Dia menggembleng diri untuk tidak takut menghadapi tanah demikian. Dia ingin membuktikan kemampuannya yang tidak bisa direalisasi di perkebunan. Dia bermimpi menjadi juragan apel. Orang kayanya Batu saat itu mesti juragan apel.
Keberanian dia mencoba budidaya apel dianggap gila. Panderman bukan daerah apel karena termasuk pegunungan kering, sulit air. Tanaman apel di Batu berada di sebelah utara yang masuk lereng Arjuna. Dua kali gagal produksi. EA menjadi bahan tertawaan.
Tapi dia tidak putus asa. Kerja kerasnya membuahkan hasil tahun 1993 tanaman apelnya berproduksi. Sukses EA menjadi inspirasi petani untuk mengubah tanamannya yang umumnya singkong menjadi kebun apel. Maka tanaman apel di Kota Batu pun meluas sampai di kawasan selatan.

Perluasan areal dan meningkatnya produksi memiliki efek harga jatuh setiap musim panen. Lantas di situlah EA berpikir untuk mengembangkan wisata petik apel. Kebun apel di Batu memang banyak tapi baru EA yang menjadikan agrowisata yaitu wisata petik apel. Hasilnya jauh lebih tinggi daripada apel dijual secara ventura.
Sukses itu menginspirasi masyarakat untuk ikut mengembangkan wisata petik di kebun masing-masing. Jadi kalau Kota Batu disebut Kota Wisata dengan primadonanya agrowisata, maka Edy Antoro perintisnya.
EA pun menjadi pionir. Menjadi trend setter. Suluh bagi masyarakat Batu.Bukan hanya budidaya apel dan agrowisata tapi setiap inovasinya diikuti warga masyarakat seperti mengembangkan green house, tanam strawberry, wisata petik buah, memproduksi dodol apel, cuka apel, pertanian organik.
Tidak berlebihan kalau EA disebut tokoh kebangkitan kedua wisata Kota Batu setelah masa emas Selecta sejak zaman Belanda berakhir.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi