SIDOARJO –KEMPALAN: Dunia olahraga Kabupaten Sidoarjo yang biasanya gemilang dengan prestasi, kini berada di titik nadir. Ketidakjelasan nasib para atlet yang tengah bersiap menuju Kejurkab, Kejurprov, hingga Porprov X Jatim 2027, memicu gelombang kemarahan dari puluhan Cabang Olahraga (Cabor).
Puncaknya terjadi dalam pertemuan darurat di Kantor Disporapar Sidoarjo pada Rabu (08/04/2026). Forum yang dihadiri legislator, pejabat pemkab, dan pengurus cabor tersebut berubah menjadi ajang evaluasi terbuka terhadap kepemimpinan Ketua Umum KONI Sidoarjo saat ini.
Ultimatum Keras Legislator: “Mundur atau Dimundurkan”
Suasana ruang pertemuan memanas saat legislator senior DPRD Sidoarjo, Warih Andono dan TarkitFasichullisan Erdianto angkat bicara. Keduanya memberikan peringatan keras kepada pucuk pimpinan KONI yang dinilai abai terhadap kegelisahan konstituen di akar rumput.
“Kita tidak sedang bermain-main dengan nasib ribuan atlet. Jika nakhoda sudah tidak lagi mampu mendengar suara awak kapal dan mengabaikan arah prestasi, maka hanya ada satu jalan keluar: Mundur secara teratur atau dipaksa mundur melalui Musorkablub (Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa)!” tegas Warih dengan nada tinggi di hadapan forum.
Ia menekankan bahwa langkah ini murni demi menyelamatkan prestasi olahraga Sidoarjo, bukan persoalan personal. “Jangan sampai ego satu orang menghancurkan masa depan pejuang prestasi kita. Pilihannya jelas, mundur teratur atau hukum organisasi yang akan bekerja,” tambahnya.
Dukungan Anggaran Rp10 Miliar Tanpa Potongan

Di tengah isu efisiensi anggaran daerah, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menegaskan komitmennya agar atlet tidak menjadi korban carut-marut organisasi. Kepala Disporapar Sidoarjo, Yudhi Iriyanto, memastikan dukungan finansial untuk KONI tetap utuh.
“Pemkab Sidoarjo mendukung penuh prestasi olahraga. Meski ada efisiensi di berbagai sektor, kami tetap mempertahankan dana hibah KONI sebesar Rp10 Miliar. Ini angka yang signifikan sebagai bentuk apresiasi bagi para pejuang prestasi,” ujar Yudhi.
4 Poin Kesepakatan Strategis

Pertemuan tersebut menghasilkan empat poin krusial untuk menjamin keberlangsungan olahraga di Kota Delta:
Kepastian Anggaran: Dana hibah Rp10 Miliar dikunci tanpa efisiensi demi kepentingan teknis atlet.
Integritas Hukum: DPRD melarang keras adanya kegiatan fiktif dan mewajibkan laporan pertanggungjawaban (SPJ) yang tepat waktu dan transparan.
Restrukturisasi Internal: Rekonsiliasi total struktur kepemimpinan dan perbaikan komunikasi antara Ketua Umum dengan jajaran pengurus.
Kedaulatan Cabor: Penegasan bahwa Ketua Cabor adalah pemilik suara tertinggi dan pemegang mandat sah dalam tubuh KONI.
Aksi Protes di Kantor KONI

Usai pertemuan, ketegangan berlanjut di luar ruangan. Puluhan perwakilan Cabor—mulai dari Senam, Atletik, Catur, hingga Bela Diri—melakukan aksi spontan dengan membentangkan poster di pagar Kantor KONI Sidoarjo, Jalan Pahlawan.
Tulisan seperti “TURUNKAN KETUA KONI”, “GELAR MUSORKABLUB SEKARANG”, dan “JANGAN KORBANKAN ATLET KAMI” terpampang jelas. Mereka mendesak perubahan manajemen yang dianggap telah lumpuh.
Kini, bola panas berada di tangan Ketua Umum KONI Sidoarjo. Akankah ia memilih mundur demi menjaga kondusivitas atlet menuju Porprov X Jatim 2027, atau membiarkan mekanisme organisasi melalui Musorkablub yang mengambil alih kemudi? Satu hal yang pasti, para pengurus Cabor Sidoarjo telah bertekad: prestasi tidak boleh mati akibat birokrasi yang tersumbat.
(Ambari Taufiq / M. Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi