Rangkaian keputusan tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Apakah ini sekadar reaksi sesaat terhadap konflik yang sedang memanas, atau tanda bahwa sebagian negara mulai menggeser posisi geopolitiknya?
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Sejumlah negara mulai mengambil jarak dari Amerika Serikat dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Situasi ini mencuat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran menyatakan bahwa negara mana pun – baik di Timur Tengah maupun Eropa – yang mengusir atau menarik duta besar Israel dan Amerika Serikat akan memperoleh kemudahan akses pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pernyataan itu seolah melempar kartu baru ke meja permainan geopolitik yang selama ini sudah panas.
Respons sejumlah negara pun bermunculan. Pemerintah Spanyol, misalnya, secara resmi menarik duta besarnya dari Tel Aviv dan menurunkan level hubungan diplomatik hanya pada tingkat kuasa usaha.
Langkah ini setelah hubungan diplomatik kedua negara sebenarnya sudah renggang sejak 2024, ketika Israel tidak lagi menempatkan duta besarnya di Madrid.
Di Afrika, Afrika Selatan mengambil langkah yang lebih tegas dengan mengusir duta besar Israel beserta seluruh staf diplomatiknya serta menutup kedutaan Israel.
Langkah ini bisa menambah panjang daftar ketegangan diplomatik antara Pretoria dan Tel Aviv yang sebelumnya sudah berselisih soal konflik di Gaza.
Langkah serupa juga ditempuh negara-negara Amerika Latin. Pemerintah Kolombia memutuskan membekukan hubungan diplomatik dengan Israel dan menarik seluruh staf perwakilan dari Tel Aviv.
Sementara itu, Chili memilih menarik duta besarnya untuk waktu yang belum ditentukan.
Di kawasan yang sama, Brasil juga menarik duta besarnya dari Israel tanpa batas waktu yang jelas.
Dan bahkan, Pemerintah Brasil dilaporkan sedang mempertimbangkan kemungkinan mengevakuasi seluruh misi diplomatiknya dari negara tersebut. Jika benar terjadi, langkah itu ibarat mematikan lampu di sebuah kantor yang selama ini masih mencoba bertahan di tengah badai.
Sementara itu, Turki mengambil jalur berbeda. Ankara memanggil pulang duta besarnya dari Amerika Serikat untuk konsultasi dan menutup wilayah udaranya bagi penerbangan militer yang menuju Israel.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa ketegangan diplomatik tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan menjalar ke berbagai jalur hubungan internasional.
Di Eropa Utara, Norwegia juga mengumumkan penarikan duta besarnya dari Tel Aviv serta membekukan aktivitas misi diplomatiknya. Negara yang selama ini dikenal aktif dalam diplomasi perdamaian tersebut tampaknya memilih menekan tombol “pause” dalam hubungan dengan Israel.
Dari Afrika Utara, Aljazair akhirnya memanggil pulang duta besarnya dari Washington sebagai bentuk protes terhadap veto berulang Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB yang menghalangi resolusi gencatan senjata.
Protes ini memperlihatkan bagaimana dinamika konflik regional dapat memicu riak ketegangan hingga ke ruang-ruang diplomasi global.
Langkah paling drastis datang dari Irlandia. Pemerintah Dublin menarik duta besarnya dari Tel Aviv sebagai bentuk kecaman terhadap perang yang melibatkan Iran, sekaligus mengevakuasi misi diplomatiknya dan menutup kedutaan Israel di negara tersebut.
Rangkaian keputusan tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Apakah ini sekadar reaksi sesaat terhadap konflik yang sedang memanas, atau tanda bahwa sebagian negara mulai menggeser posisi geopolitiknya?
Dalam politik internasional, langkah-langkah seperti ini seringkali bisa menyerupai orang yang pelan-pelan menjauh dari meja makan ketika suasana diskusi berubah terlalu panas – tidak selalu berarti meninggalkan meja sepenuhnya, tetapi jelas menunjukkan bahwa ada yang tidak lagi nyaman.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi