Rabu, 22 April 2026, pukul : 11:43 WIB
Surabaya
--°C

Gemparnya Jawa Timur Menyambut Anies Baswedan

KEMPALAN: Jawa Timur memang daerah yang dianggap lemah bagi elektabilitas Anies, namun hari ini Jumat, 17 Maret 2023, anggapan seperti itu tak selamanya benar, karena terbukti Jawa Timur hangat menyapa dan menyambut Anies.

Hari ini saya menjadi saksi setidaknya seperti apa sambutan masyarakat Jawa Timur kepada Mas Anies yang hari ini, Jum’at (17/3) memulai perjalanan muhibahnya ke Jatim dengan tajuk simphony kebangsaan.

Setidaknya ada tiga tempat yang menjadi indikasi hangatnya masyarakat Jawa Timur menerima kedatangan Mas Anies, Pertama, ketika Mas Anies menjejakkan kakinya di bandara Juanda, Sidoarjo, ribuan warga menyambut kedatangannya dengan gegap gempita.

Kedua, ketika beliau menjalankan ibadah sholat Jumat dan menemui para simpatisannya di SWK Gayungsari, hal yang sama ribuan warga berjejal menyambut dan meminta melakukan foto bersama.

Ketiga, ketika berada di Dyandra Convention Hall, tempat pertemuan antara Mas Anies dengan Parpol Koalisi perubahan serta para relawannya. Tak kurang dari 4000 orang menyambut dan mendengarkan pidatonya. Kapasitas gedung penuh bahkan sebagian tak kebagian tempat duduk. 4000 berdasar informasi pengelola gedung bahwa kapasitas gedung ini adalah 4000 orang.

Hangatnya sambutan warga Jawa Timur dan Surabaya pada khususnya, menjadi penegas bahwa isu isu yang disebarkan oleh para buzzer dan pembenci Anies bahwa Jawa Timur dan Surabaya menolak kedatangan Anies hanyalah hoax dan isapan jempol belaka. Jawa Timur bahkan tidak menganggap Anies sebagai orang lain, Jawa Timur dan Surabaya menganggap Anies sebagai bagian dari keluarga besarnya.

Suasana hangat dan kekeluargaan inilah yang setidaknya akan menjadi modal sosial Mas Anies untuk merajut simfoni kebangsaan, yang menurutnya bahwa bangsa ini butuh seorang pemimpin yang mampu menjadi dirigen. Memimpin sebuah orkestra, semua mampu memainkan perannya dalam partitur-partitur yang tepat. Bagi Anies bangsa Indonesia yang penuh keragaman ini adalah karunia, ini sebuah kekayaan, bila dikelola dengan baik akan menghasilkan energi baik bagi kesadaran menghadirkan konstitusi dalam kehidupan nyata.

Kedatangan Anies di Surabaya yang merupakan miniatur Jawa Timur mampu memberi kesan bahwa Surabaya dan Jawa Timur merupakan contoh baik dalam membangun tradisi demokrasi.

Mas Anies mengaku terkesan dengan pola demokrasi warga Jawa Timur. Bagaimana mereka menginginkan perubahan besar untuk membangun negara yang lebih baik kedepannya. Masyarakat Surabaya dan Jawa Timur sangat terbuka, hangat dan jujur apa adanya. Inilah yang menurutnya sudah hampir hilang di negeri ini. Saatnya bangsa ini kembali ke jati dirinya sebagai bangsa yang terbuka, jujur dan apa adanya. Inilah ciri bangsa yang merdeka.

Penutup rangkaian kegiatan Mas Anies menyapa warga Jawa Timur di Surabaya dihari pertamanya kemarin, beliau berdiskusi dengan 100 pemimpin media dan jurnalis yang ada di Surabaya dengan nama “Chief Editor Meeting”. Tak kalah hangatnya dengan rangkaian kegiatan sebelumnya, dalam forum itu Mas Anies mampu menjelaskan dengan baik gagasan-gagasan tentang kenapa beliau hadir terpanggil untuk berkontestasi dalam pilpres 2024.

Mas Anies bercerita, suatu saat beliau diminta oleh keluarga besarnya untuk menghadiri upacara di istana, beliau tergetar hatinya ketika melihat sang saka merah putih dikibarkan. Dalam benak Mas Anies, kita ini, hari ini begitu mudahnya dimana mana mengibarkan bendera merah putih, tapi tahukah kita bahwa kemudahan yang kita miliki hari ini adalah hasil perjuangan panjang dan sulit para pejuang dan pendiri bangsa?

Sebagai cucu Pahlawan Nasional, Anies merasa terpanggil untuk tetap menjaga apa yang menjadi cita cita mereka yang tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Bagi Mas Anies ini adalah sebuah panggilan dan kesadaran yang harus dia lakukan, sebagaimana kakeknya AR Baswedan ketika memilih jalan perjuangan untuk memerdekakan Indonesia. Kalau berpikir tentang dirinya, kakek Anies sudah selesai dengan seluruh kekayaan yang dimiliki, tapi bukan itu yang menjadi pilihannya, Kakek Anies memilih berjuang dan apa yang terjadi, meski beliau pernah menjadi menteri, di akhir hayatnya, rumahpun tak punya.

Jalan hidup kakeknya inilah yang menjadi pilihan Mas Anies saat ini, menjaga dan merawat apa yang pernah diperjuangkan oleh mereka para pejuang dan pendiri bangsa.

Jalan hidup kakeknya inilah yang menjadi pilihan Mas Anies saat ini, menjaga dan merawat apa yang pernah diperjuangkan oleh mereka para pejuang dan pendiri bangsa.

Menghadirkan kembali narasi konstitusi dalam kehidupan nyata yang bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Jangan biarkan Mas Anies berjuang sendirian, Jawa Timur dan Surabaya harus melebur menjadi energi besar Mas Anies dalam mewujudkan itu.

Tidak ada yang tidak mungkin begitu kata Mas Anies, bagi Mas Anies ketulusan dalam perjuangan adalah pintu menuju tercapainya apa yang kita cita citakan.

Di balik kesulitan pasti lah akan ada kemudahan, begitulah Allah menegaskan dalam firmanNya, kata kuncinya ada dua, berharap dan berdoa. Maka marilah kita pupuk harapan perubahan Indonesia kearah yang lebih baik lagi, Indonesia yang mampu mewujudkan keadilan sosial bagi rakyatnya, dan tentu harapan ini sekarang berada di pundak Mas Anies, jangan biarkan Mas Anies sendirian. Sebagai masyarakat yang hidup di kota pejuang, kota yang dikenal dengan kota pahlawan, masyarakat Surabaya dan Jawa Timur tak ada pilihan, kalau kita masih cinta NKRI dan berharap Indonesia baik baik saja, maka berjuang bersama Mas Anies adalah sebuah keniscayaan. (*)

Demam Anies Jelang Kedatangan di Jawa Timur

KEMPALAN: Semakin mendekatnya kehadiran Anies di Surabaya, mulai terasa adanya suasana geliat masyarakat Jawa Timur untuk hadir menyambut kedatangannya. Suasana ini tentu tak bisa dilepaskan dengan peran penting dibalik ini, yaitu kesabaran dan konsistensi Ketua DPW NasDem, bunda Janet yang dengan sabar membangun kebersamaan dengan relawan pendukung Anies.

Flyer dan pengumuman run down kedatangan Anies bertebaran di media sosial dan berita diberbagai media cetak maupun online nasional dan lokal, itulah yang kemudian membuat tanggal 17, 18 dan 19 Maret 2023 menjadi sangat spesial bagi mereka masyarakat Jawa Timur yang merindukan berjumpa Anies.

Bahkan yang ditemui penulis dilapangan, sebagian dari mereka menjadikan tanggal tersebut sebagai tanggal merah untuk seluruh aktifitas dan khusus dijadikan tanggal untuk menyambut kedatangan Anies.

Apa yang bisa ditangkap dari geliat dan suasana rasa tersebut? Anies sudah menjadi harapan masyarakat Jatim, Anies sangat dirindukan kehadirannya di Jatim, Anies menjadi satu rasa dan satu jiwa dengan masyarakat Jatim. Suasana inilah yang membuat kedatangan Anies di Jawa Timur bukan lagi hanya sekedar hadir menyapa para relawan dan pendukungnya, tapi Anies hadir sebagai keluarga besar dan “sambang dulur” di Surabaya dan Jawa Timur.

Kreatifitas pendukung Anies dan relawannya membuat flyer -flyer yang apik dan menarik, harus diacungi jempol, karena dari kreasi-kreasi itulah, membuat masyarakat mejadi sangat antusias untuk hadir dibeberapa titik dimana Anies akan melakukan aktifitasnya.

Informasi yang didapat dari seluruh relawan Anies, Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera DPW Jawa Timur dan DPD yang tersebar, mereka akan hadir di Surabaya, misalkan dari Banyuwangi, Blitar, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan tentu pastinya Surabaya, belum lagi simpul-simpul relawan lain yang juga akan melakukan hal yang sama. Nampaknya kehadiran Anies akan Meng-Anies kan Jawa Timur dan Surabaya.

Farid, Ketua DPD Anies Surabaya bahkan dalam beberapa pernyataannya mengatakan akan mengerahkan massa untuk penyambutan Anies di Surabaya. Darinya akan ada 500 massa yang akan berbaur dengan massa lain yang juga akan hadir menyambut Anies.

Bisa diduga bahwa akan ada ribuan atau bahkan puluhan ribu massa yang akan hadir menyambut kehadiran Anies di Surabaya.

Tentu dugaan ini tidak mengada-ada karena berdasar pada suasana yang tertangkap dari kasak kusuk melalui media sosial yang beredar.

Luar biasa memang partai Nasdem dan para relawan pendukung Anies mampu menciptakan suasana rasa yang menyatu untuk kedatangan Anies, belum lagi kerja kerja parpol pendukung dalam pengerahan massa, selain dari Partai NasDem, tentu PKS dan Demokrat dan bahkan juga Partai Ummat tidak akan tinggal diam dalam pengerahan massa.

Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Partai NasDem utamanya kepada Bunda Janet, Ketua DPW Partai NasDem Jatim dan seluruh jajarannya yang mempersiapkan acara ini berbulan-bulan tanpa lelah dan sabar, hal yang sama patut juga diapresiasi panitia yang mempersiapkan, dan tentu juga perlu dibanggakan para relawan yang mau menyediakan waktunya, berdiskusi, berkoordinasi dengan partai NasDem mempersiapkan terselenggaranya acara menyambut kehadiran Anies di Surabaya.

Lalu apa point penting dari kehadiran Anies di Surabaya dan Jatim ini? Tentu saja kemampuan para relawan dan Partai pengusung dan pendukung menjadikan kehadiran Anies ini memang diharapkan dan bermanfaat bagi warga Surabaya dan Jawa Timur. Manfaat apa yang bisa dirasakan bagi masyarakat, tentu saja terobatinya kerinduan yang dirasakan terhadap Anies, dan tak kalah pentingnya adalah manfaat ekonomi yang dirasakan oleh UMKM, PKL dan juru parkir dimana Anies hadir dan berkegiatan.

Selamat datang, Mas Anies di Surabaya, “Sambang dulur”, semoga bertalinya rasa ini dengan seluruh masyarakat Jawa Timur akan menjadi kebaikan bagi bangsa Indonesia menjemput perubahan menjadikan Indonesia yang berkeadilan sosial. (*)

Kunjungan “Sambang Dulur” Anies Baswedan ke Jawa Timur

KEMPALAN: Menjelang kedatangan Anies di Surabaya, tanggal 17 – 19 Maret 2023, nampaknya akan semakin meningkatkan eskalasi persiapan para relawan dan pendukung Anies.

Bukan hanya masyarakat Surabaya saja yang menunggu, tetapi nampaknya juga masyarakat Jawa Timur.

Mereka mengetahui kedatangan Anies ke Surabaya dari beberapa fliyer dan video yang tersebar di media sosial. Berawal dari beredarnya run down kedatangan Anies, kemudian fliyer dan video yang dibuat oleh Partai Nasdem atau yang dibuat oleh para relawan dan pendukung Anies di Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Beredarnya run down awal yang massif padahal sejatinya masih belum tentu kebenarannya, ternyata membuat para relawan Anies berlomba – lomba menjadi yang pertama untuk bisa dikatakan sebagai orang yang pertama tahu. Semangat para relawan yang sudah lama menunggu, menyebabkan gagal nalar dalam membagi informasi, mestinya bersifat internal namun karena saking semangatnya gak perduli, yang penting menjadi yang pertama membagi informasi.

Kegagalan nalar yang dilakukan lalu membangun sikap paranoid kelompok – kelompok tertentu untuk menebarkan ketakutan dan kecemasan. Lalu dibangun narasi Anies tidak aman, Anies dalam gangguan dan hal hal lain yang bersifat halusinasi dan asumsi. Hati – hati memang perlu, waspada memang harus, tapi seharusnya membangun narasi berlebihan, karena itu akan menggangu fokus persiapan mensukseskan kedatangan Anies.

Kedatangan Anies pasti akan sangat ramai dan sangat ditunggu, karena Anies memang dinantikan. Membangun narasi ketakutan akan sangat kontra produktif bagi kedatangan Anies yang memang harus ramai dan disambut oleh kemeriahan warga.

Sehingga narasi – narasi negatif yang seolah mendukung Anies harus mulai dihilangkan diganti dengan narasi – narasi positif yang membuat kedatangan Anies ke Surabaya adalah hal yang menggembirakan sebagaimana jargon Partai Nasdem berpolitik dengan riang gembira.

Narasi – narasi negatif itu tak ubahnya seperti narasi – narasi para pembenci Anies yang menyebarkan spanduk – spanduk bernada provokatif yang menolak Anies dengan fitnah – fitnah yang ditebarkan.

Ketimbang menebar narasi – narasi buruk, kalau memang berpancasila, maka Relawan Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera ( Anies) DPW Jatim mengajak mereka untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang Demokrasi dan Pancasila memahami perbedaan. Tantangan tidak ada batas waktu, akan terus ditunggu, begitu kata aktifis dan relawan Anies Jatim. Tapi apakah mereka berani? Kalau melihat gelagat dan cara memasang spanduk provokatifnya, sepertinya mereka tidak akan berani muncul, karena memang pada dasarnya wataknya pengecut.

Lalu apa narasi – narasi positif yang sudah dibuat oleh Partai Nasdem dan para relawan Anies? Narasi seperti Anies “Sambang dulur” ke Surabaya adalah narasi positif dan dipenuhi dengan “local wisdom”. Anies ” Sambang dulur” ke Surabaya adalah sebagai keluarga besar Surabaya karena kakek Anies, Abdurrahman Baswedan, Pahlawan Nasional, memang lahir di Surabaya di kawasan Ampel Gading.

Partai NasDem membangun narasi Harmoni kebangsaan dan festival menebar kebaikan. Kalau melihat arti harmoni dalam KKBI, yang dimaksud dengan harmoni adalah pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat, keselarasan, dan keserasian.

Sehingga tema harmoni kebangsaan sejatinya merujuk pada situasi bangsa yang sudah terbelah akibat ulah para provokator sebagaimana spanduk yang sudah diturunkan oleh Relawan Anies DPD Surabaya.

Ada upaya untuk merekatkan kembali anak – anak bangsa ini, jangan mudah terpecah belah dan terbawa isu negatif para pengecut yang mencari makan dengan cara memecah belah anak bangsa.

Perwujudan dari harmoni itu lalu muncul kegiatan “Mlaku – Mlaku nang Tunjungan”, yang akan dilaksanakan Sabtu malam, 18 Maret 2023.

Esoknya, Anies akan dijadwalkan untuk sholat Subuh di salah satu masjid di Surabaya, kemudian berkunjung ke Dolly dan salah satu panti asuhan di Surabaya dan Jalan sehat bersama warga serta melakukan tabur benih ikan di Kali Mas.

Yang menarik meriahnya sambutan dan dukungan terhadap Anies, tentu akan memberi dampak langsung secara ekonomi dan sosial kepada masyarakat utamanya masyarakat PKL, UMKM dan para juru parkir.

Sebagaimana yang dilakukan oleh relawan Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera ( Anies) DPW Jatim, disebutkan bahwa para DPD – DPD di Jatim, akan datang ke Surabaya, diperkirakan dari DPD – DPD Anies di Jatim akan ada relawannya yang hadir sebanyak 500 orang, belum lagi mereka yang berasal dari simpul relawan yang lainnya.

Bahkan Ketua DPW Anies Jatim menekankan kepada DPD – DPD jangan lupa membawa bekal dan uang saku sebesar Rp. 100.000,-. bisa dibayangkan kedatangan Anies sehari saja membawa dampak ekonomi memberi manfaat kepada masyarakat dan pemerintah kota Surabaya sebesar 50 juta rupiah, coba bayangkan kalau tiga hari sebagaimana jadwal kedatangan Anies yang ada.

Ketua DPW Anies Jatim menekankan kepada DPD – DPD jangan lupa membawa bekal dan uang saku sebesar Rp. 100.000,-. bisa dibayangkan kedatangan Anies sehari saja membawa dampak ekonomi memberi manfaat kepada masyarakat dan pemerintah kota Surabaya sebesar 50 juta rupiah, coba bayangkan kalau tiga hari sebagaimana jadwal kedatangan Anies yang ada, akan ada manfaat yang dirasakan masyarakat dan pemkot sebesar 150 juta rupiah. Ini masih dari satu simpul relawan saja, bayangkan kalau seluruh simpul relawan menekankan hal yang sama, akan lebih banyak lagi manfaat yang dirasakan.

Semoga saja kedatangan Anies akan menjadi berkah dan manfaat bagi masyarakat Surabaya dan Indonesia. (*)

Menghitung Dampak Sosek Kedatangan Anies ke Jawa Timur

KEMPALAN: Kabar bahwa Anies akan berkunjung ke Surabaya sudah banyak diketahui oleh publik dan itu memang banyak ditunggu. Mengapa? Karena memang di banyak survey, Anies dirasa masih lemah di Jatim, padahal menurut banyak pengamat bahwa Jatim adalah faktor penting bagi siapapun yang ingin memenangkan pertarungan pilpres.

Kedatangan Anies ke Surabaya akan menjadi pertaruhan bagi partai pengusung dan relawan pendukung untuk mampu memecahkan rekor kunjungan Anies ke beberapa daerah sebelumnya.

Sepertinya kunjungan Anies ke Surabaya akan menjadi antiklimaks hasrat bertemu Anies para relawan. Karena setelah ini apakah relawan akan bergerak menyusun akselerasi organ pemenangan Anies ataukah mereka akan menunggu kembali Anies balik lagi.

Bagi mereka relawan yang bekerja dalam sebuah organ pemenangan, tentu akan paham bagaimana melakukan kerja kerja pemenangan, sebaliknya mereka yang bekerja dalam keriuhan maka akan menunggu kembali datangnya keriuhan.

Kembali pada pertanyaan apakah ada dampak kedatangan Anies ke Surabaya?

Dalam menghitung dampak ekonomi sosial atas sebuah peristiwa biasanya digunakan pendekatan kapitalisasi

Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menilai jumlah pendapatan yang diperoleh dari suatu asset yang dimiliki, nilai ini kemudian akan disesuaikan nilai pendapatan yang diperoleh Pasar.

Pasar dalam pengertian perhitungan dampak ekonomi dan sosial adalah para pengambil keuntungan, misalnya para pedagang, tukang parkir dan siapapun yang mendapatkan manfaat langsung dari peristiwa kedatangan Anies.

Dalam hal menghitung dampak itu, saya mencoba membuat kalkulasi keuntungan ekonomi bagi para pedagang, tukang parkir dan seluruh pelaku ekonomi yang mendapatkan dampak langsung dari kadatangan Anies.

Bincang – bincang saya dengan para relawan yang tergabung dalam Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (Anies) DPW Jawa Timur, mereka menjelaskan bahwa kedatangan Anies ke Surabaya akan disupport oleh relawan ini dengan jumlah massa 500 orang, belum lagi dukungan massa dari kelompok relawan relawan lain yang ada. Juga terdengar kabar relawan dari Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (Anies) DPW Jatim diimbau oleh pimpinan jaringan untuk bisanya membawa uang saku minimal 100 ribu untuk digunakan belanja di seputar area dimana Anies hadir.

Konon kabarnya, menurut ketua NasDem Jatim, Janet Sudjunadi, dalam berita yang beredar, kalau mengukur tempat pertemuan yang ada, kapasitas yang digunakan adalah 3000 orang. Belum lagi mereka yang tidak tertampung di dalam gedung tapi mereka berada di sekitar area gedung pertemuan.

Para relawan yang hadir tentu akan butuh makan, minum dan membayar parkir, mereka harus membiayai kebutuhan mereka sendiri. Sehingga kalau mau dikalkulasi, dari relawan Anies DPW Jatim akan ada dampak 100.000 x 500 orang, yaitu sebesar 50.00.0000 (50 Juta) rupiah. Apa artinya kalau kunjungan Anies satu hari ke Surabaya, maka akan memberi manfaat sosial ekonomi kepada para pelaku UMKM, pedagang kaki lima, tukang parkir dan lain lain yang terdampak langsung sebesar 50 juta sehari. Coba bayangkan kalau Anies melakukan aktifitas nya lebih dari satu hari, tinggal mengkapitalisasi jumlah dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat.

Lalu apa yang bisa dimaknai dari kunjungan Anies ke Surabaya? Kunjungan Anies ke Surabaya memberi manfaat kepada para pelaku ekonomi kecil terutama para pedagang kaki lima, tukang parkir dan UMKM. Dampak ikutan yang terjadi kalau mereka punya anak dan masih sekolah, setidaknya kedatangan Anies juga memberi manfaat kepada anak anak dan keluarganya, bagi pemerintah kota Surabaya, tentu akan diuntungkan dengan bertambahnya pendapatan masyarakat nya dan tentu pajak yang dipungut dari transaksi yang dilakukan.

Pada akhirnya bisa dipahami bahwa kedatangan Anies ke Surabaya ternyata memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi para pedagang, UMKM dan tukang parkir bahkan Pemkot Surabaya juga bisa mendapatkan manfaat dari kunjungan ini.

Sehingga ramaikanlah kedatangan Anies di Surabaya dan ramaikanlah dengan membeli barang barang pedagang kecil, UMKM dan tukang parkir, jadikan mereka tersenyum dengan kerelaan kita membeli barang dan jasa mereka.

Sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sebaik – baik manusia adalah mereka yang bisa berbuat baik kepada sesamanya. Jadikan kehadiran Anies di Surabaya sebagai upaya memberi manfaat kepada Surabaya dan masyarakatnya. Aamiin. (*)

Melawan Penjajahan bersama Anies Baswedan

KEMPALAN: Suasana kebangsaan kita hari ini terasa sekali adanya kerinduan hadirnya keadilan sosial yang tak lagi bisa dirasakan. Bangsa seolah menjadi milik kelompok tertentu, kelompok yang menikmati segala kekhususan, kelompok yang boleh merendahkan kelompok lain, kelompok yang bebas memecah belah bangsa, kelompok yang boleh menghina ulama dan kelompok yang diberi kenyamanan mengatasnamakan negara untuk menjarah.

Lihat saja kelompok-kelompok manusia yang dipelihara istana, semacam para buzzer yang sampai saat ini tak tersentuh hukum meski berjibun laporan telah dilayangkan ke aparat. Suasana inilah yang membuat situasi kebatinan rakyat menemukan momentumnya untuk menyatu. Menyatu menjadi energi perlawanan perubahan. Rakyat merasakan seolah hidup dalam suasana penjajahan, perlakuan yang tak adil yang didapatkan hanyalah akan bisa dilakukan oleh mereka yang memang bermental penjajah.

Menyatunya energi perlawanan menuju perubahan Indonesia yang berkeadilan sosial, inipun bergayung sambut dengan hadirnya narasi yang ditawarkan oleh Anies. Narasi tentang Anies hadir untuk mewujudkan amanah UUD 1945 dan Pancasila, tentang kemerdekaan, ketertiban, kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan.

Suasana kebatinan yang menyatu antara rakyat dan Anies Baswedan, mengingatkan kita, pada peristiwa menjelang diproklamasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Diawali dengan peristiwa berlangsungnya Sumpah Pemuda 1928, ada suasana para pemuda dan rakyat Indonesia untuk bertekad satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia.

Suasana kebatinan yang melawan penjajahan ini mengalir terus dalam perbincangan dan perbuatan, sehingga menjelang diproklamasikannya terjadi peristiwa Rengasdengklok.

Suasana kebatinan melawan penjajahan ini mengalir terus dalam perbincangan dan perbuatan, sehingga menjelang diproklamasikannya terjadi peristiwa Rengasdengklok. Soekarno diculik oleh kelompok muda yang meminta Soekarno segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa harus meminta persetujuan Jepang.

Suasana inilah yang tepat digambarkan ketika Partai NasDem mendeklarasikan Anies di bulan Oktober 2022 saat rakornasnya.

Partai NasDem yang masih didalam Koalisi Pemerintahan, mampu menangkap suasana kebatinan rakyat yang menginginkan adanya perubahan, gayung bersambut, semangat Anies dengan perubahan dan keberlanjutan, menjadi ruh semangat restorasi partai NasDem, maka jadilah sekarang energi perubahan dan keberlanjutan menjadi energi untuk menghadirkan amanah konstitusi ditengah suasana batin rakyat yang kecewa terhadap praktik pemerintahan yang tak berpihak.

Anies, Partai Nasdem, PKS dan Demokrat bahkan kemudian disusul oleh Partai Ummat, diibaratkan menjadi kumpulan – kumpulan semangat perubahan sebagaimana dilakukan oleh Soekarni dan kawan kawan yang meminta Soekarno memproklamirkan kemerdekaan.

Anies, Partai NasDem, PKS dan Demokrat, lalu disusul dengan Partai Ummat, kini telah menjadi kesatuan energi perubahan, energi yang mengkristal dari harapan rakyat yang menginginkan hadirnya pemimpin yang berpihak, pemimpin yang melindungi dan pemimpin yang mengayomi.

Pidato Anies di Australia yang menekankan pentingnya hidup yang demokratis, tidak anti kritik, saling menghargai dan bagaimana mempersatukan semua komponen bangsa, setidaknya akan menjadi jawaban bahwa bangsa ini butuh sosok Anies. Sosok yang terbuka, toleran, tidak anti kritik dan bahkan mempersatukan.

Tantangan bangsa ini kedepan adalah kemampuan untuk mempersatukan kembali semua komponen bangsa yang sudah dipecah belah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh penjajah Belanda.

Sosok Anies ibaratnya oase yahg hadir di tengah kehausan bangsa akan hadirnya amanah konstitusi sebagaimana cita-cita negara merdeka.

Hadirnya Anies ditengah harapan yang ada, seolah mengingatkan kita kembali bagaimana perjuangan para pendiri bangsa melawan penjajah.

Semoga Anies tak sekadar harapan, tapi juga akan menjadi perwujudan hadirnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

Anies dan Keputusan Politik Koalisi Perubahan

KEMPALAN: Perjuangan memenangkan Anies dalam Pilpres memang masih panjang, tahapan – tahapannya juga masih belum dimulai, namun riuh dukungan dan harapan akan perubahan menggelayut dalam setiap benak masyarakat Indonesia haus akan hadirnya narasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suasana kebatinan masyarakat akan hadirnya perubahan itulah yang kemudian ditangkap oleh Partai NasDem, PKS dan Demokrat bahkan kemudian menyusul Partai Ummat untuk membuat keputusan politik mendukung Anies menjadi Capresnya.

Meski belum secara resmi ketiga Partai Koalisi Perubahan mendeklarasikan bersama keputusan politiknya, tapi kita patut berterimakasih kepadanya.

Partai NasDem meski berasal dari Koalisi partai pemerintah, dengan kesadaran penuh akan restorasi Indonesia, ditengah krisis ancamam KPK yang akan mentersangkakan Anies Baswedan, Surya Paloh dengan Partai Nasdemnya melakukan upaya pasang badan dengan mendeklarasikan Anies sebagai capres melalui rapat koordinasi nasional yang dilakukan di bulan Oktober 2022.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Demokrat dan PKS, secara berurutan dalam waktu yang hampir bersamaan, mengumumkan bahwa Capres yang diusung adalah Anies Baswedan.

Lalu apa dampak dari keputusan politik partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan ini? Konstelasi politik berubah total.

Istana yang pada awalnya merasa digdaya, bisa melakukan apa saja yang diinginkan, ibarat kapal kini mulai terlihat oleng.

Para penumpang yang ada mulai berusaha mencari selamat. Mulai ada keretakan dan ketidakpercayaan.

Mereka mulai saling serang dan saling terkam. Dalam hal keinginan penundaan pemilu dan pilpres, PDIP yang menjadi Partai pemenang dan Partai penguasa kini mulai pasang badan. Keinginan Jokowi untuk menjadikan dirinya tiga periode dengan penundaan pemilu, dicegah oleh Megawati. Bahkan keinginan Jokowi memaksakan Ganjar untuk menjadi Capres yang didukung melalui PDIP juga tidak sejalan dengan keinginan Megawati.

Terlihat terjadi keretakan hubungan antara Jokowi dan istana dengan Megawati. Megawati berusaha menjadi garda depan menentang terjadinya penundaan pemilu.

Keputusan politik Partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan, mulai menggoyahkan kesolidan Partai Koalisi Pemerintahan. Jokowi yang biasanya suka bergurau dan memberi dukungan kepada capres – capres yang di endorse, kini juga mulai serius bagaimana membangun kesolidan koalisi pemerintahan.

Manuver PAN memunculkan pasangan Ganjar – Eric Tohir, tentu tak bisa dilepaskan dari pengaruh istana, karena pasangan inilah yang diharapkan akan menjadi “pewarisnya”. Pasangan yang bisa diharapkan untuk menjamin keberlanjutan program – programnya.

Ternyata manufer PAN tidak bergayung sambut dengan partai-partai yang ada dalam KIB.

Golkar sudah pasang harga mati bahwa Capres yang diusung adalah sang ketua, Airlangga Hartarto, bahkan Rohmahurmuzy, PPP bertemu Hasto, membuka kemungkinan bekerjasama.

Koalisi Pemerintahan yang tersebar dalam tiga kelompok partai, Koalisi Indonesia Raya, yang terdiri dari Gerindra dan PKB, Koalisi Indonesia Bersatu, yang terdiri dari PAN, PPP dan Golkar, tentu masing – masing sudah punya calon yang mereka usung. Manufer PAN, tentu akan mengalami kesulitan.

Upaya membendung keputusan politik Koalisi Perubahan dengan mengusung Anies saat ini sudah tak bisa lagi, lalu manufer yang dilakukan adalah membangun Koalisi Baru antara KIR dan KIB, yang tentu tak mungkin pasangan yang diusung adalah Ganjar – Eric Tohir untuk bisa mengalahkan Anies.

Prabowo sang patriot yang pernah mengatakan akan timbul tenggelam bersama rakyat, merasa mampu dan yakin bisa mengalahkan Anies. Pertemuan dengan Surya Paloh, Ketua umum partai NasDem, Prabowo menghormati pilihan masing – masing dan beliau juga menegaskan bahwa Gerindra memintanya untuk maju menjadi Capres 2024.

Nampaknya manuver Prabowo menjadi sinyal bahwa Koalisi Pemerintahan masih punya nyali melawan Koalisi Perubahan dan Anies yang kini sudah menjadi harapan rakyat. Nampaknya manuver Prabowo juga terakselerasi dengan manuver Hasto yang akan menemui KIB dan KIR dan kemungkinan akan membangun poros baru. Namun itu akan sulit terjadi, karena masing masing jelas punya kepentingan yang berbeda.

Ibarat perang, sejatinya Koalisi Pemerintahan kini saling tikam dan saling bunuh. Mereka bergerak dan bertempur dalam ketidakpastian. Istana pun saat ini hanya bisa berteriak teriak sebagai bagian mengelabuhi seolah masih punya kekuatan dan kesolidan.

Keputusan PN Jakarta yang merekomendasikan penundaan pemilu harusnya bisa dibaca bahwa Anies dan Koalisi Perubahan sudah tak bisa dibendung lagi, lalu langkah apa yang akan dilakukan? Menggunakan instrumen hukum adalah cara jitu dan halus untuk mengadang Anies. Pernyataan Firli yang menegaskan KPK akan bekerja secara profesional adalah sebuah ungkapan yang layak untuk digarisbawahi.

Semoga Anies bisa selamat dari gangguan para penghadangnya. Aamiin. (*)

Menunggu Anies Dipersimpangan Jalan

KEMPALAN: Mengapa saya memilih judul itu, setidaknya ada 4 informasi nasional yang sudah berkembang dan beredar di masyarakat.

Informasi itu dikeluarkan oleh Partai Nasdem dan PKS melalui pernyataan yang sudah dimuat oleh media massa. Pertama berkaitan dengan IKN dimana PKS dan Nasdem sama sama menegaskan bahwa Anies adalah sosok yang taat konstitusi, sehingga apapun yang sudah disahkan oleh konstitusi, maka Anies akan berusaha untuk menjalankan.

Yang kedua pernyataan Partai Nasdem dimana Anies adalah sosok yang taat konstitusi, tidak akan mungkin Anies akan menjegal proyek IKN. Setidaknya ini menegaskan bahwa Anies adalah sosok yang tidak seperti dicitrakan oleh lawan lawan politiknya.

Ketiga pernyataan Ketua Projo, Budi Arie sebagaimana yang dimuat oleh Merdeka.com, bahwa Ponsel Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi tiba-tiba berdering. Di layar tertera tanda sebuah pesan masuk. Pesan itu datang dari orang dekat Anies Baswedan. Informasi tersebut cukup membuatnya kaget.

Sumber merdeka.com di lingkaran relawan Jokowi mengungkapkan, tujuan orang dekat Anies itu menghubungi Budi Arie adalah untuk meminta bertemu. Sayangnya, rencana tersebut bertepuk sebelah tangan.

Setelah mendapat tiket maju Pilpres dari Koalisi Perubahan, Anies memang intens melakukan safari politik. Mulai dari masyarakat hingga relawan. Salah satu yang ditarget adalah Projo, basis relawan terbesar dari pendukung Jokowi.

Mendapat pesan dari Anies, petinggi Projo buru-buru lapor ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mereka tidak diperkenankan bertemu Anies.

“Anies Baswedan mau ketemu, enggak boleh sama Pak Jokowi,” kata sumber ketika berbincang dengan merdeka.com.

Sumber ini mengatakan, kepala negara merasa perbincangan empat mata dengan kubu Anies tak perlu dilakukan. Jokowi lantas berpesan, bila Anies harus menemui dirinya, bukan Projo. Budi Arie menolak memberikan komentar ketika ditanya ihwal rencana Anies tersebut.

“Enggak usah kasih, enggak perlu’. Langsung ke saya (Jokowi ngomong),” ucap sumber tersebut.

Keempat adalah pernyataan Hasto, Sekjend PDIP yang mensinyalir ada kekuatan besar yang akan menggagalkan pemilu dengan berlindung dibalik putusan PN Jakarta.

Hasto mengatakan bahwa mengatakan sebagai partai yang taat konstitusi dan memperjuangkan demokrasi, PDIP pasti akan melawan upaya – upaya non konstitusional yang akan menggagalkan pemilu 2024.

Setidaknya dari sebaran isu itu bisa dipilah menjadi beberapa kepentingan diantaranya adalah pada upaya melawan kekuatan besar penghadang pemilu bertemu kepentingan Anies, Koalisi Perubahan dan PDIP. Pada isu menghadang Anies, maka akan bertemu Koalisi Pemerintahan, PDIP dan KIB. Sedang pada isu terjaminnya proyek proyek pemerintah dan masa depan presiden paska tidak menjabat, bertemu kepentingan Jokowi , Anies dan Koalisi Perubahan.

Lalu penjelasannya seperti apa, titik temu kepentingan itu seperti apa, kekuatan besar dibalik itu adalah siapa? Mengapa Anies dihadang? Semoga akan saya urai dalam tulisan berikutnya berdasar sumber sumber terpercaya yang sudah saya dapat.

Dinamisasi kepentingan dan keterjaminan akan menjadi titik temu persimpangan kutub kutub yang selama ini dianggap berseberangan. Sehingga tak bisa memahami dinamisasi itu dari apa yang nampak, ada banyak hal yang tidak nampak yang akan membuat kejutan – kejutan. Sehingga agar anda tak gampang sakit apalagi stroke karena marah dan terkejut karena melihat segala sesuatunya tak sesuai dengan harapan Anda, ada baiknya berdendang menyanyikan lagunya Ariel Noah Tak Ada Yang Abadi.

Surabaya, 5 Maret 2023

Editor: DAD

IKN Titik Pertemuan Anies dengan Jokowi?

KEMPALAN: Benarkah Anies itu orang yang gak bisa diajak kerjasama? Benarkah Anies itu antitesa dari pemerintahan Jokowi? Atau benarkah Anies akan merubah semua apa yang sudah dilakukan oleh pemerintahan Jokowi?

Untuk menjawab itu tidak bisa kita hanya melakukan dengan asumsi apalagi dugaan dugaan yang selama ini ada dan dikembangkan, jangan – jangan hanya karena mereka selama ini sudah menikmati menjarah kekayaan negara dan berlindung dibalik pemerintahan Jokowi, lalu menggunakan seluruh sumber dayanya untuk menjegal Anies, yang memang tidak sepaham dengan cara cara kotor mereka mengelola negara.

Jokowi sangat berkepentingan dengan siapapun kelak yang akan meneruskan suksesi kepemimpinannya, termasuk dengan Anies Baswedan.

Lalu apa kepentingan Jokowi sebagai kepala negara? Tentu terjaminnya keberlanjutan program program pemerintah yang sudah dicanangkan dan yang sedang dijalankan. Salah satu yang menjadi proyek ambisiusnya adalah pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan.

Pandemi Covid 19 telah membuyarkan semua apa yang menjadi impian dan rencana Jokowi memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan. Seluruh rencana anggaran dan pelaksanaan program terpaksa harus dialihkan untuk penanganan Covid, padahal Jokowi berharap tahun 2023 akan menjadi landasan memastikan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan infrastruktur.

Bahkan untuk melegitimasi pemindahan ibu kota negara tersebut, Jokowi menggunakan legitimasi Bung Karno, bahwa pemindahan IKN ini bukan keinginannya, ini sebagaimana amanah Bung Karno.

Terlepas bahwa ini keinginan siapa, tapi wacana pemindahan IKN memang bukanlah sesuatu yang baru, ini hanya berkaitan dengan momentum saja. Hanya perbedaan memandang momentum inilah yang kini menjadi persoalan. Diolah oleh mereka yang mempunyai kepentingan, menghadapkan figur Anies dengan non Anies dengan cara cara tak bermartabat, menyebarkan isu intoleran, antitesa dan sederet fitnah yang merajalela.

Bahkan juga demi ambisi itu, menghalalkan segala cara, mengangkangi demokrasi, mewacanakan isu tiga periode, pemunduran pemilu dengan alasan pemilihan ekonomi dan sederet alasan yang ujungnya adalah pemindahan IKN harus mendapatkan jaminan tetap berjalan, karena proyek ini sudah melibatkan kekuatan modal yang harus dijamin keberlangsungannya.

Anies dengan jargon change and continuity adalah sosok yang menghargai dan menghormati, Anies adalah sosok kolaborasi bukan sosok yang gemar polarisasi. Sehingga memposisikan Anies sebagai sosok oposisi yang tak mau kerjasama adalah upaya naif dan berniat memecah belah bangsa.

Mempertemukan kolaborasi itulah yang kini sedang diupayakan melalui sinyal – sinyal yang dikirim oleh PKS, NasDem dan Demokrat dalam mempertemukan itu.

Sehingga kalau bicara komitmen menyelamatkan negara dari keterbelahan, upaya mengkolaborisakan kekuatan untuk mengantarkan negara hadir sebagai amanah konstitusi, nampaknya PKS, Nasdem dan Demokrat, terlihat berada pada posisi terdepan, dibanding dengan mereka yang mengatakan paling Pancasilais dan paling nasionalis, tapi nyatanya tak memahami makna kolaborasi dan demokrasi. (*)

Surabaya, 27 Februari 2023

Editor: DAD

Ayo Bung Karno …. Kita Bikin Persetujuan!

KEMPALAN: Nampaknya puisi karya Chairil Anwar ini sangat tepat menggambarkan suasana kebangsaan yang sedang terjadi.

Ayo! Bung Karno, kasih tangan, mari kita bikin janji, aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang di atas apimu, digarami lautmu dari mulai tanggal 17 Agustus 1945.

Aku melangkah kedepan berada rapat di sisimu, Aku sekarang api, aku sekarang laut, Bung Karno! Kau dan aku satu zat, satu urat. Di zat mu, di zat ku kapal kapal kita berlayar, di urat mu, di urat ku, kapal – kapal kita bertolak dan berlabuh.

Chairil sebagai representasi golongan muda, berharap kepada Soekarno, semangat yang dimiliki tidak berhenti pada dirinya, tapi juga menyatu bersama semangatnya masyarakat Indonesia mengawal api revolusi Indonesia.

Lalu apa itu api revolusi Indonesia? Tentu saja sebuah semangat menghadirkan janji konstitusi sebagaimana amanat UUD 1945 dan Pancasila. yang diawali dengan janji Proklamasi.

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Ada semangat Merdeka, semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia, bersatu, adil dan makmur serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Narasi – narasi seperti diatas menjadi suatu narasi yang ikonik yang secara kebetulan dibawah oleh Anies Baswedan dalam membawa isu perubahan. Sekali lagi perubahan bukan hanya sekedar pergantian. Pergantian yang membawa perubahan, sebagaimana semangat yang disuarakan oleh Iwan Fals saat ini dan rakyat Indonesia.

Lalu seandainya Bung Karno harus membuat perjanjian mengawal api revolusi dan perubahan menghadirkan amanah konstitusi serta semangat proklamasi kepada rakyat Indonesia, dengan siapa Bung Karno harus membuat perjanjian?

Setidaknya ada nama – nama yang selama ini muncul dengan klaim klaim Soekarnois, namun kadang nilai – nilai yang dibawah adalah nilai – nilai yang justru melakukan pembusukan terhadap nilai – nilai tersebut, dan ada juga mereka yang tak sok menyebut dirinya Soekarnois, namun tindak tanduk dan perilakunya dalam berbangsa dan bernegara justru membawa api revolusi yang dikumandangkan oleh Soekarno.

Klaim paling Soekarnois bisa kita lihat dari mereka yang menyebut dirinya sebagai kader PDIP, seperti Hasto, Puan Maharani, Masinton, Jokowi, Ganjar dan lain. Setidaknya dari mereka ini, bisa disebut ada dua jenis kader, kader ideologis dan kader biologis. Namun benarkah? Biarlah sejarah akan mengukur dan mencatat jejak mereka.

Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani adalah jelas merupakan kader biologis dan ideologis Bung Karno, tapi apakah yang lain ya juga bisa dikatakan juga kader ideologis?

Cara mengukurnya sederhana. Kader biologis adalah mereka yang secara langsung punya kaitan darah dengan Bung Karno, sehingga kader biologis hanya mereka yang termasuk dalam trah Soekarno.

Kader ideologis adalah kader yang diharapkan mampu menyerap nilai – nilai ideologis yang dibawah dan disemai oleh Bung Karno, nilai – nilai keberpihakan terhadap rakyat, melawan ketidak adilan, nilai persatuan, nilai perdamaian dan nilai – nilai kemanusiaan. Itulah sejatinya semangat marhaen yang diyakini oleh Soekarno.

Dinamika pilpres 2024 ternyata mampu membuka “kedok” siapakah sebenarnya kader ideologis yang sebenarnya dan siapa yang hanya memanfaatkan klaim Soekarnois untuk kepentingannya.

Klaim Hasto yang akan menutup pintu kerjasama membangun negara dengan partai yang mengusung Anies, adalah sebuah pernyataan yang naif dan merendahkan api revolusi Soekarno. Bagaimana Bung Karno melakukan upaya – upaya bersama melahirkan Proklamasi dan UUD 1945.Ada semangat bersama para pendiri bangsa. Duduk dengan semangat menghadirkan kemerdekaan dan kesejahteraan, persatuan dan keadilan, mencari titik persamaan, bukan mempertajam perbedaan.

Klaim – klaim saya Indonesia, Saya Pancasila yang justru dalam prakteknya banyak merongrong kehidupan bangsa, memecah belah, anti kritik, otoriter, korupsi, berpijak kepada oligarki, merasa paling benar, adalah sederet praktek kotor bernegara yang mencederai api revolusi Indonesia.

Megawati, Puan, Yeni Wahid dan Anies Baswedan, adalah mereka anak – anak ideologis dan biologis semangat api revolusi Indonesia yang dibawah oleh leluhurnya masing – masing. Megawati dan Puan adalah keturunan darah biologis Soekarno. Yenny Wahid keturunan dari KH Hasyim Asyari dan Gus Dur, sedang Anies Baswedan keturunan dari AR Baswedan, sejawat Bung Karno ketika mencari dukungan kemerdekaan RI ke negara negara Timur Tengah. Secara biologis jelas mereka ada keterkaitan langsung dengan Bung Karno, secara ideologis juga jelas keberpihakannya kepada rakyat kecil dan semangat menghadirkan semangat amanah konstitusi, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sehingga kalau harus dilakukan perjanjian dengan Bung Karno, kemana arah bangsa ini dititipkan, hanya akan bisa dijaga oleh mereka yang secara langsung bisa memahami semangat api revolusi tersebut.

Ada banyak nama – nama semangat perubahan yang saat ini muncul sebagai representasi perubahan dan semangat api revolusi, meski tidak secara biologis, namun secara ideologis sangat menjiwai.

Sebut saja Puan Maharani, Yenny Wahid, AHY, dan Anies Baswedan. Nama – nama ini sering muncul di publik menjadi calon pemimpin masa depan.

Nama Ganjar yang diawal digadang, kini semakin tenggelam, setelah munculnya kasus Wadas, ditambah lagi upaya istana memaksakan Ganjar, semakin membuat Ganjar terstigma sebagai calon yang akan melindungi oligarki.

Kalau toh harus membuat perjanjian dengan Bung Karno, nampaknya Bung Karno bisa tersenyum dan berharap kepada nama – nama Puan, Yenny Wahid, AHY dan Anies Baswedan.

Tentu saja kalau harus melihat rekam jejak pelaksanaan api revolusi Indonesia, Bung Karno akan tersenyum melihat jejak Anies di Jakarta. Jejak sejarah yang tak bisa diingkari, jejak sejarah yang sebenarnya, jejak sejarah yang mampu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dinamika Pilpres 2024, akan terus berlangsung, Megawati dengan naluri seorang ibu, kader ideologis dan biologis tentu akan sangat peka dan merasakan siapa yang layak menjadi penerus cita – cita api revolusi itu, bukan tidak mungkin Megawati akan melakukan manufer kenegarawanan bersama Koalisi Perubahan mengusung Anies untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga!

Surabaya, 25 Februari 2023

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.