SIDOARJO–KEMPALAN : Kabut ketidakpastian menyelimuti Stadion Gelora Delta. Di saat kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 memasuki fase krusial putaran ketiga, Deltras FC justru mengambil langkah ekstrem: melepas sang arsitek utama, Widodo Cahyono Putro (WCP), dan asistennya Agam Haris Pambudi.
Keputusan ini menjadi puncak dari rentetan kebijakan “cuci gudang” manajemen The Lobster. Sebelum kepergian WCP ke Garudayaksa, publik Sidoarjo sudah lebih dulu dikejutkan dengan penjualan pilar utama, termasuk kapten tim Bima Ragil ke Persipura Jayapura dan Taufan Hidayat ke PSIS Semarang. Fenomena ini memicu kritik pedas suporter; apakah Deltras masih mengejar promosi, atau sekadar mencari profit di bursa transfer?
CEO Deltras FC, Amir Burhannudin, berdalih bahwa kesepakatan ini demi masa depan individu sang pelatih.
“Dinamika sepak bola profesional memang seperti ini. Kami tidak ingin menghambat jenjang karier seseorang ketika ada tawaran yang lebih tinggi. Meski berat, kami mengizinkan Coach Widodo melanjutkan perjalanannya,” ujar Amir, Rabu (25/3/2026).

Bisnis di Atas Ambisi: Deltras Sidoarjo Lepas WCP ke Garudayaksa, Sinyal “Lempar Handuk” di Tengah Musim?
Logika Finansial vs Mimpi Promosi
Meski narasi resminya adalah “kesepakatan bersama”, sumber internal mengindikasikan adanya kompensasi finansial yang menggiurkan bagi kas klub di balik kepindahan WCP. Dengan posisi Deltras yang relatif aman dari degradasi namun mulai melambat dalam perebutan puncak klasemen, langkah ini dibaca publik sebagai sikap pragmatis—bahkan sinyal “lempar handuk” dari persaingan kasta tertinggi.
Widodo C. Putro menanggapi kepindahannya dengan nada diplomatis, menampik isu keretakan hubungan dengan manajemen.
“Ini bukan soal dipecat. Ini tentang kesepakatan strategis yang menguntungkan semua pihak, terutama untuk keberlanjutan karier saya ke depan,” tegas legenda Timnas Indonesia tersebut.
Selama menahkodai Deltras, WCP berhasil membangun stabilitas taktis dan berani mengorbitkan talenta muda hingga membawa tim bersaing di lima besar. Kini, beban berat berada di pundak Nurul Huda sebagai caretaker, didampingi sosok senior Hariono.
Kini, publik Sidoarjo hanya bisa menunggu: apakah strategi “menjual” aset terbaik ini akan menyelamatkan kesehatan finansial klub untuk jangka panjang, atau justru menjadi titik balik runtuhnya mentalitas bertanding Deltras di sisa musim? Di tribun Gelora Delta, pertanyaan itu menggantung: Mengejar prestasi, atau sekadar bertahan di industri?
(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi