Anies dan Keputusan Politik Koalisi Perubahan

waktu baca 4 menit
Anies Baswedan bersama Agus Harimurti Yudhoyono

KEMPALAN: Perjuangan memenangkan Anies dalam Pilpres memang masih panjang, tahapan – tahapannya juga masih belum dimulai, namun riuh dukungan dan harapan akan perubahan menggelayut dalam setiap benak masyarakat Indonesia haus akan hadirnya narasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suasana kebatinan masyarakat akan hadirnya perubahan itulah yang kemudian ditangkap oleh Partai NasDem, PKS dan Demokrat bahkan kemudian menyusul Partai Ummat untuk membuat keputusan politik mendukung Anies menjadi Capresnya.

Meski belum secara resmi ketiga Partai Koalisi Perubahan mendeklarasikan bersama keputusan politiknya, tapi kita patut berterimakasih kepadanya.

Partai NasDem meski berasal dari Koalisi partai pemerintah, dengan kesadaran penuh akan restorasi Indonesia, ditengah krisis ancamam KPK yang akan mentersangkakan Anies Baswedan, Surya Paloh dengan Partai Nasdemnya melakukan upaya pasang badan dengan mendeklarasikan Anies sebagai capres melalui rapat koordinasi nasional yang dilakukan di bulan Oktober 2022.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Demokrat dan PKS, secara berurutan dalam waktu yang hampir bersamaan, mengumumkan bahwa Capres yang diusung adalah Anies Baswedan.

Lalu apa dampak dari keputusan politik partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan ini? Konstelasi politik berubah total.

Istana yang pada awalnya merasa digdaya, bisa melakukan apa saja yang diinginkan, ibarat kapal kini mulai terlihat oleng.

Para penumpang yang ada mulai berusaha mencari selamat. Mulai ada keretakan dan ketidakpercayaan.

Mereka mulai saling serang dan saling terkam. Dalam hal keinginan penundaan pemilu dan pilpres, PDIP yang menjadi Partai pemenang dan Partai penguasa kini mulai pasang badan. Keinginan Jokowi untuk menjadikan dirinya tiga periode dengan penundaan pemilu, dicegah oleh Megawati. Bahkan keinginan Jokowi memaksakan Ganjar untuk menjadi Capres yang didukung melalui PDIP juga tidak sejalan dengan keinginan Megawati.

Terlihat terjadi keretakan hubungan antara Jokowi dan istana dengan Megawati. Megawati berusaha menjadi garda depan menentang terjadinya penundaan pemilu.

Keputusan politik Partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan, mulai menggoyahkan kesolidan Partai Koalisi Pemerintahan. Jokowi yang biasanya suka bergurau dan memberi dukungan kepada capres – capres yang di endorse, kini juga mulai serius bagaimana membangun kesolidan koalisi pemerintahan.

Manuver PAN memunculkan pasangan Ganjar – Eric Tohir, tentu tak bisa dilepaskan dari pengaruh istana, karena pasangan inilah yang diharapkan akan menjadi “pewarisnya”. Pasangan yang bisa diharapkan untuk menjamin keberlanjutan program – programnya.

Ternyata manufer PAN tidak bergayung sambut dengan partai-partai yang ada dalam KIB.

Golkar sudah pasang harga mati bahwa Capres yang diusung adalah sang ketua, Airlangga Hartarto, bahkan Rohmahurmuzy, PPP bertemu Hasto, membuka kemungkinan bekerjasama.

Koalisi Pemerintahan yang tersebar dalam tiga kelompok partai, Koalisi Indonesia Raya, yang terdiri dari Gerindra dan PKB, Koalisi Indonesia Bersatu, yang terdiri dari PAN, PPP dan Golkar, tentu masing – masing sudah punya calon yang mereka usung. Manufer PAN, tentu akan mengalami kesulitan.

Upaya membendung keputusan politik Koalisi Perubahan dengan mengusung Anies saat ini sudah tak bisa lagi, lalu manufer yang dilakukan adalah membangun Koalisi Baru antara KIR dan KIB, yang tentu tak mungkin pasangan yang diusung adalah Ganjar – Eric Tohir untuk bisa mengalahkan Anies.

Prabowo sang patriot yang pernah mengatakan akan timbul tenggelam bersama rakyat, merasa mampu dan yakin bisa mengalahkan Anies. Pertemuan dengan Surya Paloh, Ketua umum partai NasDem, Prabowo menghormati pilihan masing – masing dan beliau juga menegaskan bahwa Gerindra memintanya untuk maju menjadi Capres 2024.

Nampaknya manuver Prabowo menjadi sinyal bahwa Koalisi Pemerintahan masih punya nyali melawan Koalisi Perubahan dan Anies yang kini sudah menjadi harapan rakyat. Nampaknya manuver Prabowo juga terakselerasi dengan manuver Hasto yang akan menemui KIB dan KIR dan kemungkinan akan membangun poros baru. Namun itu akan sulit terjadi, karena masing masing jelas punya kepentingan yang berbeda.

Ibarat perang, sejatinya Koalisi Pemerintahan kini saling tikam dan saling bunuh. Mereka bergerak dan bertempur dalam ketidakpastian. Istana pun saat ini hanya bisa berteriak teriak sebagai bagian mengelabuhi seolah masih punya kekuatan dan kesolidan.

Keputusan PN Jakarta yang merekomendasikan penundaan pemilu harusnya bisa dibaca bahwa Anies dan Koalisi Perubahan sudah tak bisa dibendung lagi, lalu langkah apa yang akan dilakukan? Menggunakan instrumen hukum adalah cara jitu dan halus untuk mengadang Anies. Pernyataan Firli yang menegaskan KPK akan bekerja secara profesional adalah sebuah ungkapan yang layak untuk digarisbawahi.

Semoga Anies bisa selamat dari gangguan para penghadangnya. Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *