Minggu, 17 Mei 2026, pukul : 04:49 WIB
Surabaya
--°C

Dari Sekat Urusan ke Satu Data, Satu Tanggung Jawab

Ketika cara pandang dan sistem kerja bergerak selaras – tatkala akhirnya data menjadi jembatan, bukan sekat; ketika tupoksi menjadi pijakan, bukan batas – maka sekat-sekat birokrasi perlahan berubah jadi simpul yang saling menguatkan.

Oleh: M. Isa Ansori

KEMPALAN: Problem berulang dalam tata kelola negara kerapkali bukan lahir dari ketiadaan niat baik, melainkan dari cara kerja yang terfragmentasi. Negara, dalam upayanya menjawab begitu banyak kebutuhan publik, membagi urusan ke dalam kementerian dan kedinasan.

Ini adalah keniscayaan organisasi: spesialisasi supaya pekerjaan lebih fokus dan terukur. Tapi, dalam praktiknya, pembagian itu kerap berujung pada sekat-sekat yang sulit ditembus.

Setiap urusan diselesaikan dalam batas administratif masing-masing institusi, tapi berhenti di sana – tidak berlanjut, tidak terhubung, dan tidak pula selalu memberi dampak utuh bagi masyarakat.

Padahal, persoalan publik hampir selalu melalui lintas sektor. Ketika satu dinas menuntaskan bagiannya tanpa keterhubungan dengan dinas lain, yang terjadi bukan penyelesaian, melainkan penundaan masalah dalam bentuk yang berbeda.

Akar persoalan ini tidak tunggal. Ia lahir dari pertemuan antara cara memaknai kerja birokrasi dan desain sistem penopangnya.

Di satu sisi bahwa setiap kementerian dan kedinasan bekerja dengan data masing-masing – yang dikumpulkan sesuai kebutuhan internal, diolah untuk kepentingan programnya, dan digunakan untuk mengukur keberhasilan sektoral.

Data kemudian menjadi alat legitimasi kinerja, bukan jembatan kolaborasi. Yang muncul adalah kebenaran-kebenaran parsial yang tidak selalu saling bertemu.

Di sisi lain, tupoksi yang seharusnya menjadi pijakan kerja justru kerap dipahami sebagai batas akhir. Ia menjaga ketertiban, tetapi sekaligus membatasi gerak. Ketika tupoksi dimaknai secara kaku, setiap persoalan berhenti di meja masing-masing.

Sebaliknya, cara pandang yang sempit membuat tupoksi terasa semakin rigid. Keduanya saling mengunci, membentuk lingkaran yang membuat masalah publik sulit ditangani secara utuh. Karena itu, solusinya tidak bisa parsial. Ia harus bisa menyentuh cara berpikir sekaligus sistem kerja.

Pertama, diperlukan pergeseran cara memaknai: dari sekadar “mengurusi urusan” menjadi “menunaikan tanggung jawab”.

Ini berarti setiap institusi tidak berhenti pada pertanyaan apa yang akan menjadi bagiannya, tetapi melangkah lebih jauh – apakah persoalan publik benar-benar sudah selesai. Perspektif ini mengubah orientasi dari kepemilikan tugas menjadi kepemilikan hasil. Di titik ini, kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Kedua, tupoksi tidak harus dibongkar, tapi perlu dilenturkan melalui mekanisme lintas sektor. Program bersama, indikator kinerja kolektif, serta skema anggaran yang memungkinkan kolaborasi menjadi penting agar batas administratif tidak berubah menjadi sekat permanen. Tupoksi tetap menjadi pijakan, tetapi bukan penghalang.

Ketiga, integrasi data harus melampaui sekadar konektivitas. Satu data harus menjadi satu rujukan bersama dalam membaca realitas. Ketika semua institusi melihat persoalan dengan basis yang sama, maka kebijakan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan.

Keempat, kepemimpinan memegang peran kunci. Kolaborasi lintas sektor jarang lahir secara alamiah dalam birokrasi; ia perlu didorong melalui desain kebijakan yang menautkan kepentingan dan kinerja antarinstansi. Tanpa itu, integrasi hanya akan berhenti sebagai wacana administratif.

Pada akhirnya, negara tidak diukur dari seberapa banyak urusan yang ditangani, melainkan dari seberapa utuh tanggung jawab itu dijalankan.

Ketika cara pandang dan sistem kerja bergerak selaras – tatkala akhirnya data menjadi jembatan, bukan sekat; ketika tupoksi menjadi pijakan, bukan batas – maka sekat-sekat birokrasi perlahan berubah jadi simpul yang saling menguatkan.

Di sanalah negara benar-benar hadir: bukan sebagai kumpulan urusan yang terpisah, melainkan sebagai kesatuan tanggung jawab yang bekerja bersama menjawab kebutuhan rakyat.

*) M. Isa Ansori, Kolumnis, Pengajar Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, Pengamat Kebijakan Sosial Budaya Pendidikan dan Perlindungan Anak

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.