Piala Dunia kali ini unik karena sarat dengan isu-isu politik. Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah mengecewakan negara-negara superpower sepak bola di Eropa. Muncul isu suap yang melibatkan FIFA, otoritas sepak bola dunia, dalam penunjukan Qatar sebagai tuan rumah. Isu hak asasi manusia dan diskriminasi terhadap kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) menjadi isu panas yang mendistraksi konsentrasi banyak tim.
Kekalahan Jerman dari Jepang disebut-sebut sebagai akibat kurang konsentrasi pemain-pemain Jerman, karena terdistraksi oleh isu LGBT. Tuan rumah Qatar melarang semua aktivitas dan simbol yang ditujukan untuk mempromosikan LGBT. Pemakaian ban kapten pelangi berlogo ‘’one love’’ dilarang oleh FIFA atas usulan tuan rumah.
BACA JUGA: Iran
Beberapa tim Eropa menentang larangan ini, tapi FIFA tegas mengancam akan mengeluarkan kartu kuning otomatis bagi kapten tim yang memakai ban kapten pelangi. Kapten tim Jerman Manuel Neuer sudah menegaskan akan memakai ban kapten pelang, tapi urung karena ancaman kartu kuning.
Tetapi Jerman tidak mundur. Dalam sesi foto menjelang pertandingan melawan Jepang, tim Jerman berpose dengan menutup mulut dengan tangan. Hal ini dimaksudkan sebagai protes terhadap tuan rumah dan FIFA, yang dianggap membungkam hak-hak demokratis peserta Piala Dunia yang mendukung LGBT.
Qatar tetap tegas dengan sikapnya. Para pengritik menyorot perlakuan represif dan diskriminatif Qatar terhadap LGBT dan para pekerja migran yang dikabarkan mendapat perlakuan buruk. Qatar membalas dengan menuduh negara-negara Eropa itu punya agenda politik tersembunyi untuk mendiskreditkan Qatar.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi