Pendidikan yang sehat justru adalah ruang dialog antara keduanya – di mana Adult – Adult transaction menjadi dominan: guru dan murid sama-sama subjek yang berpikir, bukan relasi satu arah.
Oleh: M. Isa Ansori
KEMPALAN: Tulisan ini tanggapan terhadap tulisan Prof Daniel Mohammad Rosyid yang berjudul Deschooling Sistem Pendidikan.
Pagi kemarin, Sabtu, 2 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya mendapatkan kiriman tulisan dari Prof Daniel Mohammad Rosyid. Saya sangat berterima kasih dengan tulisan ini, karena dari konsistensi gagasan inilah setidaknya menyadarkan kita semua bahwa selama ini pendidikan kita telah tersesat menjadi ekosistem persekolahan yang menihilkan ruang perjumpaan antara guru, murid dan orang tua.
Bahwa tulisan beliau menghadirkan kritik tajam terhadap dominasi persekolahan, dengan merujuk pada gagasan Ivan Illich, Ken Robinson, hingga John Taylor Gatto. Sebagai orang yang bergelut dalam proses belajar dikelas dengan menggunakan pola Transaksional Analisis, Eric Berne, gagasan deschooling ini bisa diperkaya – sekaligus diuji – secara lebih psikologis dan relasional.
Pertama, dalam kerangka TA, manusia beroperasi dalam tiga ego state: Parent, Adult, dan Child. Nah saya membacanya bahwa sistem persekolahan modern yang dikritik dalam tulisan tersebut memang sering terjebak dalam relasi Parent–Child yang kaku: sekolah sebagai otoritas (Parent) yang memberi instruksi, sementara murid menjadi penerima pasif (Child).
Dalam konteks ini, kritik deschooling menjadi relevan – karena ia berusaha membebaskan individu menuju posisi Adult, yaitu kesadaran rasional, otonom, dan mampu memaknai pengalaman secara mandiri.
Namun di titik ini, gagasan deschooling tidak boleh berhenti pada pembongkaran struktur. Sebab jika struktur “Parent” dilemahkan tanpa membangun kapasitas “Adult”, yang muncul justru bisa regresi ke “Child” yang impulsive – belajar tanpa arah, tanpa disiplin, dan tanpa tanggung jawab.
Internet sebagai learning webs memang membuka kebebasan, tetapi juga dapat berpotensi menciptakan banjir informasi tanpa integrasi makna. Dalam istilah TA, ini berisiko melahirkan free child tanpa adult regulation.
Kedua, pernyataan bahwa “keluarga adalah tempat belajar terbaik” perlu dibaca lebih kritis dalam perspektif TA. Tidak semua keluarga menghadirkan nurturing parent. Banyak keluarga justru mereproduksi critical parent – penuh tekanan, kekerasan simbolik, bahkan trauma.
Jika pendidikan sepenuhnya “dikembalikan” ke keluarga tanpa intervensi sosial, maka ketimpangan psikologis dan sosial bisa semakin dalam. Sekolah, dengan segala kekurangannya, kadang justru menjadi ruang alternatif bagi anak untuk menemukan adult state yang tidak ia dapatkan di rumah.
Ketiga, gagasan bahwa “setiap orang adalah guru” selaras dengan konsep TA tentang stroke economy – bahwa manusia saling memberi pengakuan dan pembelajaran dalam relasi. Namun dalam praktiknya, tidak semua “transaksi” bersifat sehat.
Tanpa kerangka nilai dan kompetensi, maka relasi belajar bisa menjadi ulterior transaction – terlihat mendidik, tetapi sebenarnya memanipulasi atau bahkan menyesatkan. Di sinilah peran institusi (termasuk sekolah) tetap diperlukan sebagai penjaga kualitas interaksi.
Keempat, kritik terhadap standardisasi memang tepat, tetapi TA mengingatkan bahwa manusia juga membutuhkan struktur untuk berkembang. Kebebasan tanpa struktur adalah ilusi, sebagaimana struktur tanpa kebebasan adalah penindasan.
Pendidikan yang sehat justru adalah ruang dialog antara keduanya – di mana Adult – Adult transaction menjadi dominan: guru dan murid sama-sama subjek yang berpikir, bukan relasi satu arah.
Akhirnya, gagasan deschooling seharusnya tidak dibaca sebagai penghapusan sekolah, melainkan transformasi relasi dalam pendidikan. Sekolah tidak lagi menjadi “pabrik manusia”, tetapi menjadi ruang perjumpaan yang memfasilitasi tumbuhnya Adult state: kritis, reflektif, dan bermakna.
Dalam bahasa Ki Hajar Dewantara, pendidikan memang harus menjadi “taman” – tetapi taman tetap membutuhkan tukang kebun, arah, dan ekosistem yang dijaga.
Dengan demikian, problem kita bukan sekadar “terlalu banyak sekolah dan terlalu sedikit pendidikan”, tapi terlalu banyak relasi yang tidak sehat dalam pendidikan. Deschooling tanpa re-schooling of human relations hanya akan memindahkan masalah dari institusi ke individu.
Dan di situlah tantangan sesungguhnya: bukan membongkar sekolah, melainkan memanusiakan kembali proses belajar.
Akhirnya saya mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional, Kembalikan Sekolah menjadi lembaga pendidikan yang memanusiakan.
*) M. Isa Ansori, Kolumnis, Pengajar Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, Wakil Ketua ICMI Jatim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi