Rabu, 22 April 2026, pukul : 13:36 WIB
Surabaya
--°C

Pahami Sejarah Agar Bisa Memahami Anies

KEMPALAN: ANIES mungkin sosok yang paling banyak diperbincangkan hari hari ini. Perbincangan seputar Anies tentu akan berkisar pada dua polarisasi, membenci Anies dan memujinya.

Bagi pembenci Anies, tentu akan memproduksi narasi – narasi yang bohong dan ahistoris, karena yang dilakukan adalah menutup fakta atau memanipulasi fakta dengan fakta – fakta lain yang dibumbui dengan fitnah. Bagi mereka Anies tak ada benarnya.

Sebaliknya bagi pecinta Anies, tentu akan berusaha mencari narasi narasi kebaikan yang dilakukan oleh Anies, sekecil apapun atau bahkan sesalah apapun, Anies akan dianggap benar dan dibela habis – habisan.

Terlepas benar atau salah, tapi kita perlu tahu siapa Anies sebenarnya. Sehingga kita bisa menempatkan diri dalam posisi yang baik dan benar terhadap Anies.

Anies itu seperti Puan Maharani dan Yenny Wahid. Mereka bertiga adalah cucu Pahlawan Nasional Indonesia. Artinya bahwa ketiganya adalah cucu dari orang – orang yang pernah berjasa kepada negeri ini. Kakek Puan adalah Ir Soekarno, Proklamator dan presiden pertama RI. Ayah Yenny, Abdurrahman Wahid dan Kakeknya KH Hasyim Asyari, adalah Presiden dan pejuang kemerdekaan yang melahirkan resolusi jihad. Begitu juga dengan Anies Baswedan, Kakeknya yang lahir di Ampel Gading Surabaya, Abdurrahman Baswedan, juga seorang Pahlawan Nasional yang membantu Bung Karno meminta dukungan kemerdekaan ke Timur Tengah dan liga – liga bangsa Arab.

Semasa mahasiswa, Anies dikenal sebagai aktivis pro demokrasi, dia berjuang melawan tirani orde Baru dan bahkan ketika terjadi pembredelan majalah tempo dan detik, Anies memimpin demontrasi penentangan.

Sebagaimana Puan Maharani, Yenny Wahid, Anies termasuk putra – putri terbaik bangsa saat ini yang masuk radar sebagai calon pemimpin Nasional, ketiganya masuk dalam kategori calon presiden dan wakil presiden tahun 2024.

Lalu apa yang salah dari Anies, kok Anies yang selalu dimusuhi dan dihujat serta dituduh dengan fitnah – fitnah keji yang tak terbukti. Padahal jujur harus diakui Anies adalah orang yang pernah berjasa mengantarkan Jokowi menjadi Presiden di 2014. Saat itu Anies bahkan menjadi garda depan pemenangan Jokowi.

Ketidakpahaman sejarahlah yang menyebabkan banyak orang salah melihat Anies. Mereka yang tak paham sejarah Anies, biasanya mereka yang memang sejak awal tidak bersepakat dengan Anies. Banyak faktor yang menyebabkan, misalkan dendam masa lalu akibat kekalahan pilgub DKI 2017.

Dendam masa lalunya dicarikan narasi pembenar dengan isu isu murahan dan kebohongan, sehingga kehilangan akar sejarah dan akal sehatnya.

Dimulailah tuduhan politik identitas, politik ayat dan mayat, intoleran dan radikal serta narasi narasi sesat lainnya.

Apakah Anies seperti itu? Jakarta adalah saksi atas ketidakbenaran semua itu.

Sebagai seorang cucu Pahlawan Nasional, Anies merasakan adanya keterpanggilan atas kondisi bangsa yang terjadi, hal yang sama juga mungkin dirasakan oleh Puan Maharani dan Yenny Wahid. Mereka terpanggil untuk hadir menjadi bagian menyelesaikan persoalan bangsa.

Narasi Anies ketika memimpin Jakarta adalah menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta, lalu ia wujudkan dalam program keberpihakannya kepada rakyat, adakah yang salah dari itu?

Begitu juga ketika Anies dicalonkan oleh Partai Nasdem, Demokrat dan PKS dalam Koalisi Perubahan, narasi – narasi yang dibangunpun adalah narasi narasi yang menjadi cita cita para pendiri bangsa sebagaimana yang tertuang didalam UUD 1945 dan pembukaannya serta nilai – nilai yang terkandung didalam Pancasila. Keadilan sosial, perdamaian, kesejahteraan dan ikut melaksanakan ketertiban. Lalu adakah yang salah dari narasi itu? Tentu tidak, kecuali memang kita tidak bersepakat dengan UUD 1945 dan Pancasila.

Bagaiamana Anies menyikapi itu semua? Anies adalah pribadi yang terbuka, santun, komitmen dan berintegritas. Anies tak pernah peduli dengan tuduhan – tuduhan itu. Bagi Anies menjawab tuduhan itu tidak dengan kata – kata, tuduhan itu harus dijawab dengan karya. Sebuah pribadi fokus berbuat nyata daripada hanya beretorika.

Karya – karya Anies yang nyata itulah yang semakin membuat mereka yang tidak sepaham semakin murka.

Karya nyata itulah yang kemudian membuat Anies dielu elukan rakyat Jakarta, dan kini Anies juga dielu-elukan oleh rakyat Indonesia.

Memahami Anies dan sepak terjangnya, setidaknya akan membuat kita lebih bijak menempatkan Anies dimata kita, dibanding kita hanya marah – marah dan mengumbar angkara.

Anies hadir dengan narasi narasi keadilan, kesejahteraan, perdamaian, toleransi dan keberpihakan, itu semua tertuang didalam pembukaan UUD 1945 dan Pancasila, sehingga kalau itu harus dimusuhi, maka hanya mereka yang memang punya agenda lain diluar UUD 1945 dan Pancasila. (*)

Surabaya, 21 Februari 2023

Editor: DAD

Partai NasDem Meminta Pemkot Surabaya Lindungi Rumah Pahlawan Nasional AR Baswedan

SURABAYA-KEMPALAN: Nama Abdurrahman Baswedan adalah nama yang tidak asing bagi telinga kita sebagai bangsa yang mencintai para pahlawan.

Tapi tahukah bahwa Abdurrahman Baswedan adalah Pahlawan Nasional yang dilahirkan di Surabaya, Kampung Ampel Gading.

Sebagai kota Pahlawan, tentu Surabaya akan bangga bahwa telah ditemukan dokumentasi Pahlawan Nasional AR Baswedan yang lahir di Surabaya.

Berdasarkan penelusuran dokumen yang dihimpun yayasan Idayu – Jakarta, Kompas, 9 September 1980, AR Baswedan, kakek Anies Baswedan, adalah bayi kecil yang lahir di kampung Ampel Gading.

Semasa muda Abdurrahman Baswedan telah menyadari bahwa di bumi Indonesialah ia berpijak, oleh karena itulah ia bersama kaumnya menetapkan pendirian melepaskan tanah leluhur dan mengakui senasib dan sepenanggungan dengan bangsa Indonesia.

Tahun 1946 sampai tahun1947, ia menyandang sebagai menteri muda penerangan.

Suatu saat datang urusan dari Liga Arab yang berkedudukan di Kairo. Liga Arab bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia, tapi harus dikirim delegasi Indonesia ke Kairo.

Bulan Maret 1947, delegasi dikirim terdiri dari Menmud Penerangan Abdurrahman Baswedan, Menlu Haji Agus Salim, Sekjend Departemen Agama, Prasudi, dan Jendral Abdul Kadir serta Pamuncak.

Tanggal 10 Juni 1947, perjanjian ditandatangani, dan itu menjadi pengakuan pertama kali dari negara luar terhadap kemerdekaan Indonesia.

Menyadari hal itu, Warsito, wakil ketua Bidang Penggerak dan Penggalang Komunitas DPW NasDem Jatim meminta kepada Pemkot Surabaya untuk memastikan dan menelusuri kembali dan menjadikan rumah ini rumah membangun kesadaran pergerakan dan kecintaan terhadap Indonesia dan para pahlawannya.

“Bagi saya, Terdokumentasinya kembali Pahlawan Nasional yang lahir di Surabaya, seperti Pak Abdurrahman Baswedan ini, akan menguatkan kesan bahwa Surabaya adalah kota Pahlawan dan merawat jiwa kepahlawanan”, Ujar Cak War, panggilan akrabnya.

” Semoga saja nanti kawan – kawan fraksi Nasdem di Kota Surabaya, bisa saling berkoordinasi dan melengkapi dalam memastikan terawatnya monumen – monumen sejarah seperti ini untuk pembelajaran generasi muda Surabaya “, imbuhnya. (*)

Editor: DAD

Megawati Bikin Ganjar dan Jokowi Frustasi?

KEMPALAN: SIKAP Megawati yang belum kunjung umumkan siapa bakal calon presiden yang diusung, membuat gelombang di wilayah Jokowi semakin tak terarah.

Megawati menunjukkan kelasnya sebagai politisi berpengalaman, digdaya dan berwibawah. Dengan kekuatannya sebagai ketua umum PDIP yang mendapat mandat penuh untuk menentukan siapa capres dan cawapres yang akan diusung, sampai saat ini beliau masih bergeming belum menentukan siapa yang akan diusung.

Namun kalau dicermati, sikap Megawati tak seratus persen diam, Megawati justru membuat langkah – langkah jitu memberi sinyal kepada siapa rekomendasi capres dan cawapres akan disematkan.

Dalam beberapa kesempatan, Megawati mengutus Puan untuk melakukan safari politik bertemu para pimpinan partai, sebuah sikap yang diametral dengan apa yang dilakukan oleh Ganjar dan Jokowi.

Ganjar dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Jateng, tapi langkahnya sangat luar biasa melakukan kunjungan kebeberapa daerah di Indonesia, entah dia sebagai apa, tapi yang jelas apapun dia lakukan agar keberadaannya jelas seolah ada dan diterim oleh bangsa Indonesia.

Bahkan nama Ganjar menjadi nama “kesayangan” lembaga – lembaga survei untuk selalu ada diposisi tiga besar, tetapi tidak pernah nomor tiga. Nama Ganjar, Prabowo dan Anies, atau Prabowo, Ganjar dan Anies selalu urutannya seperti itu. Tapi sudah biarlah, meski realitasnya tak seperti itu.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Jokowi. Dalam kapasitasnya sebagai presiden, Jokowi seringkali “offside” dalam memilih sikap keberpihakan kepada calon. Jokowi seringkali menempatkan dirinya sebagai politisi, bukan presiden atau negarawanan yang harus netral dan “wellcome” kepada siapapun kelak akan meneruskan suksesi kepemimpinannya. Sehingga dalam banyak hal berkaitan dengan capres Jokowi memihak kepada beberapa calon dan memusuhi calon yang lain. Sebuah sikap yang jauh dari negarawan.

Sikap Megawati yang masih belum menentukan sikap tentang siapa yang akan diusung, lalu munculnya fonomena “Aniestetic”, Anies menjadi idola dan harapan baru masyarakat Indonesia, sebagaimana yang pernah terjadi pada SBY 2003 dan Jokowi 2014, inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya tsunami sikap pada Jokowi dan Ganjar.

Ganjar adalah calon yang memang digadang – gadang oleh Jokowi, namun Jokowi bukanlah pemilik otoritas di partai. Jokowi hanya petugas partai. Sehingga Jokowi tak punya kewenangan untuk menentukan.

Ganjar adalah calon yang memang digadang – gadang oleh Jokowi, namun Jokowi bukanlah pemilik otoritas di partai. Jokowi hanya petugas partai. Sehingga Jokowi tak punya kewenangan untuk menentukan. Yang bisa dilakukan oleh Jokowi hanyalah memberi sinyal – sinyal untuk mempengaruhi partai dan gimic gimic keberpihakan.

Meski Ganjar dan Jokowi melakukan selebarasi politik untuk mengambil momentum pencapresan, namun sayangnya partai politik tak selalu seiring sejalan dengan kemauan Jokowi. Partai NasDem yang berada didalam Koalisi Pemrintah justru memilih sikap untuk melanjutkan suksesi dengan perubahan dan keberlanjutan. Sebuah sikap bagaimana melihat masa depan Indonesia yang lebih baik, adik dan sejahtera.

KIB, gabungan Partai Golkar, PAN dan PPP, yang merupakan koalisi gabungan partai pendukung pemerintah, juga belum memberi sinyal dukungan kepada Ganjar, bahkan Airlangga Hartarto, ketua Golkar, menegaskan bahwa capres dari Golkar adalah dirinya. Sebuah sikap wajar dari ketua umum partai.

Apalagi Gerindra dan PKB yang membentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya ( KKIR) memasang harga mati, Prabowo – Muhaimin Iskandar. Tentu ini menjadi sulit bagi Jokowi untuk “menitipkan” Ganjar.

Pintu – pintu Ganjar semakin meredup, apalagi ditambah sikap Ganjar yang mulai menampakkan gejala kehati hatian dan kecemasan. Namun sayangnya Ganjar mengalami “blunder” ketika mengintimidasi media, sebuah sikap yang jauh dari sikap Ganjar yang selama ini tampakkan begitu dekat dengan media. Paska itu, serangan terhadap Ganjar tak henti, Noel yang selama ini secara terbuka mendukung Ganjar, justru secara terbuka membubarkan Jokman yang dipimpinnya, dan berbalik mendukung Prabowo dan memuji sikap Anies yang justru lebih berintegritas dan berpihak pada rakyat.

Apa yang dilakukan oleh Noel sejatinya masih linier dengan kemauan Jokowi, karena Jokowi juga berharap Prabowo adalah orang yang bisa “dititipi” masa depannya bersama kroni kroninya.

Apa yang dilakukan oleh Noel sejatinya masih linier dengan kemauan Jokowi, disinilah Noel mampu menunjukkan loyalitasnya kepada Jokowi, bukan seperti mereka gang buzzer yang hanya menjilat saja. Noel mampu memerankan perannya secara baik dalam orkestrasi transisi kepemimpinan yang elegan. Mendukung Prabowo, memuji Anies.

Namun sayangnya orkestra cantik Noel tak diimbangi oleh selebarasi apik Jokowi. Jokowi justru menampilkan dirinya sebagai sosok yang masih digdaya, pernyataan Jokowi dalam peringatan harlah PPP yang ke 50, justru menampakkan justru semakin menjadikan Jokowi terpuruk dan mendapatkan antipati publik. Pernyataan yang sarat dengan memecah belah dan membedakan.

Jokowi lupa bahwa dalam politik berlaku adagium tidak ada kawan yang abadi, yang ada kepentingan. Ditengah semakin dekatnya perhelatan pilpres maka kepentingan – kepentingan yang akan mengedepan. Kepentingan itu bisa kepentingan kekuasaan dan kepentingan kenegaraan untuk kesejahteraan rakyat dan masa depan Indonesia.

Nah bila kedua kepentingan itu tak bisa dipenuhi olehnya, pastilah Jokowi akan ditinggalkan.

Sikap Jokowi yang memainkan peran antagonis seolah digdaya, memainkan isu tiga periode dan hal hal lain yang justru membahayakan proses demokrasi dan suasana kehidupan berbangsa seharusnya bisa ditahan terlebih dahulu. Apalagi PDIP juga tegas melawan isu tiga periode dan tetap bergeming dengan siapa calon yang akan diusung.

Sikap Megawati dan PDIP yang seperti inilah yang membuat Ganjar dan Jokowi harus balik kanan dan menahan diri dulu.

Kita berharap Jokowi menjadi mentor bangsa dipenghujung masa kepemimpinannya.

Kita nggak tahu suasana kebatinan seperti apa yang sedang terjadi pada Ganjar dan Jokowi, namun sikap itu bisa dibaca bahwa apa yang dilakukan oleh Jokowi dan Ganjar akhir akhir ini lebih menunjukkan adanya sikap cemas, panik dan frustasi. Semoga saja tidak!

Kita doakan Jokowi husnul khotimah diakhir periodenya. (*)

Editor: DAD

Magnet Anies

KEMPALAN: Meski tak lagi menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta lagi, Anies boleh dibilang tak kehilangan ruang ekspresi. Bahkan popularitas dan elektabilitas Anies semakin moncer.

Dukungan kepada Anies juga tak henti – hentinya mengalir, yang terbaru dukungan dari partai pendatang baru, Partai Ummat, besutan Amien Rais, lokomotif reformasi.

Amien dengan heroiknya bersama pimpinan Partai Ummat, Ridho Illahi, menegaskan bahwa Anies adalah capres presiden potensial untuk Indonesia kedepan, presiden yang akan mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan mempersatukan.

“InsyaAllah di hari pencoblosan 14 Febuari 2024 nanti nama Pak Anies akan terpilih menjadi Presiden RI,” kata Ridho.

Ia mengatakan, seluruh kader partai politik (parpol) besutan Amien Rais itu sudah siap berjuang memenangkan Anies di pesta demokrasi nanti.

“Kemudian saya sampaikan Insya Allah mesin-mesin ini sudah panas. Jadi mesin ini tidak hanya panas tapi siap berjuang,” Tegas Amien.

Apa yang dilakukan oleh Partai Ummat, menyusul dari apa yang sudah dilakukan oleh partai – partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan, yaitu Partai Nasdem, Demokrat dan PKS yang secara resmi sudah mengumumkan bahwa Anies adalah calon presidennya.

Tidak ada yang luar biasa memang dari pencalonan Anies ini, tapi ini menunjukkan bahwa faktor Anies adalah variabel penting yang sangat bisa diharapkan untuk menyelamatkan Indonesia.

Lalu apa saja tantangan Indonesia kedepan? Berbagai perbincangan menyebutkan bahwa bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang akan menjadikan Indonesia bangsa yang rapuh, misalnya investasi china yang ugal-ugalan, hutang yang semakin menggila, masuknya tenaga asing China yang tak terkendali yang berpotensi terjadinya konflik seperti di Morowali, kuasa oligarki yang merajalela, hilangnya rasa keadilan dan persatuan dan banyak lagi potensi yang menyebabkan bangsa ini menjadi bangsa yang terpuruk.

Anies menjadi magnet perubahan, jejak Anies menjadi daya tarik yang luar biasa bagi semua, tidak hanya Partai tapi juga seluruh rakyat Indonesia yang mengharapkan Indonesia menjadi negara yang adil, makmur dan mensejahterakan.

Daya magis dan magnet Anies inilah yang kini juga membuat konstelasi politik menjadi dinamis dan berubah – ubah. Anies menjadi instrumen ukur penting bagi pilihan politik kedepan. Apakah bersama atau berhadapan.

Pilihan itulah yang kini nampak dilakukan oleh berbagai Partai politik dan para politisi. Sebagai contoh, pencapresan Anies, justru membuat Hasto, Sekjend PDIP melemparkan reaksi berlebih, yang mendesak Jokowi untuk me resuffle menteri – menteri Nasdem, untuk berkoalisi dengan Nasdem, Hasto menunggu kode – kode Surya Paloh, upaya pertemuan LBP dengan Surya Paloh, pemanggilan Surya Paloh ke istana oleh Jokowi dan banyak hal yang mengindikasikan bahwa Anies menjadi faktor penting didalam konstelasi perpolitikan saat ini.

Beralihnya dukungan para Ganjaris ke Prabowo, masih belum jelasnya sikap PDIP terhadap capres yang diusung membuat peta politik pun berubah secara cepat. Koalisi Indonesia Raya antara Gerindra dan PKB, juga terancam bubar, karena tak menemukan chemistry yang kuat dan tepat. Lalu manufer Cak Imin ketua PKB yang melemparkan wacana berkoalisi dengan KIB yang sampai saat ini masih menunggu arahan istana siapa capres yang akan diusung.

Sikap hati – hati Megawati yang sampai saat ini belum menentukan siapa capres yang akan diusung mengindikasikan bahwa PDIP berada dalam dilema transisi kekuasaan, antara kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan didalam Partai PDIP sendiri. Bagi Megawati, PDIP sebagai Partai pemenang pemilu 2019, harus mampu menjaga kemenangannya kembali. Akan menjadi faktor penting bila PDIP akan tetap menang dan berkuasa dan PDIP tetap berada didalam kendali trah Soekarno.

Namun sayangnya itu sangat sulit terjadi, karena pengaruh Jokowi semakin meredup seiring dengan masa perjalanan menuju pelaksanaan pilpres 2024. Sudah jamak dalam politik, presiden menjelang masa berakhirnya akan mengalami post power sindrom dan akan ditinggalkan oleh koalisinya. Tanda tanda ini sudah nampak pada diri Jokowi, dukungan Nasdem kepada Anies, bubarnya Jokowi Mania dan upaya upaya Jokowi menghadang Anies tapi nyatanya belum berhasil, ini mengindikasikan bahwa pengaruh Jokowi juga semakin melemah.

Ketidak mampuan Jokowi mengelola isu dengan komunikasi komunikasi yang standar membuat publik kehilangan kepercayaan, ditambah lagi perilaku para pembantunya yang dianggap menjerumuskan Jokowi, membuat Jokowi semakin berada dalam posisi yang sulit. Misalkan yang dilakukan oleh Eric Tohir menambah hutang untuk proyek kereta api cepat Jakarta – Bandung.

Ganjar yang diharapkan menjadi penerus Jokowi, kini juga sudah banyak ditinggalkan oleh pendukungnya bahkan Noel yang awal awal tegas mendukung Ganjar, secara terang – terangan membubarkan dukungannya dan melakukan perlawanan secara terbuka. Tentu ini menjadi tamparan kepada Ganjar.

Bahkan sikap Ganjar kepada awak media yang diskriminatif, membuat citra diri Ganjar jatuh, Ganjar dianggap arogan dan selama ini hanya pencitraan.

Kalau sudah begini kemana harapan akan dilabuhkan? Dalam politik berlaku adagium menang atau ikut menang. Apalagi partai-partai yang belum punya pengalaman sebagai Partai oposisi.

Menguatnya magnet Anies akan menjadi faktor penting bahwa Anies akan menjadi titik temu berbagai macam kompromi dan kepentingan untuk menyelamatkan Indonesia.

Sambil melihat dan membaca gimic – gimic politisi yang berseliweran, ada baiknya rakyat tak terlalu terbawa perasaannya, apalagi sampai bermusuhan sebagai anak bangsa, rakyat harus tetap cerdas dan bijak mengawal dan menentukan siapa presiden pilihannya. Jangan mudah percaya dengan hasil hasil survey yang saat ini sudah sangat sulit dipercaya kredibilitasnya, apalagi dari hasil memberi sesuatu dan meminta sesuatu.

Rakyat harus cerdas melihat rekam jejak siapa capres yang memihak rakyat dan siapa yang seolah olah. Anies telah membuktikan rekam jejaknya di Jakarta. (*)

Editor: DAD

Anies Sambang Dulur ke Surabaya

KEMPALAN: ANIES ke Surabaya itu hal yang lumrah, karena memang kakek Anies lahir dan tinggal di Surabaya. Sebagaimana para presiden kalau berkunjung ke daerah asalnya, ini harus dipahami sebagai anak anak yang pulang ke kampung halamannya. Jokowi kalau ke Solo meski dalam rangka kunjungan kerja, maka dia dipahami sebagai anak yang pulang ke kampung halamannya. Bung Karno, Megawati atau Puan Maharani kalau ke Surabaya harus dipahami sebagai orang yang pulang ke kampung halamannya. Hal yang sama bila dilakukan oleh Pak SBY atau AHY, kalau ke Pacitan harus dipahami sebagai pulang kampung, karena di kampung halaman itulah pernah mengalir darah leluhurnya.

Kakek Anies adalah orang yang lahir di Surabaya, tepatnya di Ampel Gading. Ampel adalah daerah yang dikenal sebagai kawasan religi, tempat bersemayam wali keramat, Sunan Ampel. Kawasan Ampel adalah kawasan yang menggambarkan sebuah kawasan plural dan menyatu dengan kehidupan warga lainnya.

AR Baswedan, adalah pendiri Partai Arab Indonesia, karena kecintaannya terhadap Indonesia, bersama Bung Karno dan para pejuang kemerdekaan lainnya, dia berjuang secara diplomasi meminta dukungan kepada negara negara Timur Tengah agar mengakui kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan tahun 1945, sebagai menteri muda penerangan, tahun 1947 bersama menteri luar negeri KH Agus Salim berkunjung ke Kairo, Mesir, mereka berdiplomasi agar dunia internasional mengakui kemerdekaan Indonesia.

Semasa Orde Baru, AR Baswedan, karena situasi politik yang tidak memungkinkan, Beliau memilih bergerak di jalur budaya dengan mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam Jogjakarta, yang menjadi pelindung teater muslim.

Seniman Jogjakarta seperti Arifin C Noer, Abdurrahman Saleh, Taufiq Efendi dan Cahirul Umam adalah sahabat sahabatnya. AR Baswedan juga ikut membantu WS Rendra ketika mementaskan Kasidah Barzanzi. “Rumahnya terbuka untuk semua orang, dia seperti orang tua kami”, kata Syu’ban Asa yang ketika itu aktif berteater di Jogjakarta.

Dipenghujung hidupnya, AR Baswedan bersahabat dengan Romo Mangunwijaya. Sering mereka berdiskusi masalah – masalah sosial dan korupsi, serta perang Irak – Iran, Palestina – Israel dan lain lain. Ketika beliau wafat Romo Mangun juga sempat berrakziah.

Darah AR Baswedan adalah darah relejius yang nasionalis, juga sangat pluralis, menghargai perbedaan dan saling menghormati, tak heran kawan – kawannya juga berasal dari berbagai kalangan dan golongan. Abdurrahman Shihab, ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab adalah kawan seperjuangannya semasa aktif di partai Masyumi.

Anies dilahirkan dari keturunan keluarga yang relejius dan nasionalis sebagaimana darah yang mengalir di kakeknya. Kampung Ampel dengan segala keberadaannya adalah kawasan yang memang secara kultural telah membentuknya, dan itu juga menjadi ciri khas dan karakter “Arek Suroboyo”, Terbuka, berani, egaliter, jujur, supel dan santun kepada siapapun.

Rumah kelahiran kakek Anies di Ampel Gading masih tetap ada dan kini telah ditempati oleh keluarga lainnya. Bagi Anies berkunjung ke Surabaya, ke kawasan Ampel dan sekitarnya adalah sesuatu yang biasa dan menyatu ke dalam dirinya, apalagi perjalanan Anies kecil dan keluarganya juga besar di Jogjakarta dan Jakarta. Sehingga tak ada sesuatu yang berbeda dengan daerah daerah lain di wilayah Indonesia, khusunya Jawa Timur dan Surabaya.

Bagi Jawa Timur dan Surabaya Anies adalah keluarga besar, sebagaimana Anies di Jogja dan Jakarta.

Dalam tradisi kita sebagai bangsa Timur bahwa tamu dan keluarga adalah bagian yang tak terlupakan dari diri kita. Sehingga kedatangan Anies ke Jatim dan Surabaya adalah kedatangan keluarga yang harus kita sambut dengan baik, terbuka dan suka cita.

Selamat datang Mas Anies ke Jatim dan Surabaya, keluarga besarmu masyarakat Jatim dan Surabaya menunggu sapaan dan senyumanmu.

Semoga kedatangan Mas Anies, Sambangi dulur, sambangi keluarga ke Jatim dan Surabaya menjadi perekat kita dalam satu keluarga Indonesia yang adil dan sejahtera, keluarga yang bersama sama memperjuangkan perubahan Indonesia mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

Editor: DAD

Menakar Kriteria Presiden Untuk Menjawab Tantangan Masa Depan Indonesia

KEMPALAN: TAHUN 2024 adalah tahun suksesi kepemimpinan Indonesia. Masa depan Indonesia tentu akan ditentukan oleh kemampuan rakyat Indonesia memilih pemimpinnya.

Lalu pemimpin seperti apa yang memenuhi kriteria tersebut?

Untuk menjawab kriteria seperti apa calon pemimpin Indonesia masa depan, tentu harus dilihat apa yang menjadi kebutuhan bangsa ini.

Kebutuhan bangsa Indonesia saat ini adalah kemampuan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Hal ini penting, karena situasi bangsa saat ini mengalami segregasi dan pembelahan.

Kita butuh pemimpin yang hadir menyatukan, bukan pemimpin yang selalu memproduksi narasi – narasi kontra produktif bagi lahirnya persatuan dan kesatuan.

Sebagai bangsa besar, Indonesia tentu diharapkan mampu menjadi negara yang bisa sejajar dan berperan dalam konteks menghadirkan perdamaian dan ketertiban dunia. Oleh karenanya kemampuan seorang mengkomunikasikan gagasan kepada para pemimpin bangsa – bangsa didunia menjadi sesuatu yang sangat penting. Hal semacam ini pernah dilakukan oleh para pendiri bangsa ketika berjuang memerdekakan Indonesia. Sebut saja Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Dr Soetomo dan lain lain.

Sejarah perjuangan Indonesia banyak mendokumentasikan kemerdekaan Indonesia diperoleh selain dengan perjuangan mengangkat senjata juga dilakukan dengan cara berdiplomasi dengan negara – negara penjajah maupun meminta dukungan dari negara – negara lain. Konfrensi Asia Afrika di Bandung adalah bukti bagaimana perjuangan kemerdekaan juga dilakukan melalui diplomasi antar bangsa yang mencintai kemerdekaan dan menolak penjajahan.

Hampir selama sepuluh tahun terakhir ini rakyat Indonesia merasakan betapa kuatnya cengkraman oligarki. Mereka ugal ugalan mengeruk kekayaan negara tanpa bisa dikendalikan. Kita butuh pemimpin yang bisa menjaga kekayaan negara, pemimpin yang tidak tunduk pada kepentingan oligarki. Kita butuh pemimpin yang mampu mengendalikan oligarki. Karena memang dinegara Demokrasi oligarki yang sehat masih dibutuhkan. Sehingga antara negara, rakyat dan oligarki saling melengkapi mewujudkan Indonesia yang adil dan sejahtera.

Kemampuan menundukkan oligarki agar tidak sewenang wenang dalam mengatur jalannya pemerintahan tak akan bisa dilakukan oleh mereka calon presiden yang berangkat dari rasa hutang budi karena merasa dibiayai. Kita butuh calon presiden yang mempunyai jiwa merdeka, calon presiden yang berani mengatakan bahwa bantuan apapun yang diberikan adalah bantuan dalam rangka memperbaiki keadaan negara. Sehingga mereka bersama calon presiden yang didukung untuk memperbaiki negara.

Hal lain yang dibutuhkan bangsa ini dalam memilih presidennya adalah calon presiden yang rekam jejaknya punya prestasi berpihak kepada rakyat, mampu mewujudkan janji janji politik yang pernah disampaikan dan terukur dalam pelaksanaan. Dan tentu mempunyai integritas serta dipercaya oleh rakyat.

Nampaknya bila melihat kriteria – kriteria yang dibutuhkan tersebut, bangsa ini butuh sosok seperti Anies, karena Anies sudah membuktikan. Kita tak butuh calon presiden yang minim prestasi, hanya bermain dengan gimic – gimic seolah olah merakyat tapi nyatanya kejam terhadap rakyat.

Semoga saja Anies menjadi simbol kesadaran rakyat Indonesia untuk dipilih dan mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang besar, bermartabat dihadapan bangsa – bangsa lain didunia. (*)

Editor: DAD

Habis Sandiaga Uno terbitlah Fahri Hamzah, Manufer Downgrade Koalisi Perubahan

KEMPALAN: DALAM perspektif psikologi kecemasan seseorang bisa disebabkan oleh rasa was was dan takut berlebihan. Untuk menutupinya dibutuhkan pengalihan atau justru akan melakukan penyerangan.

Nampaknya itulah yang terjadi saat ini, ada kecemasan yang berlebihan terhadap Anies dan Koalisi Perubahan. Mereka yang menempatkan diri sebagai oposan Anies dan Koalisi Perubahan, melalui gerakan massif dan terharmoni, melakukan serangan, tentu hal ini dimaksudkan untuk mendowngrade citra Anies. Tujuannya bisa diduga agar publik melihat Anies dan Koalisi Perubahan bukanlah seperti yang diharapkan oleh para relawan dan pendukung Anies.

Tak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan, nampaknya inilah penggambaran yang tepat terhadap apa yang dilakukan oleh Sandiaga Uno terhadap Anies dan Fahri Hamzah terhadap PKS.

Dalam kasus perjanjian yang dianggap sebagai hutang pilkada Jakarta, Sandiago secara sadar telah menuduh Anies masih punya hutang 50 M, padahal perjanjian itu telah usai bila Anies menang maka hutang itu akan dianggap selesai, sebaliknya bila kalah Anies akan mengembalikan. Sebuah “Gentleman agrement” yang dilakukan oleh Anies. Biasanya bila menang akan mengembalikan, kalau kalah sudah tidak. Tapi Anies menegaskan bila kalah akan dikembalikan, nyatanya Anies menang, dan Sandiaga juga ikut menikmati kemenangan itu sebelum memutuskan maju menjadi Cawapres Prabowo 2019. Meski pada akhirnya Sandi mengatakan “case closed”, tapi opini itu sudah terlanjur mendowngrade Anies. Terimakasih Sandiaga, anda telah membantu meningkatkan perbincangan tentang Anies di media.

Hal yang sama dilakukan oleh Fahri manuvernya menyerang PKS dengan kasus kompensasi yang diputuskan oleh pengadilan dan oleh PKS tidak dipenuhi. Bahkan menggunakan kata kata yang kurang elok, tidak ikhlas dan itu dana milik anak yatim.

Fahri seolah lupa, bahwa dia bisa besar dan dikenal itu berkat PKS, kalau dihitung dengan berapa banyak uang yang harus dibiarkan oleh Fahri ke PKS, nampaknya kemarahan lebih mendominasi pikiran dan hatinya dibanding akal sehatnya. Fahri yang dulu kritis dan cerdas, kini telah kehilangan itu semua, kacang lupa kulitnya.

Publikpun kini juga bisa berasumsi, bahwa sedang menjadi bagian untuk menjatuhkan Koalisi perubahan utamanya PKS dan Anies

Lalu pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa ini? Pertama, kita bisa duga bahwa elektabilitas Anies dan Koalisi perubahan sedang mengalami peningkatan yang cukup luar biasa, apa tanda tandanya, sambutan kepada Anies yang luar biasa dibeberapa tempat, adanya upaya mempersulit kedatangan Anies di be berapa daerah, adanya oknum bayaran yang berdemo menolak kedatangan Anies dan terpublikasikan secara massif oleh “media”. Kedua, terjadi tsunami perubahan dukungan kepada Anies yang awalnya tidak mendukung. Terbentuknya Koalisi bersama untuk Anies dibeberapa daerah, hengkangnya aktor aktor utama pendukung Jokowi ke Anies.

Langkah apa yang harus dilakukan untuk menghadapi itu semua, fokus pada meningkatkan popularitas dan elektabilitas Anies di masyarakat. Relawan melakukan aksi aksi nyata yang membangun simpati dan membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Kolaborasi dan sinergi antar relawan menjadi sesuatu yang penting.

Menguasai perasaan masyarakat dan memberi gambaran sesungguhnya tentang Anies adalah kerja kerja yang patut dilakukan saat ini. Harapannya hanya satu apapaun yang dilakukan oleh lawan politik Anies tidak mampu merubah pikiran baik masyarakat terhadap Anies.

Kepada relawan, tetaplah berlaku simpatik kepada siapapun, meski kepada para pembenci Anies, khusus kepada Sandiag Uno, Erwin Aksa, Akbar Faisal dan Fahri Hamzah, terimakasih kalian telah membantu meningkatkan elektabilitas Anies melalui perbincangan media dan masyarakat.

Anies Semakin Tak Terbendung

KEMPALAN: Paska dukungan penuh Koalisi Perubahan terhadap Anies, nampaknya membuat kubuh lawan – lawan Anies mulai meningkat kecemasannya.

Tanda – tanda kecemasan itu dapat dilihat semakin massif dan meningkatnya bullyan terhadap Anies.

Yang terbaru dirijen bully Anies dilakukan oleh Akbar Faisal, hatter Anies, dengan meminjam suara Sandiaga Uno dan Erwin Aksa.

Akbar Faisal mencoba mengungkit kembali tentang perjanjian yang pernah dibuat ketika pelaksanaan pilkada DKI 2017. Akbar mencoba memunculkan kembali perssoalan hutang piutang pilkada yang sejatinya sudah selesai. Sandiagapun terpancing menjawab, bahwa memang perjanjian itu memang ada. Namun hanya berlaku ketika Pilkada DKI 2017 selesai. Sandiagapun tak pernah memasalahkan itu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Fadli Zon, yang menyusun draft perjanjian itu. Clear sudah sebetulnya itu.

Namun sayangnya, Akbar Faisal tak putus asa untuk membully Anies dengan chanelnya, skenario selanjutnya mewawancarai Erwin Aksa. Senada dengan Sandiaga, Erwin juga menyatakan hal yang sama. Sehingga viral seolah Anies punya hutang dan Anies tak menepati janji.

Dalam politik tak ada kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Pernyataan Akbar Faisal, Sandiaga Uno dan Erwin Aksa bisa diduga sebagai pernyataan kepentingan.

Lalu kepentingan apa yang mendasari. Tentu kepentingan bagaimana kenyamanan yang selama ini mereka dapatkan dan rasakan. Anies dianggap sebagai ancaman terhadap kenyamanan yang mereka rasakan.

Apa yang dilakukan mereka tak berbeda sebagaimana yang dilakukan oleh para buzzer istana peliharaan oligarki.

Bullyan yang bertubi – tubi itu menunjukkan bahwa tingkat elektabilitas Anies semakin kuat. Upaya bully yang dilakukan terhadap Anies adalah upaya untuk menghadang Anies dan menjatuhkannya.

Jatuhkah Anies? Tentu sulit, karena rakyat sudah tahu siapa mereka, rakyat sudah tak pernah percaya terhadap opini dan isu yang dilemparkan oleh mereka.

Ibarat anak kecil minta perhatian, kalau tak diperhatikan maka akan semakin menjadi jadi tingkahnya. Kalau diperhatikan akan merasa dibutuhkan.

Rakyat sudah kehilangan “trust” terhadap mereka, sehingga bullying terhadap Anies adalah bagian dari cara mereka untuk mendapatkan kepercayaan lagi.

Tumbuhnya gerakan relawan dimana mana dan dukungan Koalisi Perubahan adalah tanda bahwa rakyat semakin percaya dan berharap kepada Anies.

Dalam hal ini berlaku adagium, semakin dukungan dan kepercayaan terhadap Anies tinggi, maka intensitas bullying dan fitnah terhadap Anies juga akan semakin tinggi.

Jadi bagi semua yang mendukung Anies, tirulah sikap Anies menghadapi itu semua. Anies tidak banyak bicara, bahkan Anies hanya mengatakan saya bekerja dengan bukti bukan dengan asumsi.

Nah jangan – jangan mereka yang membully Anies adalah kelompok masyarakat yang hanya omong saja, tak punya bukti, yang ada berani menebar fitnah demi mendapatkan rupiah.

Kepada seluruh relawan Anies, Tetaplah semangat dan jangan putus asa, teruslah bergerak, karena gerakan yang kalian lakukan akan semakin meningkatkan kecemasan mereka. (*)

Editor: DAD

Ke Surabaya Jatim, Anies Pulang Kampung

ANIES Baswedan adalah mantan gubernur DKI Jakarta. Selepas Gubernur, Anies Baswedan masuk radar Partai Nasdem untuk dicalonkan menjadi presiden RI tahun 2024.

Saat ini, Anies bukan hanya calon presiden dari partai Nasdem saja, tapi Partai Demokrat dan PKS juga sudah mendeklarasikan bahwa Anies adalah calon presiden mereka. Sehingga lengkaplah sudah syarat pemenuhan untuk mendapatkan tiket capres.

Menariknya lagi ketiga partai tersebut, yang tergabung dalam Koalisi Perubahan, tidak mensyaratkan bahwa kadernya harus menjadi cawapres Anies, namun mereka menyiapkan kader kader terbaiknya untuk melengkapi perjuangan memenangkan pilpres 2024.

Sebagaimana Soekarno yang lahir di Surabaya, kakek Anies, Abdurrahman Baswedan, yang juga karib Soekarno, adalah orang yang lahir di Surabaya.

Masa kecil AR Baswedan dihabiskan di Surabaya di Kampung Ampel, kabarnya di Kampung Ampel Gading.

Sebuah artikel yang dimuat oleh Kompas, 9 September 1980 menyebutkan bahwa AR Baswedan anak kelahiran Ampel.

Baginya bahwa bumi Indonesia adalah tempat berpijaknya, karenanya dia dan sesama kaumnya harus menetapkan pendirian untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya, mengakui senasib sepenanggungan dengan rakyat Indonesia.

Semangat arek Suroboyo ternyata juga ada pada diri Anies, bersikap terbuka, egaliter dan berani. Sehingga bagi masyarakat Ampel Surabaya, Anies ibaratnya adalah keluarga besar, karena kakek Anies berasal dari Kampung Ampel.

Sebagai seorang capres dari partai Koalisi Perubahan, Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS, tentu Anies tak bisa dihindarkan mampir ke Surabaya. Bagi Anies mampir ke Surabaya adalah sesuatu yang luar biasa, karena beliau akan berkunjung ke tanah leluhurnya di Surabaya, Kampung Ampel.

Rencana kedatangan Anies ke Jawa Timur dan khususnya Surabaya akan menjadi ruang nostalgia Anies bertemu dengan keluarga besarnya, masyarakat Ampel Surabaya.

Tentu saja karena dikawasan Ampel, Anies juga tak akan bisa melupakan leluhurnya, Sunan Ampel yang dimakamkan di pelataran Masjid Sunan Ampel.

Sebagai masyarakat Surabaya, khususnya masyarakat Ampel, tentu kedatangan Anies adalah sebuah kebanggan, apalagi kedatangan Anies dalam rangka meminta restu dari leluhurnya di Masjid Sunan Ampel dan masyarakat Ampel Surabaya.

Sebagai seorang capres dari partai Koalisi Perubahan, Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS, tentu Anies tak bisa dihindarkan mampir ke Surabaya. Bagi Anies mampir ke Surabaya adalah sesuatu yang luar biasa, karena beliau akan berkunjung ke tanah leluhurnya di Surabaya, Kampung Ampel.

Rencana kedatangan Anies ke Jawa Timur dan khususnya Surabaya akan menjadi ruang nostalgia Anies bertemu dengan keluarga besarnya, masyarakat Ampel Surabaya.

Tentu saja karena dikawasan Ampel, Anies juga tak akan bisa melupakan leluhurnya, Sunan Ampel yang dimakamkan di pelataran Masjid Sunan Ampel.

Sebagai masyarakat Surabaya, khususnya masyarakat Ampel, tentu kedatangan Anies adalah sebuah kebanggan, apalagi kedatangan Anies dalam rangka meminta restu dari leluhurnya di Masjid Sunan Ampel dan masyarakat Ampel Surabaya.

Sebagaimana kebanggaan kita warga Surabaya terhadap Bung Karno yang kelahiran Surabaya dan menjadi Presiden RI yang pertama, hal yang sama terjadi pada masyarakat dimana para presiden RI berasal.

Tentu saja kedatangan Anies ke Jatim dan khususnya Surabaya adalah sebuah kebanggaan. Karena Anies adalah salah satu putra terbaik Indonesia, calon presiden 2024, yang leluhurnya berasal dari Kampung Ampel Surabaya, Jawa Timur. Bahkan ketika memimpin Jakarta, Anies sukses memimpin Jakarta dengan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh warga Jakarta.

Partai Nasdem Jatim yang merupakan bagian dari Koalisi Perubahan, sedang menggadang – gadang Anies untuk mampir ke Jawa Timur, khususnya Surabaya dan daerah – daerah lain. Khusus kedatangannya di Surabaya harus dimaknai bahwa Anies sedang pulang kampung. Sebagai keluarga besar masyarakat Surabaya dan Jatim, tentu tak ada alasan bagi kita semua untuk tidak menyambutnya dengan bangga. Ayo kita sambut kedatangan Anies ke Jatim, Surabaya dan daerah daerah lain sebagai keluarga besar yang akan membawa perubahan Indonesia kearah yang lebih baik lagi. (*)

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.