Kolaborasi Apik Menjadikan Surabaya sebagai Barometer Kota Layak Anak Dunia

waktu baca 4 menit
Foto: Istimewa

KEMPALAN: Memang belum sempurna, tapi berusaha menjadi sempurna adalah sebuah keharusan, itulah yang dilakukan oleh Surabaya.

Sebagai kota dengan predikat kota layak nasional tingkat utama, tentu Surabaya harus mentasbihkan dirinya sebagai kota yang memang betul – betul mempunyai sistem perlindungan anak yang komperehensif. Itulah yang dilakukan oleh Cak Eri, panggilan akrab Eri Cahyadi, Walikota Surabaya dalam merubah mindset layanan perlindungan anak.

Bagi Cak Eri, dengan atau tanpa predikat, maka kota Surabaya akan tetap berbenah untuk melakukan upaya – upaya perlindungan dan menjamin masa depan anak anak Surabaya dan mereka yang tinggal di Surabaya.

Berdasarkan data yang ada, jumlah anak Surabaya diperkirakan berjumlah 800.000 anak, seperempat dari seluruh warga Surabaya, ditangan mereka inilah masa depan bangsa, khususnya Surabaya.

Ada tugas dan tanggung jawab yang tak ringan yang harus dilakukan dalam melindungi anak – anak Surabaya. Mulai dari tumbuh kembangnya, hak pendidikan, gak kesehatan dan hak sipil sebagai warganegara yang harus didengar suaranya.

Tentu saja tugas besar dan mulia itu tak akan bisa kalau harus berada dipundaknya sendiri. Menyadari akan hal itu, Cak Eri perlu mengajak semua pihak untuk terlibat dalam misi mulia tersebut.

Melalui visinya, Bergotong royong menjadikan Surabaya sebagai kota global, maju, humanis dan berkelanjutan, Eri menekankan semangat kolaborasi dan dampak berkelanjutan dari sebuah program ketika dijalankan.

Apa yang ingin ditekankan oleh Cak Eri? Pemerintah tak akan mampu bekerja sendirian, tanpa bantuan masyarakat dan stakeholder nya, sehingga pemerintah harus membuka diri terhadap partisipasi itu.

Partisipasi itulah yang menjadi semangat kunci untuk berkolaborasi.

Berkaitan dengan kolaborasi dan partisipasi dalam hal perlindungan anak, Cak Eri sampai mengeluarkan peraturan wajibnya pemerintah, mulai dari walikota sampai dengan lurah, RT dan RW dalam musrenbang harus melibatkan suara anak.

Ini memang sesuatu yang baru, anak – anak harus diajak berembug apa yang terbaik bagi dirinya, namun bukanlah sesuatu yang mudah. Ada hal yang ingin dipesankan oleh Cak Eri, bahwa anak – anak juga punya peran dan tanggungjawab menentukan masa depannya.

Melihat potensi dan komitmen yang begitu kuat pemerintah kota Surabaya, suatu sore di bulan Maret 2022, Mas Andreanto, Saya, Isa Ansori, menghubungi Pak Prie Subakir yang menjadi bagian dari UNICEF yang berkantor di Jawa Timur agar bisa dibantu berdiskusi dengan Mas Arie, begitu saya memanggilnya. Beliau adalah Kepala Perwakilan UNICEF Jawa dan Bali.

Nampaknya Mas Arie sangat terbuka dan menerima kedatangan saya dan Mas Andre untuk mendiskusikan apa kira – kira yang bisa dibantu oleh UNICEF untuk Surabaya.

Sebagai orang Surabaya dan tinggal di Surabaya, saya kira wajar bagi saya dan Mas Andre mohon dukungan UNICEF untuk menjadikan Surabaya sebagai kota layak anak yang lebih mendunia, mengapa? Karena Surabaya empat kali menerima penghargaan kota layak anak utama tingkat nasional, sebuah predikat yang tidak ada lagi diatasnya. Kecuali menjadi kota layak anak dunia, kota layak anak yang sejajar dengan kota – kota didunia.

Keinginan dan harapan itu, kami diskusikan berempat diruangan beliaunya. Dari diskusi sore itu kemudian munculah ide Surabaya naik kelas, sebuah ruang yang membolehkan UNICEF untuk bisa membantu Surabaya.

Lalu Apa yang akan menjadi kekhasan Surabaya dalam perlindungan anak? Dari berbagai model dan apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya nampaknya partisipasi dan kolaborasi dengan anak adalah hal menarik dan penting untuk dijadikan program unggulan agar bisa menjadi bagian kota kota dunia yang sudah menjalankan.

Nampaknya perjalanan panjang diskusi sore itu kini mulai mendekati kenyataan. Tanggal 13 dan 14 Februari 2023 dengan bantuan Mas Arie, Bu Maniza Zaman, Perwakilan UNICEF di Indonesia datang ke Surabaya untuk berkomitmen membersamai Surabaya menjadi bagian kota layak anak dunia ( CFCI).

Bukan hanya sekedar datang, tapi bersama pemerintah kota Surabaya membangun komitmen bersama menjadi dalam sebuah nota kesepahaman menjadikan Surabaya sebagai bagian kota kota dunia yang layak.

Sebuah kolaborasi yang apik antara pemerintah kota, UNICEF, masyarakat, LSM, anak – anak, forum anak, forum pelajar dan lain lain yang berkomitmen terhadap perlindungan anak di Surabaya.

Terimakasih Mas Andre, terimakasih Mas Arie, Terimakasih Pak Prie, Terimakasih UNICEF dan terima kasih Pemerintah Kota Surabaya, terima kasih Cak Eri, walikota Surabaya, semoga Surabaya tetap menjadi kota humanis dan surganya anak anak. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *