Qatar dan Maroko menjadi representasi wajah Islam. Setiap kali Maroko menyelesaikan pertandingan, semua pemain, pelatih, dan ofisial melakukan sujud syukur. Ketika mengalahkan Spanyol dan Portugal– dua kekuatan raksasa Eropa—pemain-pemain Maroko bersujud syukur. Ketika dikalahkan Prancis pun pemain-pemain Maroko tetap bersujud syukur setelah pertandingan.
Bintang-bintang Maroko seperti Asyraf Hakimi—bermain di PSG bersama Messi dan Mbappe—membawa ibunya ke stadion dan mencium sang ibu setiap selesai pertandingan. Pemain-pemain Barat sibuk membawa dan memamerkan WAG, wives and girlfriends, yang cantik dan berpakain seksi ke stadion, tapi pemain Maroko membawa ibu dan bapaknya yang berpakaian muslim.
BACA JUGA: Charles Martel
Qatar dengan tegas melarang penggunaan lambang LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) untuk ban kapten tim, dan melarang semua simbol LGBT ke stadion. Hal ini memunculkan protes keras dari tim Eropa terutama Jerman. Tapi FIFA dan Qatar tetap bersikeras menerapkan aturan itu. Jerman akhirnya dipermalukan karena kalah oleh Jepang dan tersingkir di babak penyisihan.
Turnamen Qatar menjadi perhelatan yang paling aman, karena tidak ada kerusuhan atau tawuran antara suporter, seperti yang selama ini terjadi di Piala Dunia di berbagai negara. Kebijakan Qatar yang tidak mengizinkan penjualan alkohol menjadi salah satu faktornya.
Qatar telah menjadi kampiun dunia Islam. Arab Saudi ingin menasbihkan diri sebagai penghulu dunia Islam, tetapi modernisasi yang dilakukan oleh Pangeran Muhammad bin Salman mengarah pada westernisasi dan bahkan sekularisasi. Pembangunan Kota Modern Neom–yang akan menjadi kota supermodern internasional–memakai standar barat, termasuk menyediakan alkohol dan tempat hiburan ala barat.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi