Rabu, 22 April 2026, pukul : 15:33 WIB
Surabaya
--°C

Koalisi Perubahan dari Bertahan ke Posisi Menyerang dan Meraih Kemenangan, Mampukah Jatim Membuktikan?

KEMPALAN: Ibarat pertandingan sepakbola, kwartet pemain di akselerasi oleh empat pemain inti, Anies Baswedan, Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS. Tentu saja di ketiga partai itu ada pemain pemain hebat yang membantu Anies sebagai striker yang setiap waktu bisa menjebol gawang lawan.

Sebagai striker yang berada didepan, Anies bertugas untuk menjebol pertahanan lawan dengan gerakan gerakan cantik yang menguras emosi lawan sehingga mereka terpancing keluar mengejar Anies. Nampaknya tugas itu dapat diselesaikan dengan baik oleh Anies.

Gerakan – gerakan cantik dan terduga yang dilakukan Anies, ternyata juga dilakukan oleh Surya Paloh ( SP), dengan jam terbang yang bagus dan tak diragukan lagi, SP mampu mengharmoni permainan, SP tak hanya pemain dalam tim Koalisi Perubahan, SP juga seorang “coaching”, SP tidak hanya memberi umpan umpan bagus kepada Anies, tapi bertugas mencari cela bagaimana memperlemah pertahanan lawan yang pada akhirnya mampu dijebol. SP sangat paham cela pertahanan lawan, karena SP pernah satu tim dengan mereka dan merumput bersama.

Perpaduan antara Anies dan SP semakin terlihat moncer, ketika AHY dari partai Demokrat dan Akhmad Syaikhu dari PKS, mulai terang – terangan menunjukkan kelas permainannya dengan melakukan penetrasi ke pertahanan lawan.

Pernyataan AHY partai Demokrat dan Akhmad Syaikhu, PKS yang terang – terangan menyatakan dukungan kepada Anies sebagai capres mereka, melengkapi sudah tiket PT 20 % yang dipersyaratkan, apalagi juga ditambahi dengan pernyataan kenegarawanan mereka dengan menyatakan sepenuhnya pilihan cawapres kepada kriteria yang memenuhi ritme kerja Anies, meski mereka juga punya kader – kader terbaiknya.

Ritme permainan bertahan yang selama ini dikaukan oleh Koalisi Perubahan tidak bisa dilepaskan dari kerja tim kecil mereka yang mengatur strategi permainan, jangan lupa selain ada SP disana, ada juga mentor-mentor hebat yang membatu mengatur dan merancang serangan. Ada JK senior Anies, ada SBY mantan presiden dan ahli strategi pemenangan, juga ada Dr. Salim Segaf Al Jufri yang sudah berpengalaman melakukan pengawalan ritme dan konsistensi permainan.

Mereka yang berada dalam tim ini tidak hanya berada diluar lapangan, mereka juga menjadi aktor permainan dalam tim Koalisi Perubahan.

Harmoni permainan cantik Koalisi Perubahan ini seolah menemukan momentumnya, karena ini sejalan dengan harapan rakyat dan para relawan serta para pendukung perubahan.

Semangat perubahan tampak sekali dalam sambutan sambutan yang gempita disetiap kehadiran Anies.

Relawan ibaratnya adalah supporter dalam sebuah pertandingan. Relawan juga diharapkan melakukan dukungan dukungan yang cantik dan saling berkolaborasi. Jangan merusak apalagi saling berantem sesama supporter pendukung. Karena berantem sesama pendukung Anies adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh mereka. Jangan pernah terpancing oleh mereka dan ulah mereka karena semakin diperhatikan mereka akan semakin merasa menang. Jadi biarkanlah agar mental kalah mereka semakin tertumpuk dengan semakin mensolidkan dukungan kepada Anies dan Koalisi Perubahan.

Medan, Makassar, Bandung Jabar, Banten dan NTB sudah membuktikan suasana kemenangan dengan tumpah ruahnya para pendukung menyambut Anies dan Koalisi Perubahan, meski saat itu hanya partai Nasdem saja. Kini Koalisi Perubahan sudah menjadi tim lengkap, tentu saja sambutan dan dukungan akan semakin luar biasa.

Jatim dan Jateng adalah pertaruhan, mampukah dengan formasi lengkap yang ada, Koalisi Perubahan Jatim dan Jateng serta didukung oleh para relawan dan supporter Anies. Ini menjadi tantangan semua.

Semoga saja menjelang kedatangan Anies di Jatim, 23 dan 24 Februari 2023 ( semoga tak ada halangan), Jatim mampu memecahkan rekor jumlah massa penyambutan dibanding daerah daerah sebelumnya.

Sebagai daerah gudang ulama, santri dan pencinta NKRI, Jatim tidaklah sulit untuk membuktikan tumpah ruahnya dukungan dan sambutan atas kedatangan Anies.

Anies dan Koalisi Perubahan hadir untuk perbaikan dan penyelamatan Indonesia, hadir dengan sikap santun dan damai. Dari Jatim semoga bisa dimulai perubahan Indonesia dengan santun dan damai untuk memenangkan permainan pilpres 2024. (*)

Editor: DAD

Akankah Golkar Bergabung Dengan Koalisi Perubahan?

KEMPALAN: Usai sudah penantian panjang para relawan dan pendukung Anies tentang maju tidaknya Anies sebagai capres 2024. Setelah Partai Nasdem mengumumkan Pencapresan Anies melalui rapat koordinasinya, kemudian disusul Partai Demokrat dan kemarin, Senin, 30 Januari 2023, PKS secara resmi juga menyampaikan dukungannya.

Ibarat orang menikah, meski belum ada dokumen tertulis yang dikeluarkan oleh ketiga Partai Koalisi Perubahan, namun ketiganya sepakat untuk mengusung Anies sebagai Capresnya. Menariknya, meski partai – partai itu punya kader terbaiknya, mereka sepakat untuk tidak memaksakan kadernya untuk harus menjadi cawapres Anies, semuanya menyerahkan sepenuhnya kepada Anies. Tentu ini adalah sebuah sikap kenegarawanan yang patut diapresiasi. Koalisi Perubahan berpikir tentang bagaimana menyelamatkan Indonesia.

Berkaitan dengan cawapres Anies, setidaknya dari kantong partai Nasdem pernah muncul nama nama seperti Ganjar Pranowo, Andika Perkasa dan Khofifah Indar Parawansa. Dari Partai Demokrat muncul nama AHY dan juga menyerahkan sepenuhnya kepada Anies begitu juga yang dilakukan oleh PKS, meski ada kader terbaiknya, Ahmad Heryawan, namun sebagaimana Nasdem dan Demokrat, PKS juga menyerahkan sepenuhnya kepada Anies tentang siapa bakal cawapresnya, namun yang menarik, PKS juga menyebut nama Khofifah sebagai salah satu kandidat yang diusulkan.

Kerja tim kecil dari Koalisi Perubahan berbuah hasil yaitu munculnya kesepahaman bahwa bahwa Anies adalah Capres 2024 yang akan diusung.

Tentu saja langkah lanjutan yang dilakukan oleh partai – partai Koalisi Perubahan adalah menyiapkan deklarasi bersama, karena itulah yang akan memastikan publik bahwa partai – partai Koalisi Perubahan serius mengusung Anies. Ada adagium dalam politik sebelum ada janur melengkung semua kemungkinan masih bisa terjadi.

Lalu Siapa Bakal Cawapres Anies? Anies Baswedan sempat mengutarakan kriteria bakal cawapres saat kunjungan di Bandung, pada Minggu, 22 Januari 2023.

Mantan Gubernur DKI itu membeberkan kriteria bakal cawapres di antaranya sosok yang paling berkontribusi pada pemenangan, berkontribusi pada stabilitas koalisi, mendukung efektivitas pemerintahan, dan memiliki chemistry atau Dwi-Tunggal.

Kriteria yang disampaikan oleh Anies juga diamini oleh AHY, “Terkait kriteria Bacawapres, secara prinsip tidak ada masalah bagi kami. Itu haknya Bacapres,” kata AHY dalam rilis tertulis, Kamis, 26 Januari 2023.

Merujuk pada apa yang disampaikan oleh Anies, maka bakal cawapres pilihan Anies tentu akan dilakukan berdasarkan pada kemampuan berkontribusi pada pemenangan. Nampaknya bila merujuk pada pertimbangan ini, maka AHY dan Khofifah bisa menjadi kandidat kuat. AHY adalah pimpinan partai dan menjadi daya tarik kelompok millenial dan penguasaan wilayah pemenangan cukup bagus. Begitu juga dengan Khofifah, menjadi daya tarik kelompok NU, mantan ketua Muslimat dan Gubernur Jawa Timur.

AHY dan Khofifah sangat berpotensi meraup suara di Jatim, Faktor Emil Dardak, Ketua Partai Demokrat Jatim dan Cawagub Khofifah saat ini, dianggap figur yang mengakar di daerah Mataraman dan Pandalungan.

Mengapa Jatim penting, karena berdasar survey, Anies masih terasa lemah di Jateng dan Jatim. Khofifah akan menjadi faktor kuat berkontribusi didua daerah itu, suara NU dan kelompok perempuan, utamanya di Jatim.

AHY dan Khofifah sangat berpotensi meraup suara di Jatim, Faktor Emil Dardak, Ketua Partai Demokrat Jatim dan Cawagub Khofifah saat ini, dianggap figur yang mengakar di daerah Mataraman dan Pandalungan.

Mengapa Jatim penting, karena berdasar survey, Anies masih terasa lemah di Jateng dan Jatim. Khofifah akan menjadi faktor kuat berkontribusi didua daerah itu, suara NU dan kelompok perempuan, utamanya di Jatim. Bahkan bila pilihannya Khofifah, Demokrat juga akan diuntungkan, peluang Emil untuk maju di Pilgub akan semakin terbuka lebar.

Munculnya nama Khofifah juga semakin kuat, ketika Sarmuji, Ketua Golkar Jatim, dalam salah satu dialog di poadcast menyebut nama Khofifah akan diusulkan oleh Golkar Jatim menjadi kandidat cawapres, bahkan beliau mengatakan meski kita belum tahu siapa capresnya, tapi kita akan bawah nama Khofifah sebagai cawapresnya.

Nampaknya ini akan menjadi pembuka kotak pandora kemana arah Golkar berlabuh? Sejak diumumkan adanya Koalisi Indonesia Bersatu, belum muncul siapa kelak yang akan menjadi capresnya. Meski dari Golkar sudah muncul nama ketua umum Airlangga Hartarto. Namun tentu juga masih menunggu kesepakatan dari anggota koalisi, PPP dan PAN.

Pilihan Khofifah sebagai cawapres yang diusulkan Golkar Jawa Timur, menjadi sebuah keniscayaan, karena Khofifah bisa menjadi penambah suara kepada siapapun capresnya.

Sebagai partai lama dan sudah mapan, dan pengalamannya selalu berada didalam pusaran kekuasaan, membuat pilihan Golkar Jatim mengusulkan Khofifah sebagai cawapres, setidaknya bisa memberi pesan, bahwa Golkar siap bergabung dengan siapapun asal Khofifah menjadi cawapresnya.

Pada sisi ini, apa yang menjadi harapan Golkar Jatim bertemu dengan kesepahaman yang dibangun Koalisi Perubahan, Bahwa Anies Capresnya, wakilnya diserahkan kepada Anies. Nama Khofifah sudah dimunculkan oleh Partai Nasdem dan PKS, partai Demokrat juga tidak mematok harga mati harus AHY. Sebuah sikap kenegarawanan yang ditunjukkan oleh Partai Nasdem, Demokrat dan PKS.

Pencalonan Khofifah oleh Golkar, apalagi disandingkan dengan Anies, tentu tidak akan menghadapi kendala yang berarti. Anies dan para petinggi Golkar bukanlah orang baru, mereka tertempa dalam organisasi yang sama disaat mahasiswa, mereka terkolaborasi dalam kerja kerja. Sehingga chemistry Anies dengan Golkar bukanlah sesuatu yang baru.

Niat yang sama dan tujuan yang sama antara Golkar dan Koalisi Perubahan menemukan momentumnya, melanjutkan pembangunan dan menjadikan Indonesia adil dan sejahtera. Kalau sudah begini, ditengah ketidakpastian KIB, akankah Golkar berlabuh kedalam Koalisi Perubahan? Nampaknya bukanlah sesuatu yang mustahil. (*)

Editor: DAD

Kelas Inspirasi Surabaya Ramah Anak: Hormati Orang Tuamu Mumpung Masih Ada

KEMPALAN: MENARIK kelas inspirasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya, dimana walikota Surabaya, Eri Cahyadi menjadi inspiratornya, Senin, 30 Januari 2023 di Balai Pemuda Surabaya.

Sebagai kota yang mentasbihkan dirinya sebagai kota layak anak, nampaknya kelas inspirasi ini semakin menunjukkan betapa pedulinya walikota Surabaya, Cak Eri, saya biasa memanggilnya, walikota yang punya kepedulian dan perhatian terhadap anak – anak.

Eri bercerita bagaimana perjuangan dia sampai pada posisi yang didapatkan hari ini, apa yang dia capai hari ini tidak terlepas dari peran abah dan umiknya, begitu beliau memanggil kedua orang tuanya.

Sepertinya adalah hal yang biasa yang dilakukan oleh orang tua, namun semuanya akan terasa ketika salah satu diantaranya telah berpulang keharibaan Tuhan.

“Saya baru saja ditinggal pergi oleh abah saya, betapa terasa kehilangan hari hari saya hari ini, itu yang tak bisa saya lupakan”, Kata Eri.

” Saya kehilangan nasehat – nasehat dan petuah – petuah yang pernah saya dapatkan, suatu saat saya pernah membantah nasehat orang tua, kini saya sudah kehilangan itu semua, sekarang hanya doa dan harapan untuk berbuat baik sebagaimana pesan abah saya “, Lanjut Eri.

“Oleh karenanya, saya berpesan kepada anak – anakku semua, kalau kalian masih didampingi oleh ayah ibu, maka jaga dan hormati mereka, jangan pernah sia – siakan mereka, karena mereka adalah pusakamu “, tegas Eri.

Pengalaman walikota yang baru saja di tinggal pergi ayahanda menjadi cerita yang disampaikan kepada anak – anak Surabaya.

“Beliau katakan, betapa tulusnya abah, suatu saat, abah berpesan kepada saya agar dibelikan terang bulan, tapi saya lupa dan pulang tidak membawa pesanan abah” Ujarnya.

“Abah pun terdiam, lalu dengan bergegas, abah pun keluar rumah untuk membelikan pesanan yang tak sempat dia bawakan”, sambil menerawang, Eri menegaskan.

Bagi Eri, apa yang dilakukan oleh abah adalah sebuah komitmen yang luar biasa abah bagi anak – anaknya.

Ada komitmen kuat yang tidak pernah abah ingkari, komitmen kuat abah itu harus dibalas, kita juga harus semangat dan jujur memegang janji.

Diakhir pesannya, Eri berharap agar anak anak Surabaya bisa menjadi anak yang baik, anak yang menjaga nama baik orang tua.

“Setelah acar ini, kalian pulang temui orang tua dan cium tangan dan kakinya”, pinta Eri.

Terimakasih cak Eri, setidaknya dengan kelas inspirasi ini, semakin menegaskan bahwa Surabaya adalah kota layak anak, kota yang membahagiakan anak anak, “Surabaya Gayeng, Areke Seneng ” (*)

PENULIS: Kolumnis, pemerhati anak, penyelia pendidikan ramah anak dan dosen

Editor: DAD

“Suroboyo Gayeng Arek e Seneng”, Kolaborasi Menuju Surabaya Kota Layak Anak Dunia

KEMPALAN: SURABAYA tidak diragukan lagi sebagai kota layak anak, mengapa? Sudah hampir lima kali meraih kota layak anak Indonesia tingkat utama dan saat ini sedang berbenah untuk meningkatkan layanan menjadi kota layak anak dunia.

Mengacu pada kriteria yang disyaratkan oleh kementerian PPPA, bahwa untuk menjadi kota layak anak nasional, sebuah kota harus memenuhi kriteria – kriteria yang disyaratkan berdasarkan kluster – kluster yang ditentukan.

Kluster – kluster itu meliputi kluster kelembagaan yang menyangkut persoalan kebijakan dan peraturan – peraturan pemerintah kota yang mengarus utamakan pemenuhan hak anak.

Pengarus utamaan hak anak itu yang dimaksud menyangkut hak kebebasan sipil yang ada pada kluster 1. Pada kluster 2 menyangkut lingkungan keluarga dan pengasuhan. Kluster 3 menyangkut kesehatan dasar dan pengasuhan. Kluster 4 menyangkut pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya dan kluster 5 menyangkut perlindungan khusus.

Pada kriteria – kriteria yang menjadi indikator terlaksananya kegiatan dan ketercapaiannya, Surabaya menempatkan dirinya menjadi kota utama yang layak anak. Tentu ini menjadi prestasi yang membanggakan dan terus ditingkatkan.

Tujuannya tentu adalah menjadikan Surabaya sebagai kota yang aman dan nyaman bagi anak anak, khususnya mereka yang tinggal di Surabaya dan yang berada di Surabaya.

Sebagai ibu kota propinsi dan kota besar kedua di Indonesia, tantangan Surabaya tentu semakin komplek, dan juga akan menjadikan Surabaya rentan terjadinya kekerasan terhadap anak.

Menjadikan Surabaya “zero” kekerasan terhadap anak tentu akan sangat sulit, karena ini menyangkut banyak variabel. Diantaranya ada variabel masyarakat, variabel lingkungan dan variabel budaya serta variabel agama.

Pada variabel – variabel tersebut harus dipahami ada yang bisa dikontrol dan ada yang tidak bisa dikontrol. Pada variabel yang tidak bisa dikontrol ini menyangkut kewenangan yang dibatasi.

Pada variabel yang bisa dikontrol, pemerintah sudah banyak melakukan upaya – upaya mulai dari pencegahan, penanganan, penyembuhan dan proses reintegrasinya.

Sebagai contoh adanya perda 6 tahun 2011tentang perlindungan anak yang sekarang sedang mengalami revisi di DPRD Surabaya.

Dalam perda yang saat ini mengalami revisi tersebut tergambar bagaimana upaya yang dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya dalam rangka melakukan perlindungan anak, bahkan dalam perda tersebut menjadikan Surabaya sebagai kota yang pertama menerapkan wajib belajar 12 tahun dan larangan sekolah mengeluarkan anak yang mengalami masalah tanpa jaminan keberlanjutan pendidikan si anak.

Dalam banyak hal pemerintah kota juga sudah menghadirkan fasilitas – fasilitas publik yang banyak dimanfaatkan oleh anak dari berbagai latar belakang. Tentu saja masih ada kekurangan – kekurangan.

Menyadari bahwa tidak mungkin bekerja sendirian, pemerintah kota juga sangat terbuka terhadap masukan – masukan perbaikan yang diberikan oleh masyarakat termasuk didalamnya adalah kelompok swadaya masyarakat yang peduli terhadap anak.

Untuk menguatkan keterbukaan dan hadirnya partisipasi publik, pemerintah kota juga mulai berbenah dengan hadirnya kolaborasi antar perangkat daerah ( OPD), camat, lurah dan masyarakat di tingkat RW dan RT. Kolaborasi antar OPD, camat, lurah dan masyarakat menjadi visi pemerintah kota yang harus menjiwai seluruh proses kerja yang dilakukan. Visi pemerintah kota Surabaya adalah bergotong royong menjadi kota global yang maju, humanis dan berkelanjutan.

Kolaborasi, sinergi dan partisipasi menjadi ruh bagaimana kota Surabaya dibangun. Prinsipnya adalah bagaimana menjadikan warga merasakan suasana yang nyaman dan membahagiakan.

Pada prinsip menjadikan Surabaya kota yang suasananya nyaman dan membahagiakan bagi anak, pemerintah kota juga mulai membuka diri dengan peraturan yang dibuat melalui peraturan walikota yang mewajibkan setiap OPD, camat dan lurah dalam melaksanakan musrenbang untuk meminta masukan dari anak anak.

Partisipasi anak menjadi kata kunci penting mensejajarkan Surabaya dengan kota – kota dunia yang sudah dianggap sebagai kota yang layak anak dunia.

Suasana kolaborasi antar OPD, camat dan lurah dengan masyarakat dan LSM dalam upaya melakukan pemenuhan hak anak menggambarkan betapa menyatunya tekad seluruh masyarakat Surabaya untuk menjadikan Surabaya sebagai kota layak anak.

Tekad itulah yang membuat Unicef sebagai lembaga dunia yang konsen melakukan pendampingan kepada kota – kota agar memenuhi hak anak sebagaimana yang ada dalam konvensi hak anak, merasakan atmosfer kuat pemerintah kota menjadi kota yang membahagiakan anak anak.

Atmosfer perlindungan anak di Surabaya yang kemudian membuka ruang partisipasi anak, mendorong Unicef untuk membantu Surabaya dan menjadikan Surabaya sebagai kota Indonesia pertama yang layak anak sejajar dengan kota kota dunia yang dianggap ramah terhadap anak.

Upaya pemerintah kota dengan seluruh jajarannya dan masyarakat dalam menjadikan Surabaya sebagai kota layak anak dunia tentu akan menjadikan Surabaya sebagai kota surganya anak anak. Anak anak akan mendapatkan perlindungan pemenuhan haknya semaksimal mungkin.

Bagi penulis upaya pemerintah kota yang berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai “stakeholder” terutama anak anak diharapkan akan membantu menjadikan Surabaya sebagai kota yang menuju kota layak anak dunia khsususnya kota yang memberi ruang kepada anak untuk ikut mendesain kota yang memenuhi kebutuhannya, dan tentu upaya ini akan menciptakan suasana “Suroboyo Gayeng, Arek – Areke Seneng”, Surabaya damai, anak anak akan menjadi senang dan bahagia. (*)

Penulis: Pemerhati Perlindungan Anak dan Pendidikan Jatim dan Pengajar di STT Malang

Editor: DAD

Menyelamatkan Indonesia Melawan Politik Ular Kobra

KEMPALAN: Demokrasi adalah sebuah kontestasi politik untuk mendapatkan calon pemimpin yang berintegritas. Namun sayangnya ditengah upaya membangun budaya keadaban itu, ada upaya upaya premanisme politik dengan menggunakan cara melemparkan Ular Kobra ke lawan politiknya.

Cara ini mengesankan bahwa masih ada ketakberadaban dalam berpolitik dan cenderung menghalalkan cara.

Salah satu contoh katakberadaban dalam berpolitik adalah kasus yang terjadi di Banten, dimana sekelompok preman politik menggunakan cara – cara keji menghabisi lawan politiknya dengan cara melempar ular kobra ke kediaman mantan gubernur Banten Wahidin Halim.

Peristiwa ini terjadi saat Wahidin Halim menggelar pertemuan akbar bersama dengan Anies Baswedan dalam acara yang bertajuk “Anies Mendengar Warga Tangerang”.

“Iya itu di lempar di belakang (halaman rumah), tapi kan ada pengamanan (petugas keamanan) saya, ada sekitar 20 ular jenis kobra hitam,” ujar Wahidin Halim di kediamannya, Rabu (25/1/2023).

Politik melempar ular kobra ke lawan politik tentu bisa ditebak berasal dari mereka yang menganggap Anies adalah orang yang membahayakan. Kepentingan mereka akan terganggu atau bahkan hilang. Tentu saja mereka ini bisa ditebak berasal dari mana, suruhan siapa dan pendukung dari calon presiden yang mana.

Politik kotor dengan cara melempar ular kobra kekediaman Wahidin Halim ini sangat merugikan calon presiden selain Anies dan akan memberikan pesan bahwa Anies adalah calon presiden yang membawa perubahan menuju Indonesia yang berkeadilan sosial.

Anggapan ini tentu sangat beralasan, karena selama ini banyak orang merasakan keadilan hanyalah milik kelompok dan golongan tertentu.

Lalu akankah surut dukungan terhadap Anies dengan adanya teror semacam ini? Tentu tidak, karena ini justru akan menjadi penguat keyakinan bahwa Anies adalah pemimpin yang benar.

Ungkapan Wahidin Halim yang mengatakan bahwa peristiwa pelemparan sekarung ular kobra ke kediamannya justru akan menambah keyakinannya untuk berjihad memperjuangkan Anies, setidaknya akan mewakili jutaan manusia Indonesia yang rindu perubahan. Mereka tahu bahwa Anieslah simbol perubahan itu.

Tantangan Anies kedepan tentu akan semakin besar dan kotor. Bagi Anies ini adalah sesuatu yang sudah biasa dia hadapi. Pendukung Anies dan relawan Anies diharapkan juga selalu menguatkan soliditasnya mengenalkan Anies ke masyarakat.

Hal ini penting karena pengenalan Anies ke masyarakat akan semakin meningkatkan keyakinan bahwa Anies adalah calon presiden yang dinantikan.

Dukungan Partai Demokrat setelah Partai Nasdem dan juga akan disusul oleh PKS adalah energi besar perubahan Indonesia. Apalagi bila sekber koalisi perubahan terbentuk.

Soliditas relawan dan Partai pengusung Anies akan semakin meningkatkan tekanan arus perubahan dan tentu itu juga akan meningkatkan tekanan terhadap Anies Baswedan oleh pihak lain yang merasa terganggu.

Menghadapi itu semua tidak ada pilihan kecuali meyakini bahwa perjuangan mengantarkan Anies menjadi presiden 2024 adalah sebuah perjuangan suci menyelamatkan Indonesia dari kembalinya penjajahan.

Mendukung dan memperjuangkan Anies menjadi presiden adalah perjuangan memerdekakan kembali. (*)

Editor: DAD

Koalisi Perubahan dan Selangkah Lagi Perubahan Indonesia

KEMPALAN: PERNYATAAN ketua umum Partai Demokrat AHY yang menyatakan dukungannya kepada Anies Baswedan, disusul pernyataan PKS yang tidak keberatan Anies dipasangkan dengan siapapun bahkan dengan mereka yang berasal dari luar partai bisa dimaknai bahwa koalisi perubahan secara legal formal sudah mulai terbentuk. Apalagi himbauan AHY agar segera membentuk sekber koalisi perubahan.

Disaat yang sama juga terjadi dua peristiwa yang mempertegas keberadaan Koalisi Perubahan, pertama, pernyataan PKS bahwa tidak keberatan kalau Khofifah dicalonkan jadi cawapres Anies dan yang kedua, kunjungan Sejumlah pimpinan Partai Nasdem mengunjungi Sekretariat Bersama (Sekber) Gerindra-PKB di Jalan Ki Mangunsarkoro 1, Menteng, Jakarta, Kamis (26/1/2023).

Adapun Partai Nasdem diwakili oleh Wakil Ketua Umum Ahmad Ali, Wakil SekretarisJenderal Dedi Ramanta, Ketua DPP Willy Aditya, Ketua DPP Fauzi Amro, serta Ketua DPP Jakfar Sidik.

Ketiga rangkaian puzzle peristiwa ini seolah diorkestrasi menjadi rangakaian pesan bahwa keberadaan Koalisi Perubahan sudah tak bisa lagi dibendung. Koalisi ini akan segera dideklarasikan.

Nampaknya juga orkestrasi ini menjawab pertemuan sebelumnya, antara LBP dan SP di London. Apalagi Kamis ( 27/01/2023 ) SP bertemu Jokowi dia istana. Sehingga rangkaian ini memberi pesan bahwa istana sudah mulai menerima dan berpikir realistis tentang arus besar perubahan bersama Anies Baswedan.

Pertemuan SP dan Jokowi juga harus dibaca sebagai pertemuan jalan tengah yang akan menghasilkan kesepakatan – kesepakatan, terutama yang berkaitan dengan program pemerintah dan jaminan kepada Jokowi setelah meletakkan jabatan.

Pernyataan PKS tentang Khofifah, kenegarawanan SBY dan AHY dari Partai Demokrat yang sepakat dengan Koalisi Perubahan yang mencalonkan Anies sebagai bacapres 2024 dan tidak akan memaksakan kehendak siapa yang akan menjadi cawapresnya, harus dipahami bahwa Koalisi Perubahan sedang berpikir untuk perubahan Indonesia, sikap ini juga semakin mempertegas jalan menuju perubahan Indonesia semakin dekat. Sehingga deklarasi ketiga partai tersebut adalah sesuatu yang ditunggu tunggu oleh publik dan akan merubah konstelasi politik saat ini. Semoga saja! (*)

Membaca Tingkat Kepuasan Warga DKI Terhadap Kepemimpinan Anies

KEMPALAN: ANIES ini memang fonomena Aneh, banyak hal baik yang sudah dilakukan selama memimpin Jakarta, tapi kebaikan – kebaikan itu ternyata masih dianggap salah. Jangankan berbuat salah, berbuat baik pun masih dianggap salah.

Jadi kita nggak ngerti mahluk jenis apa yang dihadapi oleh Anies ini. Kalau setan pasti akan senang kalau Anies berbuat salah, tapi Aneh, kalau Anies dianggap melakukan kesalahan, maka Anies akan semakin dibully, Anies berbuat baik, akan dicari kelemahan kelemahannya.

Jadi kita nggak tahu apakah Tuhan menciptakan spesies setan baru, yang tidak pernah suka dengan apapun yang dibuat oleh orang lain yang tidak sejenis dengannya?

Tapi kita lupakan saja spesies setan baru ini, daripada menghabiskan waktu menanggapi mereka, ada baiknya kita membaca ulang tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap hal hal baik yang sudah dikerjakan Anies selama dia memimpin Jakarta, 5 tahun kepemimpinannya.

BACA JUGA: Pejuang Demokrasi Itu Bernama Anies Baswedan

Adalah survey Popully Center yang dilakukan selama tanggal 6 – 16 Oktober 2022 dan dirilis tanggal 19 Oktober 2022. Dengan melibatkan 600 responden, menggunakan metode multistage random sampling dengan margin error 4 % dan tingkat kepercayaan 95 %.

Dalam survey itu didapatkan potret tingkat kepuasan masyarakat Jakarta selama Anies memimpin adalah 83.5 % dan 15.8 % tidak puas serta 0.7 % tidak tahu.

Tentu saja hasil ini berbanding terbalik dengan opini yang dikembangkan oleh setan jenis baru melalui media sosial. Itulah sebabnya Anies tak mau menanggapi apapun yang diopinikan mahluk jenis ini, karena mereka tak pernah bicara dengan akalnya, eh kalau punya akal. Mereka lebih banyak berhalusinasi. Jadi buat apa menanggapi asumsi, habis waktu kita untuk sesuatu yang tak manfaat, itulah kalimat kalimat yang sering dilontarkan Anies. Lebih baik saya fokus melayani rakyat Jakarta sebagaimana janji saya ketika dipilih oleh mereka sebagai gubernur.

Apa yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta adalah sebuah pengalaman yang kemudian menjadi persepsi mereka. Sementara opini yang dikembangkan melalui medsos adalah sesuatu yang dibentuk, sehingga itu bukan suatu kenyataan.

BACA JUGA: Dari Koalisi Perubahan Menuju Koalisi Penyelamatan Indonesia

Persepsi masyarakat Jakarta tentu dibentuk berdasar pengalaman yang dirasakan selama 5 tahun berada dibawah kepemimpinan Anies Baswedan. Itulah yang disebut dengan kenyataan.

Berdasarkan kenyataan yang ada tergambar bahwa persepsi masyarakat Jakarta adalah 84.2 % untuk Taman Maju Bersama, 81.9 % untuk penerangan jalan, 80.3 % untuk jaminan kesehatan Jakarta, 77 % untuk pengelolaan sampah, 76.2 % untuk pemeliharaan jalan, 75 % untuk Jaklingko, 73.8 % untuk program air bersih, 73.5 % untuk Kartu Jakarta Pintar Plus, 73.4 % untuk pembangunan dan pengoperasian MRT / LRT, 71.6 % untuk pembangunannya JIS, 68.5 % untuk Revitalisasi Taman Ismail Marzuki, 68 % untuk penataan kampung kota, 65.5 % untuk revitalisasi bangunan / sekolah rendah emisi, 61.7 % untuk program pariwisata dan 61 % untuk pembangunan intermediate treatment facilty ( ITF) di Sunter.

Namun sayangnya apa yang sudah menjadi capaian ini tak mampu memberi gambaran kepada ketua DPRD Jakarta dan gengnya, mereka lebih suka APBD dipakai untuk menanam saham di perusahaan bir.

BACA JUGA: Antara Anies dan Anwar Ibrahim, Pemimpin Masa Depan dan Keteladanan

Bagi Anies apa yang dilakukan oleh para pembenci dan buzzer antek oligarki bukanlah sesuatu yang menakutkan dan serius dihadapi, Anies lebih takut kelak bila sejarah dan anak cucunya menuliskan tentang apa yang dilakukan hari ini adalah sebuah kesalahan.

“Makanya saya fokus melayani rakyat Jakarta saja”, Kata Anies. Karena inilah yang akan ditulis oleh para sejarawan selama dia memimpin Jakarta. (*)

Editor: DAD

Pejuang Demokrasi Itu Bernama Anies Baswedan

KEMPALAN: KALAU ada orang yang menganggap Anies pembawa politik identitas, Anies intoleran bisa dipastikan mereka adalah orang tak paham sejarah dan mengalami proses ahistori. Tapi itulah gambaran suasana yang sekarang terjadi pada para buzzer antek oligarki dan para pembenci Anies. Cermin dari ketakutan dan kecemasan akan hilangnya peluang kerakusan menjarah asset negara.

Potret aktifitas Anies sebagai aktivis dan pejuang Demokrasi semasa mahasiswa terlihat dalam sebuah catatan unggahan Sebagaimana yang tertulis dalam akun instagram miliknya, Anies menuliskan : Masa kuliah jadi pelengkap yang utama. Masuk Fakultas Ekonomi UGM, angkatan 1989. Pembelajaran di ruang kuliah, dan di luar ruang kuliah menjadi pelajaran yang hikmahnya mengalir tanpa henti hingga sekarang. Pada masa kuliah inilah gemblengan pengalaman membekas hingga kini. Pergolakan ide tentang keterbukaan, tentang demokrasi dihadapkan dengan kondisi represif era Orde Baru. Kita bersyukur bahwa ambil rute repot, rute perjuangan, berada di sisi pendorong perubahan, bersama dalam angkatan mahasiswa yang berdiri tegak menyuarakan dan memperjuangkan perubahan,” imbuhnya.

Perjuangan dalam mengawal demokrasi juga bukanlah hal yang baru saja terjadi, rekan Anies sesama aktivis mahasiswa, Budiantoro Nur menulis dalam Tweet Anies ( 10/11/2019 ) cuitan yang ditulis mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menyikapi cover majalah Tempo dengan gambar ibarat Anies tenggelam dalam kaleng lem Aibon.

Pemilik Twitter dengan nama akun @booedi ini membagikan kenangannya bersama Anies Baswedan saat masih menjadi aktivis kampus.

“Tahun 1994, @aniesbaswedan memimpin demo mahasiswa memprotes pembredelan Majalah Tempo, Majalah Editor & Tabloid Detik,” tulisnya dengan melampirkan foto bersama Anies saat berunjuk rasa.

Hal ini jelas membuktikan bahwa Anies sejak dulu memang seorang pemimpin yang cerdas dan berani. Meski majalah Tempo yang sempat dibelanya kala itu kini menampilkan sosok dirinya dengan karikatur nyeleneh, Anies ternyata bukanlah seorang yang pendendam, bahkan Anies sangat berterimakasih dengan kritikan Tempo.

“Terima kasih Tempo telah jalankan tugasnya sebagai pilar keempat demokrasi. Semoga perbaikan sistem yang sedang berjalan bisa segera kami tuntaskan. Terus awasi kami yang sedang bertugas di pemerintahan,” tulis Anies melalui Twitter resminya pada Minggu, (10/11).

Di era kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta, terlihat Jiwa Anies sebagai pejuang demokrasi dan berjuang untuk menyemai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terlihat bagaimana Anies membangun Jakarta.

Salah satu karya demokrasi Anies di Jakarta adalah demokratisasi pembangunan kawasan jalan Sudirman dan MH Thamrin.

Dalam pandangan Anies kawasan ini terlihat tak manusiawi. Hanya memanjakan para pemilik kendaraan, dan meminggirkan para pejalan kaki.

Sebagaimana diketahui, pada periode sebelumnya, Kawasan protokol Jakarta, seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH. Thamrin, serta jalanan lebar lainnya di Jakarta hanya dapat dinikmati oleh mereka yang bekerja di wilayah itu saja, dan orang luar tidak bisa menikmatinya.

Jalan terbesar di Jakarta itu, kata Anies, hanya dimiliki oleh mereka yang bekerja di kawasan tersebut.

Mereka pun sebagaian besar membawa kendaran pribadi dari rumah menuju tempat kerjanya. Begitu sampai kantor, masuk dan keluar pakai kendaraan pribadi.

Nyaris tak ada aktivitas lainnya, seperti berjalan kaki antar gedung, menikmati ruang publik saat jam istirahat atau makan siang, maupun kegiatan lainnya yang mempertemukan para pekerja dapat bertemu dengan pekerja lainnya antar gedung sembari jalan kaki.

Kawasan Sudirman-Thamrin dengan sekumpulan gedung tinggi berdinding kaca pun tampak angker.

Lalu lalang dan deru mesin kendaraan yang melaju kencang mengisi hari-hari yang sibuk.

Melalui gagasan demokratisasi jalan dikawasan itu, Anies mulai melebarkan trotoar dan membangun jalur sepeda, dengan harapan kawasan itu menjadi ruang publik yang setara dan bisa dimanfaatkan oleh semua.

Perjuangan Anies dalam mewujudkan demokrasi dan keadilan sosial bukanlah sesuatu yang mengada ada dan dicitrakan, tapi memang itulah yang menjadi ruh aktifitas Anies dibanyak tempat dimana dia berpijak.

Anies adalah demokrat sejati, sebagaimana yang ditulis ditulis oleh ilmuwan politik dari Universitas Harvard, yaitu Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, dalam How Democracies Die ( 2018 ), Buku yang berisi tentang bagaimana para pemimpin terpilih dapat secara bertahap menumbangkan proses demokrasi untuk meningkatkan kekuasaan mereka. Anies menjadi antitesa untuk menghidupkan demokrasi di era kepemimpinannya. Anies tak otoriter dan tak anti kritik, Aneis sangat terbuka dan partisipatif dalam melibatkan rakyat untuk menyusun tata ruang yang demokratis.

2024 adalah momentum bagi kita semua untuk kembali menghidupkan kembali demokrasi setelah hampir selama 10 tahun demokrasi mengalami ketidakpastian bahkan mati suri, begitu juga suramnya keadilan sosial.

Masa depan Indonesia tergantung pada kita semua sebagai rakyat, apakah kita akan pilih pemimpin yang demokratis atau pemimpin yang menjadi antek oligarki. (*)

Editor: DAD

Membumikan Kembali Pancasila Bersama Anies Baswedan

KEMPALAN: KONTESTASI pilpres 2024 bukan hanya sekadar proses demokrasi untuk mendapatkan pemimpin yang baik dan berkualitas, tapi juga pemimpin yang mampu menjabarkan jiwa Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal ini penting, karena selama hampir 10 tahun masyarakat hanya dijejali dengan jargon – jargon kosong atas nama Pancasila. Bahkan pelaksanaan jiwa jiwa Pancasila juga sangat jauh dari kenyataan, jauh panggang dari api.

Salah satu elemen penting dalam sistem ketahanan nasional adalah ketahanan ideologi. Bagi Indonesia, ideologi yang dimaksudkan tentu saja ideologi Pancasila. Suryosumarto (1997: 34) menyebutkan bahwa ketahanan nasional mengandung prinsip dasar pengejawantahan Pancasila dalam segenap aspek kehidupan nasional.

Berbicara tentang ideologi Pancasila, suka tidak suka, kita juga harus merujuk pada pidato Ir Soekarno dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

BACA JUGA: Dari Koalisi Perubahan Menuju Koalisi Penyelamatan Indonesia

Dalam pidato tersebut ia menegaskan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang mampu menyatukan bangsa Indonesia. Selain itu, Pancasila dapat berperan dalam perdamaian dunia karena menjadi ideologi penyeimbang antara sosialisme dan kapitalisme ( Hasanudin Wahid, bpip. go.id, 12 Oktober 2020 )

Lalu mengapa pilihannya harus Anies Baswedan? Hal ini merujuk pada rekam jejak yang sudah dilakukan oleh Anies selama memimpin Jakarta serta hasil survey yang selalu memunculkan nama Anies Baswedan sebagai calon potensial presiden 2024.

Rekam jejak Anies selama memimpin Jakarta bisa dibilang sukses mewujudkan janji janji politiknya, utamanya janji menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta.

Sebagai gubernur dan pejabat negara saat itu, Anies mampu menghadirkan negara ketika rakyat membutuhkan. Misalkan Anies hadir ketika warga membutuhkan kepastian izin mendirikan bangunan. Misalkan pemberian izin mendirikan bangunan (IMB) Gereja Katolik Tambora dan gereja Immanuel di Jakarta. Selain itu Anies juga mencabut Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 122 tahun 1997 soal kepemilikan tanah warga Petamburan, Jakarta Pusat.

“Kepgub 122 tahun 1997 itu merupakan permasalahan utama bagi delapan RW di Petamburan yang lebih dari 20 tahun tidak bisa urus surat kepemilikan tanah dan tidak bisa urus IMB,” kata Anggota DPRD DKI Ismail di Balai Kota Jakarta, Jumat (7/1/2022), dikutip dari Antara.

BACA JUGA: Loh… Kok Anies Lagi yang Diundang

Pasca Pandemi berkaitan dengan upah buruh di Jakarta, Anies menaikkan menaikkan UMP Jakarta 2022 menjadi 5,1 persen dari 0,8 persen.

UMP DKI 2022 kini jadi Rp 4.641.854. Hal itu tertuang dalam Kepgub Anies nomor 1517 tahun 2021 tentang UMP Tahun 2022. Kepgub ini diteken Anies 16 Desember 2021.

“Menetapkan Upah Minimum tahun 2022 di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebesar Rp 4.641.854 per bulan,” demikian isi Kepgub Anies seperti dilihat, Senin (27/12/2021).

Keputusan Anies ini sempat digugat oleh para Pengusaha, Anies tidak gentar menghadapi mereka semua, Anies bahkan memberi penjelasan kepada para pengusaha dan meyakinkannya, yang pada akhirnya mereka bisa menerima apa yang menjadi keputusan Anies sebagai gubernur Jakarta saat itu.

Terlalu banyak rekam jejak Anies berkaitan dengan keberpihakannya kepada rakyat, sehingga Anies dianggap sebagai antitesa pemerintahan saat ini yang bercorak kapitalistik dan berpihak pada oligarki.

Bantuan Anies kepada semua kelompok ummat beragama lewat BOTI, adalah bukti Anies adalah pemimpin yang adil dan mempersatukan. Semasa dipimpin Anies, Jakarta menjadi tempat yang nyaman, toleran dan rumah bagi semua.

Bagi Anies, Pancasila tak hanya jargon dan ada dimulut saja, Anies meneladani para pendiri bangsa mengapa mereka menjadikan Pancasila sebagai ideologi pemersatu, Anies betul betul mewarisi jiwa para pendiri bangsa.

BACA JUGA: Antara Anies dan Anwar Ibrahim, Pemimpin Masa Depan dan Keteladanan

Kehadiran Anies mewarisi jiwa keIndonesiaan dan semangat Pancasila tidak hanya dilingkupi oleh Indonesia tapi juga masyarakat dunia.

Gagasan Anies tentang perubahan iklim dan ancamannya serta tanggung jawab negara negara maju di PBB, mendapatkan sambutan luar biasa dan disepakati sebagai bagian dari kerjasama dunia serta tanggung jawabnya, sehingga diharapkan ada persatuan dan perdamaian.

Indonesia seharusnya bersyukur memiliki Anies, karena melalui Anies lah jiwa Pancasila hidup kembali dan membumi. Indonesia disegani oleh dunia karena ruh Pancasila yang disebarkan oleh Anies.

Sudah sewajarnya kalau kedepan dalam perhelatan suksesi kepemimpinan nasional, bangsa ini lebih bisa berfikir rasional, karena dengan cara itu, bangsa ini tidak terjebak pada citra palsu calon pemimpin. (*)

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.