Kamis, 30 April 2026, pukul : 20:14 WIB
Surabaya
--°C

Abu Janda

Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Permadi Arya alias Abu Janda menjadi viral di media sosial, karena gaya debatnya yang super-agresif dalam sebuah acara debat di televisi. Tema debat itu mengenai perang Amerika vs Iran. Abu Janda sengaja dipasang sebagai antagonis, sementara di kubu protagonis ada Prof. Ikrar Nusa Bhakti, Prof. Ferry Latuhihin, dan Dr Feri Amsari.

Mungkin Abu Janda salah makan saat sahur, atau lupa minum obat. Gaya debatnya lepas kontrol. Berteriak-teriak sambil menuding-nuding. Ia berdiri dari tempat duduk dan mendatangi lawan debat. Ia bahkan menyebut kata ‘’tolol’’ dan ‘’goblok’’.

Abu Janda menyebut semua lawan debatnya ‘’baper’’. Ia bahkan menyebut kata ‘’bangke’’ dan ‘’anjir’’. Ia menyela ucapan semua lawan debatnya. Moderator debat, Aiman Witjaksono, akhirnya tidak tahan dan mengusir Abu Janda dari acara.

Ilustrasi itu menjadi salah satu bukti sebuah adagium lama, ‘’The first casualty of war is truth’’, korban pertama perang adalah kebenaran. Adagium ini diperkenalkan oleh dramawan Yunani, Aeskilus (550 SM). Adagium ini menggambarkan bahwa pertempuran bukan hanya terjadi di medan laga. Perang yang tidak kalah dahsyat terjadi di media, dalam bentuk pertarungan wacana dan perang narasi.

Debat ala Abu Janda itu menunjukkan bahwa media menjadi bagian dari medan pertempuran wacana yang keras. Abu Janda menjadi sosok pembela Israel dan Amerika yang sangat fanatik. Ia menyerang semua lawan debatnya tanpa peduli logika dan tatakrama.

Fenomena yang sama terjadi juga di Amerika Serikat. Pendukung Donald Trump dari kalangan Partai Republik garis keras terkenal paling agresif, kasar, dan nir-etika.

Trump menjadi figur utama. Ia tidak pernah segan berbohong. Bahkan keterampilannya dalam berdusta ini berada pada level dewa. Bagi Trump tidak ada konsep bohong. Semua kebohongan dijustifikasi atas nama kepentingan politiknya.

Bagi Trump tidak ada bohong, hoaks, fake news, atau disinformasi. Yang ada adalah post-truth, alternative fact, dan echo-chamber. Sebagaimana konsep propaganda Nazi yang dipopulerkan oleh Joseph Goebbels, kebohongan yang direpetisi seribu kali akan menjadi kebenaran.

Publik tidak bisa membedakan antara ‘’truth’’, dengan ‘’familiarity’’. Ketika publik sangat sering mendengar dusta yang sama, mereka akan mengenalinya, dan menganggapnya sebagai kebenaran.

George W. Bush mencari pembenaran untuk menggempur Iraq dan menangkap Saddam Hussein pada 2003. Ia merekayasa adanya WMD (weapons of mass destruction) senjata penghancur massal. Ternyata tidak ada WMD di Iraq, tapi Bush tetap melenggang tanpa konsekuensi hukum apapun.

Trump menggambarkan Iran sebagai negara teroris yang berbahaya karena punya senjata nuklir. Iran menjadi penyebab utama kawasan Timur Tengah tidak stabil. Karena itu Iran harus dihancurkan.

Andai Iran tidak punya minyak dan tidak mengontrol Selat Hormuz, tidak akan ada serbuan tentara Trump. Kalau tidak ada Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Reza Pahlevi, Amerika sekarang tidak akan mengeluarkan biaya perang USD 2 miliar per hari atau setara Rp 32 triliun.

Bagi Noam Chomsky organisasi teroris terbesar bukan Iran atau Hamas, tapi Partai Republik Amerika Serikat. Chomsky menyebut Amerika sebagai pelaku terorisme negara yang paling berbahaya.

Media massa Amerika, kata Chomsky adalah bagian dari ‘’Manufacturing Consent’’ (1988). Media massa Amerika menjadi institusi ideologis efektif yang berkuasa dan melaksanakan fungsi propaganda untuk menopang kepentingan politik luar negeri Amerika.

Ada ilustrasi yang lucu. Ketika Mojtaba Khamanei terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, media Amerika mengecam keras, menuduh Iran melakukan nepotisme dan politik dinasti.

Para pemimpin redaksi Amerika lupa bahwa George H. Bush mewariskan kepresidenen kepada anaknya George W. Bush. Bill Clinton ingin mewariskan kepresidenen kepada istrinya Hillary, tapi gagal.

Donald Trump mengangkat anaknya, Ivanka sebagai penasihat ahli. Dan menantu Trump, Jared Kushner menjadi operator dan negosiator utama di Timur Tengah. Mau tertawa takut batal puasa…

Kabar mengenai kondisi Benjamin Netanyahu sampai sekarang masih simpang siur. Muncul postingan Vladimir Putin yang mengkonfirmasi kematian Netanyahu. Kelihatannya rekayasa artificial intelligence Tapi belum ada konfirmasi dari Israel.

Perang wacana dan narasi akan makin seru, karena Mojtaba Khamanei terjun langsung melawan Trump dalam perang media sosial. Khamanei resmi punya akun di platform X milik Elon Musk.

Boleh saja Iran menyebut Amerika sebagai setan besar. Tapi teknologi setan besar boleh saja dipakai untuk memerangi si setan besar. Mau ketawa takut gak dapat THR…(*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.