Senin, 20 April 2026, pukul : 09:42 WIB
Surabaya
--°C

Piala Dunia Qatar 2022, Sepakbola Identitas, dan Buzzerokrasi

Seperti ditulis Wikipedia, sportivitas adalah nilai etis yang dijunjung sebagai prinsip bagi setiap insan olahraga untuk mengacu pada perilaku penghormatan, pengakuan dan toleransi hak-hak sesama insan olahraga yang menciptakan persaingan positif tanpa merugikan pihak lain atau tanpa berlaku curang, baik di dalam pertandingan maupun di luar pertandingan.

Lihat saja, bagaimana para pemain Maroko menyalami bahkan memeluk pemain Perancis yang mengalahkannya. Suporternya memang sedih tapi sebentar juga sudah ikhlas menerima kekalahan. Tidak seperti suporter Belgia yang ngamuk bakar-bakar. Kalau cuma bakar tales, suwek, ikan gak masalah. Yang dibakar mobil, toko.

Sepakbola identitas

Untungnya Qatar tidak termasuk negara buzzerokrasi, suatu sistem negara atau masyarakat yang dikendalikan oleh para buzzer. Sehingga peragaan sportivisme, sepakbola beradab, bahkan sepakbola dakwah Maroko tidak dijuluki “sepakbola identitas” yang diframing secara negatif.

BACA JUGA: Piala Dunia 2022 dan Yakjuk dan Makjuj

Coba di negara buzzerokrasi, Maroko pasti akan langsung dihujat, dicaci maki, dibully, digayang, diharu-biru. Dibuat keder, kecut dan tersipu-sipu.

Kalau ditanya apa itu sepakbola identitas? Para buzzer pasti tidak akan mau menjawab. Entah pura-pura budek atau akan balik bertanya, “Lu siapa?”. Karena para buzzer itu memang tidak punya target ilmiah. Targetnya itu muntahan ucapannya bisa membuat orang lain sakit, marah, emosi atau takut. Buzzer itu tak beda antara ngomong dengan muntah dan meludah.

Target para buzzer bukan otak melainkan untuk menggelapkan hati orang lain karena buzzer sendiri bertindak dari gelapnya hati.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.