KEMPALAN: Dini hari tadi, saat jari-jari saya men-‘scroll’ sejumlah ‘channel’ di Youtube, “mengharuskan” mata saya berhenti pada ‘channel podcast’ Deddy Corbuzier, dimana saat itu sedang mempertontonkan ‘thumbnail’ (semacam cover) gambar sepasang lelaki dan wanita berhadapan dengan sosok mantan pesulap ini. Di bagian bawah tertulis judul:
Aslinya jahat sekali, Mas. UANG 5 MILIAR MELAYANG!
Di luar “cover” itu — di bawah ‘frame’– ada judul lain: Nangis Terisak-isak, Semua Harta Habis Dikuras Si Motivator.
Karena saat itu dini hari, saya enggan membesarkan volume hape, lantaran istri lagi tidur nyenyak di samping saya. Sementara ‘headset’ saya rusak. Maka, paling aman untuk mengetahui duduk perkara ini adalah membaca komentar viewers.
Ternyata ada indikasi (mantan) motivator terkenal ini (diduga) melakukan “penipuan” dengan sistem ‘robot trading’ terhadap suami-istri pengusaha produk kecantikan ‘skin care’ tersebut.
Tentu saja benar tidaknya versi pasangan pengusaha ini, tergantung pengadilan nanti sampai berkekuatan hukum tetap.
Ada komentar dari penonton, “Sebaiknya Deddy Corbuzier melakukan ‘cover both side’ dengan menampilkan yang dilaporkan, supaya imbang”.
Saya pikir usulan itu menarik, meski “cuma” sebagai upaya untuk menyeimbangkan persepsi, bukan capaian titik kebenaran. Karena dalam persoalan ini, benar atau salah nanti institusi pengadilan yang menetapkan.
Si Motivator ini seputar 10 tahun lalu pernah digugat oleh anak kandungnya dari pernikahan dengan (mantan) istri pertama.
Namun, setelah melalui proses yang panjang, Si Motivator tersebut akhirnya mengakui anak kandungnya dari istri pertama. Waktu itu sampai ditantang tes DNA oleh anak kandung tersebut.
Soal anak kandung ini (dalam konteks lain), saya teringat peristiwa sekitar 30 tahun lalu. Saat itu saya sedang tidak jadi wartawan yang berinstitusi, alias “WTS” (wartawan tanpa surat-kabar). Kerennya, saya menyandang wartawan ‘freelance’.
Hasil liputan, saya lempar ke majalah Liberty, harian Surya, atau ke Surabaya Post. Yang paling banyak memuat berita atau feature saya adalah Liberty yang waktu itu redpel-nya adalah Mbak Ida Tomasoa. Ada kurang lebih 2 tahun saya menyandang “WTS”.
Kalau ladang berita sifatnya non-formal, menjadi “WTS” tidak banyak persoalan.
Jika narasumber berada di lingkup non-formal, banyak gampangnya. Dengan teknik penyamaran atau trik-trik jurnalistik lainnya oke-oke saja, seperti mewawancarai pedagang kaki-lima yang saya anggap unik, atau melakukan liputan di kampung padat penduduk.
Namun, kalau masuk ke lembaga kredibel baik pemerintah maupun swasta, atau melakukan wawancara resmi – terutama di luar ‘on the spot’ — nah ini, mana percaya mereka dengan “WTS”. Meski tidak bisa ‘digebyah-uyah’.
Oleh sebab itu, saya nunut sobat saya Toto Sonata yang punya kartu pers Harian Suara Indonesia. Supaya ‘sreg’ karena ya itu tadi saya tidak punya kartu wartawan.
Pada suatu hari kami mendatangi rumah seorang ahli taman yang juga pelukis. Rumahnya di kawasan Surabaya Selatan. Masuk gang, belok kiri ke gang lagi, terus lurus akhirnya belok lagi ke kanan, ketemulah rumah seniman ini: mungil, asri, artistik.
Ahli taman ini –sebut saja Bima– karena tinggi besar. Dan suka humor. Saya masih ingat betul, saat itu kami disuguhi minuman temulawak dingin yang diambil langsung dari kulkas. Saat mengambil temulawak tersebut, Mas Bima juga mengambil sebungkus rokok merek 234 yang juga dari lemari es itu. (Saya mbatin, ‘rokok kok disimpan di kulkas’… ).
Karena saya tidak merokok, selanjutnya saya perhatikan Toto segera ‘klebas-klebus’ dengan rokok kretek termahal itu.
Mas Bima lantas memulai jawaban wawancara, mula-mula sebagai tukang taman ikut ahli taman lainnya. Dirasa sudah memadai keahliannya, lantas keluar, dan buka usaha sendiri.
Kemudian dia cerita, awal-awal usaha mandiri jadi ahli taman, sarat ‘vivere vericoloso’ (nyerempet-nyerempet bahaya) disusul tawa terbahak-bahak. Lantas: “Untuk ngirit ‘cost’, sesekali saya njebol tanaman yang ada di kuburan…”.
(Bayangan saya, mungkin itu tanaman puring yang warna motif di daun tutul-tutul kuning-hijau) Indah memang kalau dikomposisi dengan tanaman lain untuk menghiasi sebuah taman.
Cuma benar tidaknya pengakuan dia soal mencabuti tanaman di kuburan, saya antara percaya dan tidak, lantaran berkelindan dengan sisipan humor-humornya.
Istri Mas Bima cantik. Bahkan cantik sekali. Kalau misal berperan di salah satu sinetron, tak kalah cantik dengan bintang terkenal lainnya. Tapi, maaf, antitesa dengan Mas Bima yang berkulit agak gelap ini. Istrinya berkulit kuning bersih.
Tibalah pertanyaan pada soal anak. Mas Bima menjawab: “Anak saya tiga, perempuan semua…”
Setelah mengatakan itu, dia berhenti agak lama. Mungkin ada 10 detik.
Lantas dengan sedikit bergetar, dia melanjutkan: “Tidak.. Tidak.. Anak saya 4 orang, mas. Yang sulung laki-laki dari pernikahan pertama yang diakhiri perceraian …”
Dengan masih disertai suasana sedih, dia melanjutkan: “Dosa saya kalau saya mengatakan anak saya cuma tiga… “
Oleh: Amang Mawardi (Penulis dan Jurnalis Senior)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi