Jujur, Tulus. Siapa?

waktu baca 8 menit
M. Anis bersama rekan-rekan jurnalis pada ulang tahun portal berita BeritaJatim.com. 2 tahun lalu, dari kiri : Taufik, M. Anis, CEO BeritaJatim.com. Lucky Lokononto, Toto Sonata, saya.

KEMPALAN : Tiga minggu lalu saya mendapat kiriman paket dari Penerbit Lingkar Budaya Cerdas, Jakarta — isinya buku “Autobiografi Erros Djarot 1” dan “Erros Djarot – Apa Kata Sahabat”.

Sebulan sebelumnya saya mendapat kiriman “Erros Djarot – Apa Kata Sahabat”.

Namun, kali ini buku “Erros Djarot Apa Kata Sahabat” sampulnya hard cover, sama dengan “Autobiografi Erros Djarot 1”. Dengan demikian saya punya 2 ekslempar “Erros Djarot – Apa Kata Sahabat “. Terima kasih, Pak Anis …

Seperti pernah saya tulis sebelumnya tentang “Erros Djarot – Apa Kata Sahabat” pada portal berita Kempalan.com., saya berharap buku ini menjadi salah satu bukuku terbaik tahun 2025. Bukan lantaran ketebalannya yang 646 halaman, tapi menyangkut isi tentang kesaksian para sahabat yang menunjukkan bahwa Erros Djarot adalah sosok multi talenta, jenius, dan humanis.

Lantas, bagaimana dengan “Autobiografi Erros Djarot 1”? Saya belum membaca tuntas. Baru menyelesaikan 2 judul dari 36 judul yang terhampar pada 668 halaman, dimana buku yang kata istri saya ini mengundang penasaran, sudah keburu dalam penguasaannya — begitu tahu tercantum nama Erros Djarot di kover depan. Dan dua hari lalu baru selesai dibacanya.

Saat ini istri saya sedang melanjutkan membaca Erros yang lain pada buku “Erros Djarot – Apa Kata Sahabat”.

Dari cerita istri saya setelah membaca autobiografi itu, maka saya simpulkan –boleh jadi– inilah buku magnum opus tahun ini, sebagaimana pernah saya tulis kepada M. Anis editor kedua buku tersebut, ketika saya selesai membaca tulisan “kulonuwun” –semacam siaran pers sangat panjang– yang ditulis sahabat saya ini dengan begitu menarik, jelang terbitnya “Autobiografi Erros Djarot 1” — satu setengah bulan lalu.

Faktor apa yang menyebabkan “Autobiografi Erros Djarot 1” menjadikan istri saya penasaran?

“Kehidupan Erros Djarot yang sarat lika-liku, Kung …,” katanya yang baru kali ini menyelesaikan membaca buku sangat tebal : 668 halaman.

Hari-hari sebelumnya, saya lihat posisi buku “Autobiografi Erros Djarot 1” letaknya berpindah-pindah. Seringkali di atasnya terletak kacamata baca.

Kadang ada di meja makan, di meja tamu, di atas nakas dekat tempar tidur. Pernah juga terlihat di atas toples plastik. Artinya, itu buku beberapa halaman telah dibaca istri yang lantas ditinggal sementara untuk berkegiatan lain.

Pernah suatu hari buku itu tidak saya temukan di tempat-tempat sebagaimana tadi saya sebut. Saya duga, istri sedang membaca di lantai atas di salah satu kamar anak saya.

“Lika-likunya bagaimana?” tanya saya.

“Gimana ya… Ada trenyuhnya, ada optimistis, dinamis, sarat warna warni pelangi.” Begitu kurang lebih ungkapan istri saya dengan antara lain mencoba membubuhkan metafora. “Yang menyangkut politik saya baca sekilas-sekilas,” tambahnya. Mendengar komentar terakhir ini, saya tersenyum kecil.

Pertanyaannya, apakah saya akan meneruskan membaca “Autobiografi Erros Djarot 1”? Tentu saja.

Saya senang jika istri membaca tuntas. Dan saya ikhlas menunda membaca autobiografi ini.

Padahal, maaf, istri jarang membaca buku. Bukan berarti tidak pernah. Yang sering dibaca tabloid dan majalah, dulu — saat media cetak masih berjaya.

Seingat saya, selain buku tentang riwayat hidup budayawan Erros Djarot ini, yang pernah habis dibaca adalah novel “Sepatu Dahlan” karya Khrisna Pabichara.


By the way, izinkan saya cerita tentang hal lain, meski sebetulnya masih menyimpan kaitan dengan buku autobiografi ini.

Sehari setelah saya menerima “Autobiografi Erros Djarot 1” dan “Erros Djarot – Apa Kata Sahabat” versi hard cover, saya terlibat diskusi via chatting WA dengan M. Anis editor dua buku di atas. (O ya, selain Pak Anis sebagai editor utama, editor lainnya adalah jurnalis Kukuh Bhimo Nugroho).

Bahkan besoknya dilanjut diskusi via telepon.

Saya sepakat dengan ucapan istri saya bahwa buku karya Erros Djarot yang dieditori oleh karib yang saya kenal sejak seputar 45 tahun lalu itu : bikin penasaran.

Kosa kata ‘penasaran’ saya rasa erat kaitannya dengan : orang kepingin tahu lebih lanjut, untuk terus diikuti — tahu-tahu, dalam konteks buku ini, sampailah pada titik terakhir.

Kenapa bisa begitu? Mungkin disebabkan faktor jurnalisme sastra yang dikandung buku ini. Tentu saja faktor ketokohan dan kharisma Erros Djarot tak boleh diabaikan.

Membaca jurnalisme sastra seperti menikmati
cerpen atau novel. Bedanya, jurnalisme sastra adalah karya literasi berbasis non-fiksi — kejadian nyata, sedangkan cerpen atau novel : fiksi.

Oleh sebab itu sudah sewajarnya jika Jaya Suprana menyebut inilah buku autobiografi yang pertama mentransformasikan unsur-unsur sastra di dalamnya. Jelasnya: buku autobiografi yang berkaidah sastra.

Maka, layak jika istri saya mendiskripsikan sebagai buku yang enak dibaca dan bikin penasaran.

Oleh sebab itu buku autobiografi yang mudah-mudahan bisa menjadi genre baru ini, disebut Jaya Suprana sebagai yang pertama kali di Indonesia. Jadi, begitulah — semacam perintis !

Kalau misalnya buku biografi (bukan autobiografi) ada yang seperti di atas, ya bisa saja. Salah satu yang mengindikasikan hal itu, sebagaimana sedikit saya singgung pada alinea lain tulisan sebelum ini : “Sepatu Dahlan” karya Khrisna Pabhicara.

Buku tentang riwayat kehidupan orang lain (bukan menulis diri sendiri) yang lazim disebut biografi, saya rasa pemesan banyak memanfaatkan jasa sastrawan untuk menuliskannya. Dari sekian yang ada,
bisa jadi banyak yang berbentuk novel. Atau yang biasa disebut : novel biografi.

Namun, belum ada buku autobiografi selain yang ditulis oleh Erros Djarot yang berkaidah sastra. Oleh sebab itulah Jaya Suprana mempersembahkan Anugerah MURI kepada Erros Djarot.

Dari percakapan via telepon dengan Pak Anis, mulai tersingkap mengapa “Autobiografi Erros Djarot” demikian mengundang penasaran istri saya, dan saya percaya orang lain pun akan berpendapat seperti itu. Mengapa ?

Meski baru 2 judul yang saya baca, namun dua-duanya benar-benar memikat saya, yaitu yang berjudul ‘Berawal dari Telepon Mas Tok’ (halaman 3-23) dan ‘Menemukan Cinta, Taklukkan Mertua, Ibu Fatmawati’ (halaman 247-270).

Bisa dibayangkan bagaimana panjangnya isi judul-judul tersebut.

Kenapa saya tidak bosan? Juga istri saya yang telah menghabiskan 668 halaman, yang lantas disimpulkannya sebagai sesuatu yang bikin penasaran?

Nah, alasan saya tidak bosan : materinya memang menarik!

Apa cukup dengan faktor itu saja? Tentu saja tidak.

Dari percakapan dengan Pak Anis, saya peroleh penjelasan bahwa tulisan-tulisan Error Djarot itu mirip skenario film. Banyak kalimat-kalimat langsung dimunculkan. Dengan demikian lebih menghidupkan “ruh” buku ini.

Tentu bagi saya, peranan editor jangan dikesampingkan. Antara lain : pas banget dalam menyelaraskan ribuan kalimat di buku ini.

Selain itu, jika Pak Anis menemukan kosakata yang bikin ia ragu-ragu, sosok peraih 3 kali Anugerah Prapanca lambang supremasi prestasi jurnalistik Jawa Timur ini, segera merujuk Google.

“Kami berharap buku ini tidak saja ‘berkendaraan’ kalimat-kalimat komunikatif yang indah, namun mesti sesuai dengan aturan-aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar,” papar mantan anggota Lembaga Sensor Film ini.

Lantas saya sampaikan : “Anda kritis, Pak Anis. Salah satu contoh, banyak saya jumpai kosakata ‘karier’, bukan ‘karir’. Padahal ‘karir’ adalah kosakata yang tidak baku yang selama ini banyak digunakan.”

Menarik yang disampaikan sosok jurnalis idealis yang pemimpin redaksi portal berita Ngopibareng.id. ini, kurang lebihnya :

Buku ini bukan sekadar autobiografi, melainkan sebuah kisah nyata yang ditulis dengan memenuhi kaidah-kaidah sastra. Ada tokohnya, ada alur cerita, ada dialog, ada plot, imajinasi, gagasan, perenungan, konflik, bahkan ada konfirmasi dan cek data. Jadi, menurut saya, buku ini lebih tepat kalau masuk kategori karya sastra non-fiksi”.

Tidak terasa percakapan yang saya perkirakan berdurasi 25 menit itu, menambah keyakinan saya bahwa sosok ini memang : satunya kata dengan perbuatan.

Biasanya saya yang sering mendominasi jika bincang-bincang via telepon dengan sosok lain, kali ini berbeda. Tak ada dominasi.

Sosok M. Anis yang terbuka, rendah hati, namun tegas ini, menyadarkan saya untuk saling memberi kesempatan, saling berganti berbicara.

Ada percakapan di luar konteks dari autobiografi ini, yang benar-benar di luar dugaan saya. Diawali saat kami ngobrol soal usia : Pak Anis 71, saya 72.

“Semakin tua, sesungguhnya kita ini semakin kesepian, Pak Amang,” tuturnya, yang lantas ditambahkan, “Mungkin karena kita banyak kehilangan teman. Banyak yang berpulang. Ada juga yang lebih banyak tinggal di rumah, karena energi yang sudah tidak seperti saat muda, dan sebab-sebab lain.”

Lantas dengan nada santun dan bertutur jelas, Pak Anis yang sudah 15 kali menyelenggarakan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) ini, mengisahkan beberapa hari lalu saat bertandang ke kompleks Balai Pemuda, yang dulu dikenal sebagai markas seniman di Surabaya. Apa yang terjadi?

“Tak satu pun saya jumpai rekan-rekan seniman,” katanya. “Balai Pemuda telah berubah, baik yang menyangkut properti bangunan maupun orang-orangnya.”

Saya lantas teringat, dulu sekitar 10-15 tahun lalu, di sebelah barat Masjid Assakinah, di kompleks Balai Pemuda, selepas dhuhur, biasanya dipadati para seniman dan simpatisan-simpatisannya untuk ngobrol apa saja, mengepung meja panjang warna biru.

Di dekat situ terdapat 4 warung yang menyediakan kudapan : soto ayam, nasi pecel, krengsengan, nasi campur, kopi, juga es jus — yang terjangkau dengan isi dompet seniman.

“Sekarang sepi,” kata M. Anis.

Kalau saya terjemahkan yang tersirat dari omongan M. Anis : suasananya panas tidak, dingin juga tidak. Anyep!

Lantas saya teringat teman-teman seniman yang dulu biasa cangkruk di sini, yang sudah mendahului : Bambang Sujiyono, Wiek Herwiyatmo, RM. Yunani Prawiranegara, Bawong SN, Sirikit Syah, Lan Fang, Farid Syamlan, Sabrot D. Malioboro, Naniel, Bokir Surogenggong, Khusnul Huda, Poce, Priyo Aljabar, Dicky Subagio, dan sekian sosok lagi. Selamat jalan kawan, semoga Sang Khaliq memuliakan …

Pak Anis juga menambahkan, belum lama ini bertandang ke Balai Wartawan di Jl. Taman Apsari 15-17, Surabaya.

“Kalau posisi properti bangunan masih seperti dulu, tapi sosok-sosok wartawan berubah. Banyak anak-anak muda yang saya tidak kenal,” cerita M. Anis, “Ya…ternyata kita sudah tua…”


Tiba-tiba saya teringat Rendra.

Sekitar 15 tahun lalu, Rendra yang sahabat Henky Kurniadi penggiat seni di Surabaya dan mantan anggota DPR, pernah ngomong begini ke Henky : “Mas Anis itu jujur dan tulus.”

Lantas Henky Kurniadi meneruskan pernyataan Rendra ke saya.

Kok bisa Rendra ngomong begitu?

Tahun 2003 M. Anis adalah Ketua Umum Festival Seni Surabaya, yang antara lain mengundang Rendra untuk membaca puisi-puisi karya seniman besar yang juga dikenal sebagai maestro teater ini.

Dari situ rupanya terjadi sekian kontak dan pertemuan Rendra dengan M. Anis, yang lantas disampaikan kesan Rendra tentang M. Anis tersebut kepada Henky Kurniadi.

Selain kepada M. Anis, Rendra juga menaruh respek kepada pengarang sastra Jawa yang pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa Jayabaya: Widodo Basuki. Hanya saya lupa dalam konteks apa Rendra terkesan dengan penggurit yang pelukis ini, sebagaimana informasi yang saya peroleh dari Mas Henky. (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *