18/6).

Dalam kunjungan tersebut, Wapres RI Gibran Rakabuming mengapresiasi acara Bazar Blitar Djadoel yang bisa menjadi ajang pameran produk kerajinan Koperasi dan UMKM di Kota Blitar dan Jawa Timur.

Sementara itu, Gubernur Khofifah mengatakan, Bazar Blitar Djadoel bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi bagi pelaku Koperasi-UMKM dan komunitas kreatif, sekaligus sebagai ajang pelestarian warisan budaya Jatim.

“Bazar Blitar Djadoel ini menjadi etalase sejarah, budaya, sekaligus wadah interaksi ekonomi rakyat. Di sini, masyarakat tidak hanya diajak bernostalgia, tetapi juga UMKM kita bergerak, komunitas juga terlibat aktif, sehingga sektor perdagangan kita ikut tumbuh,” kata Khofifah.

Lebih lanjut ia menjelaskan, hadirnya Bazar Blitar Djadoel kali ini menjadi bukti komitmen Pemprov Jatim bersama Pemkot Blitar dalam memberdayakan UMKM dan ekonomi kreatif dengan sentuhan kearifan lokal.

“Semangatnya adalah gotong royong membangkitkan ekonomi rakyat sekaligus merawat memori kolektif masyarakat Blitar. Dari sini kita belajar bahwa ekonomi kreatif dan budaya bisa saling menopang,” ujarnya.

Khofifah menilai, sinergi antara elemen budaya dan kegiatan ekonomi seperti ini penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus mendongkrak produktivitas UMKM lokal.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa direplikasi di kota/kabupaten lain di Jatim dengan konsep kearifan lokal masing-masing. Bukan hanya memperkenalkan produk UMKM, tetapi juga menjaga semangat kebersamaan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengajak masyarakat Blitar dan sekitarnya untuk datang meramaikan bazar, sekaligus mendukung produk-produk UMKM lokal. Event Bazar Blitar Djadoel akan berlangsung mulai tanggal 18-22 Juni 2025.

“Mari datang, belanja, bernostalgia, dan berbahagia bersama keluarga di Bazar Blitar Djadoel ini. Dengan begitu, ekonomi rakyat bergerak, pelaku UMKM semakin semangat berinovasi, dan budaya kita tetap lestari,” pungkasnya.

Sebagai informasi pada tahun ini, beberapa area menarik dihadirkan di Bazar Blitar Djadoel. Antara lain Pameran UMKM Djadoel, Pameran Perangkat Daerah (PD), Instansi Vertikal, Komunitas, dan Pameran Dinas Koperasi se-Jatim.

Di sini, pengunjung juga bisa menikmati area Blitar Memorabilia, daftar lagu era 1960–1990-an, Tani Remen Blitar, Pasar Kangen, serta berbagai wahana permainan keluarga.

Selain pameran dan wahana permainan, Bazar Blitar Djadoel juga dirangkai dengan berbagai kegiatan penunjang seperti pertemuan bisnis, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kerjasama dagang, serta ajang Pemilihan Putra-Putri Batik Blitar.

Tak kalah meriah, lomba fashion show turut digelar, menampilkan kreasi busana batik dan tradisional yang dikenakan oleh para generasi muda Blitar. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.