KEMPALAN: Permasalahan lingkungan saat ini merupakan suatu permasalahan yang terjadi di berbgai belahan bumi. Krisis lingkungan saat ini suda pada tahapan yang mengancam kelangsungan bumi di masa depan. Dalam kenyataanya, krisis lingkungan sudah menyerang berbagai sektor kehidupan manusia baik itu ekonomi, sosial, dan budaya. Kondisi lingkungan alam yang terus mengalami degradasi sebagai dampak dari kerusakan yang dilakukan secara terus menerus tersebut mengancam keselamatan manusia seperti adanya berbagai bencana yang dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini mulai mengalami peningkatan.
Tentunya tidak hanya manusia saja yang terkena dampak dari degradasi lingkungan, degradasi lingkungan juga berdampak pada lingkungan alam lainnya seperti berkurangnya keragaman hayati, punahnya habitat satwa, kualitas tanah yang menurun dan rusaknya siklus hidrologi serta akan menimbulkan pemanasan global. Gejala-gejala alam yang menunjukan penurunan kualitas merupakan salah satu dampak masalah lingkungan hal ini dirasakan oleh seluruh umat manusa di seluruh dunia khususnya di Indonesia.
Manusia menjadi salah satu faktor penentu dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memiliki peran dan tanggung jawab untuk menjaga dan memberdayakan kekayaan lingkungan, namun pada kenyataannya keinginan besar untuk memuaskan kepuasannya sering menjadi pemicu manusia untuk menguasai alam. Hasrat untuk mendominasi serta mengeruk kekayaan alam menjadikan sebab utama kerusakan lingkungan.
Modernitas membawa manusia pada kemudahan-kemudahan untuk mendominasi serta cenderung menjadi mahluk yang lebih serakah. Ketika manusia begitu gila pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka lambat tersadar. Perbuatan-perbuatan mereka membuahkan risiko-risiko teknologi tidak hanya mempermudah kehidupan manusia, akan tetapi juga menghasilkan risiko-risiko buatan yang haru ditanggung oleh seluruh penghuni bumi.
Kondisi diatas memperlihatkan bahwa saat ini kita hidup di zaman yang riskan. Bahkan risiko bisa hadir pada setiap udara yang kita hirup. Manusia di hadapi dengan bahaya-bahaya yang memang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia itu sendiri, menimbulkan berbagai persoalan yang harus segera diselesaikan. Dalam konteks lingkungan, risiko tidak bersifat jangka pendek, akibatnya kita baru menyadari dampak lingkungan sesaat setelah bencana itu terjadi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi pada system produksi industri telah memunculkan risiko atau bahaya dari jenis dan skala yang belum pernah dialami sebelumnya. Sementara teknologi menyuguhkan pemecahan problem ekonomi serta peningkatan rata-rata standar hidup, tetapi juga memunculkan banyak kesulitan dan bahaya baru. Radiasi nuklir, polusi dan racun kimia, mutase genetic, dan efek samping yang serupa dari obat-obatan, produksi makanan, energy, dan teknologi industri yang lain menurunkan kualitas lingkungan fisik tempat manusia itu hidup dan bekerja.
Menurut Beck (Susilo, 2008) risiko diproduksi manusia lewat sumber-sumber kekayaan dalam masyarakat industri. Risiko adalah konsekuensi yang tidak terduga. Terutama, sebagai akibat dari industrialisasi dengan pengaruh-pengaruhnya yang membahayakan seperti yang disampaikan oleh Pramudya Sunu (Susilo, 2008) menyatakan bahwa kerusakan disebabkan karena faktor eksternal, yaitu kerusakan lingkungan yang berasal dari perilaku manusia dengan beralasan demi meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidup. Kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan, seperti: Industrialisasi, penggunaan bahan bakar fosil dan limbah rumah tangga yang dibuang di sungai-sungai.
Moderenisasi menjadi salah satu hal yang sangat berkaitan dengan kerusakan alam. Moderenisasi memunculkan sikap eksploitatif, gaya hidup praktis dan budaya konsumerisme yang tinggi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Seperti yang diungkapkan oleh beck (Susilo, 2008) risiko berhubungan dengan masyarakat yang mencoba melepaskan tradisi dan pengetahuan masa lalu dengan mengangap bernilai dan berharga perubahan-perubahan serta masa depan.
Perubahan dan masa depan ini sebagai akibat watak eksploitatif yang sesungguhnya justru berlawanan dengan kearifan-kearifan tradisi, kemudian hal itu diperkuat oleh Antoni Giddens, modernitas adalah sebuah kebudayaan risiko. Modernitas mengurangi keseluruhan risiko dari aspek-aspek dan cara-cara hidup tertentu, namun dengan waktu yang sama pula modernitas memperkenalkan parameter-parameter risiko baru secara jelas yang tidak dikenal pada waktu sebelumnya.
Kerusakan lingkungan alam pada satu tempat akan menyebar ketempat lainnya. Kerusakan lingkungan alam pada satu generasi kemudian akan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Kondisi alam yang saat ini yang tidak bisa diprediksi,suhu yang semakin meningkat dan beberapa bencana alam yang sering muncul akhir-akhir ini, hal ini disebabkan dari tingkah laku manusia yang lalai dan gagal menjadi khalifah di muka bumi ini.
Ulrich Beck (Susilo, 2008) menjelaskan bahwa risiko dan kelas tidak dapat dipisahkan. Distribusi risiko melekat dalam lapisan sosial kelas bawah. Kalangan masyarakat atas menghindar dari risiko dan mendistribusikan risiko itu kepada masyarakat kelas bawah yang dimana masyarakat kelas bawah ini menjadi objek dari risiko tersebut. Masyarakat kelas bawah menjadi korban akibat dominasi para penguasa dan pemilik modal atau bisa disebut dengan masyarakat kelas atas,
Masyarakat kelas atas memproduksi, mengeksploitasi sumber daya alam dan mendistribusikan keuntungannya terhadap kalangannya, sedangkan yang terkena dampak atau risiko dari apa yang mereka perbuat adalah masyarakat kelas bawah, sebenarnya risiko ini tidak hanya terjadi pada sekelompok orang saja tetapi risiko terjadi pada setiap orang dan akan mengakumulasi pada lapisan masyarkat bawah karena kemiskinan masyarakat kelas bawah menghimpun risiko yang berlimpah. Sebaliknya kekayaan (dalam pendapatan, kekuasaan atau pendidikan) dapat membeli keselamatan dan kebebasan dari risiko.
Ilmu pengetahuan menjadi kehilangan rohnya yang semestinya digunakan untuk kebaikan bersama malah justru menjadi bomerang bagi masyarakat itu sendiri. teknologi dan modernitas menjadi salah satu anak dari ilmu pengetahuan yang melahirkan manusia-manusia serakah dan egois yang hanya mementingkan hasrat dan nafsunya sendiri. Manusia sudah di hegemoni dengan budaya konsumerisme dan materialisme sehingga tidak memperdulikan keberlanjutan lingkungan alam serta hak-hak alam itu sendiri. dominasi manusia terhadap alam mengakibatkan kerusakan alam yang nantinya akan merugikan seluruh umat manusia. (Mochamad Alfaizi)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi