Seperti ditulis Wikipedia, sportivitas adalah nilai etis yang dijunjung sebagai prinsip bagi setiap insan olahraga untuk mengacu pada perilaku penghormatan, pengakuan dan toleransi hak-hak sesama insan olahraga yang menciptakan persaingan positif tanpa merugikan pihak lain atau tanpa berlaku curang, baik di dalam pertandingan maupun di luar pertandingan.
Lihat saja, bagaimana para pemain Maroko menyalami bahkan memeluk pemain Perancis yang mengalahkannya. Suporternya memang sedih tapi sebentar juga sudah ikhlas menerima kekalahan. Tidak seperti suporter Belgia yang ngamuk bakar-bakar. Kalau cuma bakar tales, suwek, ikan gak masalah. Yang dibakar mobil, toko.
Sepakbola identitas
Untungnya Qatar tidak termasuk negara buzzerokrasi, suatu sistem negara atau masyarakat yang dikendalikan oleh para buzzer. Sehingga peragaan sportivisme, sepakbola beradab, bahkan sepakbola dakwah Maroko tidak dijuluki “sepakbola identitas” yang diframing secara negatif.
BACA JUGA: Piala Dunia 2022 dan Yakjuk dan Makjuj
Coba di negara buzzerokrasi, Maroko pasti akan langsung dihujat, dicaci maki, dibully, digayang, diharu-biru. Dibuat keder, kecut dan tersipu-sipu.
Kalau ditanya apa itu sepakbola identitas? Para buzzer pasti tidak akan mau menjawab. Entah pura-pura budek atau akan balik bertanya, “Lu siapa?”. Karena para buzzer itu memang tidak punya target ilmiah. Targetnya itu muntahan ucapannya bisa membuat orang lain sakit, marah, emosi atau takut. Buzzer itu tak beda antara ngomong dengan muntah dan meludah.
Target para buzzer bukan otak melainkan untuk menggelapkan hati orang lain karena buzzer sendiri bertindak dari gelapnya hati.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi