Rabu, 6 Mei 2026, pukul : 01:03 WIB
Surabaya
--°C

38 Pelukis dari Tiga Kota Pamerkan Karya di Galeri Merah Putih

KEMPALAN-SURABAYA : Sebanyak 38 pelukis dari tiga kota yakni Surabaya, Sidoarjo, Gresik, yang tergabung dalam komunitas Aksi Seniman Surabaya (ASSU) bersiap menggelar pameran di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya.

Pameran bertajuk Art for Freedom dibuka pada Rabu (1/4/2026) jam 16.00 WIB selama sepekan hingga Rabu (8/4/2026).

Di balik tajuknya yang lugas, Art for Freedom, bukan sekadar agenda pameran rutin. Ia lahir dari perjumpaan panjang para pelukis dengan realitas sosial, dinamika kota, dan pergulatan personal yang terakumulasi dalam karya.

ASSU, sebagai wadah kolektif, menghadirkan spektrum ekspresi yang luas, dari yang lirih hingga yang lantang, dari yang kontemplatif hingga yang provokatif dalam goresannya di kanvas.

Para perupa yang terlibat bukan nama-nama baru. Mereka adalah seniman yang telah lama berkarya, menapaki perjalanan estetika masing-masing dengan konsistensi yang teruji waktu.

Di antara mereka, ada yang setia pada sapuan impresionis yang menangkap cahaya dan suasana, ada yang menekuni realisme dengan detail yang nyaris fotografis, dan tak sedikit pula yang memilih jalur abstraksi dalam membebaskan bentuk dan warna dari keterikatan representasi.

Keberagaman gaya itu menjadi denyut utama pameran ini. Tidak ada satu suara tunggal yang mendominasi; yang hadir justru koor visual yang saling bersahutan.

“Sebenarnya lebih dari 38 pelukis dari berbagai kota di Jatim yang siap bergabung. Tapi kami kesulitan dalam menata karya teman-teman,” kata Muit Arsa, koordinator ASSU.

Para pelukis dari Surabaya adalah Ami Tri, Andreanus G, Ani Hasan, Ariel Ramadhan, Budi Bi, Budi Ipeng, Cak Har, Choy, Esti Kunanti, Grace, Gwynneth, Haritono, Helmy, Henry S, Herman S, Hermin Fuji, Kak Herry, Lukman Gimen, Maman PS, Maria, Misgeiyanto, Muit Arsa, Nana Murti, Nini Sumini, Nurul Nuywell, Pingki Ayako, S. Rijal, Syam Arif,
Syamdhuro, Triyoso Yusuf, Tyo AK, Tyo Punk, Webeech, Widijawati.

Sedangkan 3 pelukis dari Sidoarjo yakni
Cholis Rajaba, Welldo Wnophringgo, Yoes Wibowo, dan satu pelukis dari Gresik, Arik S. Wartono.

Dalam satu ruang, pengunjung galeri bisa beralih dari lanskap yang lembut dan nostalgik menuju komposisi warna yang meledak.

Perpindahan itu bukan sekadar estetika, melainkan juga perjalanan batin yang mengajak publik membaca kebebasan dari berbagai sudut pandang karya seni.

Di tengah geliat seni rupa yang terus berkembang, ASSU menempatkan diri sebagai simpul yang menjaga keberlanjutan sekaligus membuka ruang dialog berkesenian.

Art for Freedom menjadi penanda bahwa kebebasan, dalam konteks seni, bukan hanya tema, tetapi juga metode atau cara seniman berbicara dan bereksperimen.

Pameran ini diharapkan tidak berhenti sebagai peristiwa visual semata. Lebih jauh, ia menjadi ajakan untuk melihat ulang makna kebebasan berkarya di tengah kehidupan urban yang kian kompleks. (nTok)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.