Kamis, 23 April 2026, pukul : 01:13 WIB
Surabaya
--°C

Heterogenitas dan Globalitas Budaya Kota Surabaya

KEMPALAN: Kota-kota besar di dunia identik dengan heterogenitas. Berbagai etnis dan suku bangsa hidup berdampingan dalam komunitas besar di bawah payung hukum.

Bisa jadi, budaya dan adat istiadat banyak etnis ikut mengilhami lahirnya peraturan daerah. Maka membicarakan budaya atau sub-budaya sebuah kota, tak bisa dilepaskan dari faktor campur-aduk itu.

Bermacam kepentingan mewarnai eksistensi sebuah kota: industri, perdagangan, perbankan, politik, lingkungan hidup, sistem birokrasi, pendidikan, olahraga, juga sosial budaya. Intinya heterogenitas adalah buah dari urbanisasi.

Mari kita menengok Kota Surabaya yang berpenduduk 3,01 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 2,07 per tahun yang mendiami wilayah 632 kilometer persegi.

Kota ini terus-menerus mengalami transformasi budaya, bahkan pada bagian-bagian tertentu memperlihatkan anti-klimaks. Saya mencoba memproyeksikan dengan pengalaman empiris saya yang lahir dan besar di kota ini selama 72 tahun.
Masa kanak-kanak saya diwarnai dengan permainan gobak sodor, patil lele, jat-jatan! (semacam tembak-tembakan dengan telunjuk dan ibu jari dibentuk mirip pistol, ketika meneriakkan “Jat! Lima langkah!” kaki pun melangkah, jika melangkah lima kaki tepat di depan musuh, maka musuh yang ditembak matilah).

Ada lagi engkle, sepak tekong, cublak cublak suweng, dan permainan yang kadang-kadang mempertaruhkan benda yang dibuat mainan seperti nekeran (kelereng), karet gelang, gambar umbul, dan kowah (bungkus rokok).

Saya mengalami masa-masa ritual mauludan dimana jika Maulid Nabi kami orang-orang sekampung di Kawasan tinggal saya Gersikan, Surabaya, datang ke langgar sambil membawa makanan untuk kemudian berdoa demi junjungan Nabi Muhammad SAW, setelah itu bertukar makanan.

Saya pun ikut mengalami setiap kenaikan kelas di SD yang murid-muridnya diwajibkan membawa jajanan untuk kemudian ditukar mirip ritual mauludan di langgar kampung kami.

Masih di seputar mauludan, saya juga minta dibelikan Ayah topeng-topengan dan pedang-pedangan, yang saat itu selama kurang lebih sepuluh hari, eforianya dimeriahkan para penjual mainan di Pasar Pandegiling, sepanjang depan THR, Pasar Genteng, Pasar Keputran, Pasar Blauran, Pasar Pacarkeling, Pasar Wonokromo, dan masih banyak lagi.

Yang paling ingat saat itu saya memilih topi Zorro dan topeng yang mirip kaca-mata hitam berikut pedangnya.

Saya juga ikut rame-rame keliling kampung ber- teng-tengan ciluk membawa lampion dari gerabah yang di dalamnya diisi lilin menyala sambil meneriakkan kalimat yang diulang-ulang mirip senandung: teng tengan ciluk, njaluk ambung sithik

Saya juga ikut rame-rame bersama teman-teman sekampung gerudukan jika lebaran tiba, unjung-unjung ke rumah tetangga untuk meminta maaf kepada yang lebih tua dan kami hormati. Padahal saat itu saya lebih mengharapkan pulangnya dapat sangu seketip dua ketip.

Saya juga ikut menikmati pertunjukan ludruk di kampung kami jika ada hajatan perkawinan atau sunatan yang nanggap kesenian itu. Saya terkagum-kagum dengan tokoh Sawunggaling dan Pak Sakerah. Saya pun sering menonton wayang orang Sri Wandowo di THR Surabaya, diajak keluarga maupun mengintip dari balik sela-sela pagar depan gedung. Dulu bagian depan gedung tidak ditutupi dinding. Jika mendekat pagar lantas mencoba naik dan duduk di puncak pagar, bisa agak leluasa menyaksikan pertunjukkan wayang orang meski dengan kaki dan pinggul capek.

Saya juga pernah menyaksikan pentas misri yang diperankan saudara-saudara kita warga Arab di kawasan kampung Semut, Surabaya.

Saya juga beberapa kali menonton pertunjukan barongsai dan liang liong di beberapa tempat.

Ilustrasi di atas saya alami dan saya saksikan secara intens antara tahun-tahun 1960 sampai dengan 1967.

Lama-kelamaan saya merasakan anti-klimaks secara gradual segala bentuk permainan, ritual, dan tontonan itu. Barangkali saya salah menilai, tetapi graduasi itu saya rasakan setelah dibukanya keran film-film impor dan menjamurnya radio amatir yang kemudian menjelma menjadi radio swasta siaran niaga.

Maka, industri pop pun semakin menaiki tangga-tangga kejayaan. Tentu saja peran televisi tak bisa diabaikan. Disusul puluhan tahun kemudian dengan perkembangan teknologi elektronika yang lantas melahirkan sejumlah games yang “membius” anak-anak yang popular dengan sebutan: play station.

Media-media ini mulai menggeser peran yang sebelumnya dilakukan ludruk dan kesenian tradisional lain serta bentuk-bentuk permainan yang saya sebutkan itu.

Yang “revolusioner” ketika pemerintah mulai mengizinkan beroperasinya stasiun-stasiun televisi swasta di pengujung 1989 dan dasawarsa 1990-an.

Yang saya rasakan selanjutnya bukan lagi sekadar graduasi tetapi erosi. Bahkan — boleh jadi — gempa budaya! Hampir semua permainan, ritual, dan tontonan yang saya sebut di atas: terkubur! Hanya reog dan ludruk yang bisa bertahan di kota ini, itupun, ludruk – kembang kempis terpuruk di pojokan Jalan Pulo Wonokromo sana yang belakangan malah lenyap tak berbekas !

Bagaimana kita menyikapi perubahan ini. Apa boleh buat, terima saja, Bung! Kok? Kita — warga Surabaya — dikenal sebagai orang-orang yang egaliter, terbuka. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Buktinya kota ini sejak lama didiami oleh multietnis dan suku bangsa — dari Jawa, Madura, Bali, Ambon, Batak, Sunda, Bugis, Padang, Timor, Manado, Eropa, China, Arab, India dan masih sekian lagi. Mereka hidup berdampingan.

Inilah barangkali heterogenitas dari sisi etnik budaya yang lantas menghasilkan sosok-sosok egaliter. Faktor geografis pun tak bisa diabaikan. Sebagai kota pantai, proses egalitas itu semakin mengental.
Maka, apa yang disebut budaya arek Suroboyo sebagai akulturasi heterogenitas semakin dilemahkan oleh gemuruh perdagangan dan industri, yang mau tak mau diperloyo globalisasi yang gencar ditembakkan media massa, khususnya televisi, lebih-lebih internet belakangan ini.

Film, musik, fashion, talk show, kuis, Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan segala bentuk imperialisme budaya manca hadir dengan leluasa melalui kotak kaca, komputer, dan gadget kita.

Namun, apa yang dibukakan kesempatan oleh media sosial seagaimana saya sebutkan di antara deretan di atas, sesunguhnya adalah “alat”, alat bertempur yang digunakan –baik oleh kekuatan tradisi maupun global modern– yang mendompleng teknologi bermuatan “filosofi” dan ilmu pengetahuan.

Bentuk-bentuk kesenian macam sastra, teater, musik, tari, film, dan seni rupa, yang tergabung atau menggabungkan diri dalam kesenian “modern” yang tadi saya sebut, terus berproses dan akan selalu “menyempurnakan” diri, baik yang digerakkan oleh komunitas maupun orang per orang.
Perihal komunitas, ada yang dibentuk oleh seniman dan pemerintah, yang lantas berbendera ‘Dewan Kesenian’. Di sisi lain yang dibentuk oleh kelompok maupun orang per orang yang lantas membentuk institusi “informal” atau kantong-kantong seni budaya yang tersebar di berbagai penjuru kota, terus berproses dalam tumbuh, kembang, dan … ada yang mati – juga, hidup segan mati tak mau.

Oleh sebab itu semuanya tergantung The Man Behind The Gun.

Lantas siapakah yang dimaksud dengan institusi disini? Ada Dewan Kesenian Surabaya, Dewan Kesenian Jawa Timur, Dewan Kesenian Malang, Dewan Kesenian Sidoarjo, Bengkel Muda Surabaya, Rumah Dedikasi Soetanto Soephiady, Sanggar Merah Putih, Brang Wetan, Bengkel Seni-Bengkel Kopi Suroboyo, Sanggar Anak Merdeka, dan masih banyak lagi.

Lantas siapakah yang dimaksud dengan orang per orang di sini? Mereka adalah Cak Kadar (alm.), Bambang Sujiyono (alm.), Soetanto Soephiady, M. Anis, Henri Nurcahyo, Yongky FH & Edo Wenas, Meimura, dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu, tergantung kita, bagaimana memanfaatkan media sosial dan segala bentuk alat komunikasi untuk tujuan-tujuan positif demi menggapai puncak kehidupan dalam bingkai kegelisahan kreativitas: kemanusiaan !

Kembali pada awal tulisan ini saya kemukakan, apakah unsur-unsur yang saya sebut itu harus kita gali kembali untuk kita “mainkan”? Tergantung. Artinya, kemauan dan kreativitas semua insan kota untuk ikut memikirkannya.

Dalam konteks itu, upaya stakeholder dan para pemerhati budaya adalah berupaya mendokumentasikan hal-hal tersebut, yakni segala bentuk permainan, ritual, atau kesenian dalam: foto, film, video, buku, atau museum. Bahkan dengan menghadirkan “museum hidup” ludruk pada gedung yang tepat sebagaimana seni kabuki di Jepang sana. Atau kalau tidak dengan memberikan kuota kepada grup-grup ludruk untuk pentas bergiliran 2 – 3 hari setiap bulan di gedung Balai Budaya di kompleks Balai Pemuda.

Surabaya bukan Jogja atau Solo yang memiliki warisan kesunanan dan kesultanan yang melahirkan tradisi budaya lokal kuat. Surabaya adalah kota campur aduk yang metropolis yang mungkin saja pada 25 tahun mendatang menjadi megapolis sejajar dengan kota-kota besar di dunia. Apalagi jika mengingat pertumbuhan populasi kota yang rerata 2,07 % setiap tahunnya itu.

Berjuanglah terus para pelaku seni budaya di kota ini, agar kota yang semakin subur dengan hutan beton ditingkah lalu-lintas yang makin padat merayap ini, tereduksi menjadi sejuk dengan siraman pentas dan kreativitas seni yang diharapkan bergulir dari waktu ke waktu.

Sementara kesenian tradisi yang terus dipepet metamorforsis zaman ini, saya percaya akan marak kembali dalam baju yang sedikit berubah namun tanpa meninggalkan ruh agungnya.

*) Penulis buku dan pemerhati seni budaya. Amang Mawardi

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.