Jumat, 29 Mei 2026, pukul : 02:17 WIB
Surabaya
--°C

Terorisme dan R20

Armstrong melihat istilah ini cenderung emotif dan merupakan salah satu istilah yang sering disalahgunakan dalam Bahasa Inggris, dan merupakan celaan, paling mencela, yang mencirikan tindakan kekerasan. Motif terorisme pun berbeda-beda. Akan tetapi, terdapat satu hal yang umum bahwa terorisme pada dasarnya dan secara inheren bersifat politis. Terorisme selalu soal kekuasaan dalam hal memperoleh atau mempertahankannya.

Armstrong menggali jejak historis hubungan antara kekerasan dan agama sejak tiga ribu tahun sebelum kelahiran Isa Almasih sampai saat ini. Ia menyimpukan bahwa kekerasan yang mengatasnamakan agama, pemicu utamanya, sebenarnya, selalu saja berhubungan dengan nasionalisme sekuler. Sebut saja peperangan yang terjadi di Palestina yang tidak kunjung selesai sampai kini.

BACA JUGA  Haramkan Dosen dan Tendik: Unesa Putar Balik Tradisi Kurban, Prioritas Mutlak Wong Cilik dan Mahasiswa Rantau

Berbeda dengan persepsi umum. Armstrong melihat bahwa kekerasan yang dialami rakyat Palestina–perang Israel dengan tetangga-tetangganya, dan tindakan balasan palestina–tidak dimotivasi oleh agama, tetapi oleh nasionalisme sekuler. PLO (Palestina Liberation Organization) yang didirikan Yasser Arafat bukanlah organisasi keagamaan melainkan organisasi nasionalis sekuler yang berjuang untuk memerdekakan diri dari Israel. Hal yang sama dilakukan oleh Hamas yang lebih berdasarkan pada keyakinan aqidah Islam.

BACA JUGA: Elina dan Pelosi

Demikian pula yang terjadi antara Pakistan dengan India, yang selalu dikemas dengan peperangan antara penganut Islam, Pakistan, dan Hindu-Budha, India. Padahal, pemicunya lagi-lagi persoalan politik.

Hampir semua agama di dunia mempunyai masa kelamnya masing-masing terkait dengan kekerasan berdasarkan motivasinya. Seperti dikutip oleh Sigmun Freud (1856-1939), manusia termotivasi oleh keinginan untuk mati secara agama sama kuatnya dengan keinginan untuk berketurunan, sehingga, hal ini bisa dijadikan alat untuk melancarkan berbagai kepentingan dengan cara kekerasan.

BACA JUGA  Mengapa NPD Tak Suka di Rumah ?

Graham Fueller berpendapat kurang lebih sama. Tanpa Islam pun kondisi dunia sebenarnya akan sama saja. Alasannya sederhana, agama bukanlah faktor yang menyebabkan berbagai kekerasan itu. Pemicu utamanya adalah kondisi geopolitik dan sosial, hegemoni yang mengesaimpingkan hak-hak komunal, serta kepentingan-kepentingan lain yang sepenuhnya sekuler. Agama, dalam konteks ini sekedar justifikasi, atau alat agitasi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.