Keberanian dia seperti gugusan ombak yang membentur batu karang sehingga pecah menjadi serpihan air. Tindakan EA dinilai menyalahi tatanan soial yang sudah establis. Hal itu bisa mengancam hegemonik para petinggi perkebunan.
Karena merasa sudah tidak tahan, EA mendapat pemantik lomba karangkitri perumahan perkebunan. Ia memprotes penilaian yang tidak adil. Karena protesnya seperti berteriak di tengah padang pasir yang luas alias tidak direspon, akhirnya dia mundur.
Mula-mula dia mengutarakan niat mundur itu ke ayahnya. “Terus terang Papa sangat keberatan saya mundur dari perkebunan. Alasannya saya ini satu-satu penerus tradisi kami bekerja di perkebunan. Saya matur, perkebunan itu bukan milik kita. Artinya tidak masalah kalau pada akhirnya tidak ada keluarga kita yang bekerja di perkebunan,” kata EA.
Saat niat mundur sudah membulat, dia dipindah ke Perkebunan Belawan. Ia pun boyongan ke Belawan. Tetapi di tengah jalan, truk yang membawa barang-barangnya langsung disuruh ke Malang. Ia pun menyerahkan surat pengunduran diri tanpa menunggu jawaban.
“Saya sudah berusaha mencegah. Apalagi dia sudah mau dipromosikan menjadi sinder kepala. Tetapi dia pada keputusannya,” ujar Amirin, Administratus Kebun Belawan.
Kebun apel
Setelah mundur dari perkebunan dia sempat menganggur. Pada akhir dekade 1980 dia mulai mengolah tanah milik mertuanya seluas 1,8 hektar di lereng Gunung Panderman, Batu. “Tanahnya campur bebatuan dan masih semak belukar,” kata Wiyono, saksi mata.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi