Sabtu, 18 April 2026, pukul : 17:29 WIB
Surabaya
--°C

Paloh Pintar, (Seolah) Menjadikan Anies Is My Man

KEMPALAN: Pagi kemarin kawan senior yang sekaligus sudah saya anggap sebagai “guru”, mengirim pesan dengan nada hati riang. Pesan dikirim via WhatsApp, “Yes SP–inisial nama Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem–menunjukkan kualitas sebagai politisi yang smart, sekaligus statemanship-nya dengan high politic gesture,” ujarnya bersemangat.

Setelah saya jawab dengan meng-iya-kan pendapatnya tanda setuju, dan sedikit beri analisa ala kadarnya sebagai murid “politiknya”, kawan senior tadi–acap lebih fasih jika mesti menyantolkan selipan bahasa negeri sono–bagian ke-riang-an hatinya melihat Paloh yang pintar, dan tentu Partai NasDem, yang memilih Anies Baswedan sebagai Capres pada Pilpres 2024.

“SP smart curi start dengan menggandeng menunjukkan ‘Anies is My Man’ taking the credit and risk. Seolah-olah not belong to Democrat or PKS yang lambat bergerak,” ucapnya bersemangat, yang pastinya saat menulis pesan itu hatinya bak bunga sedang merekah.

Entah berapa banyak orang yang merasakan atmosfer keriangan yang sama dengannya. Bisa jadi terlalu banyak. Bahkan tak terhitung. Suasana keriangan pada satu sisi telah dibangun NasDem dengan mendeklarasikan capresnya, itu memang langkah pintar. Paloh jeli membaca psikologi massa yang berharap hadirnya partai politik yang bisa secepatnya meminang Gubernur Jakarta, bahkan sebelum masa tugasnya berakhir. NasDem mengambil momen itu dengan baik.

BACA JUGA: Tarian Paloh

Namun ada juga manusia yang sejak dari orok memang mesti hadir dengan sikap antipati pada Anies. Bahkan perlu menstempel diri dengan harga mati, tidak pernah akan memilih Anies Baswedan selamanya. Jika ditanya mengapa mesti demikian, pastilah tidak ada jawaban konkrit bisa menjelaskan ketidaksukaannya itu. Muncul kabar angin yang kerap dihembuskan, Anies pelaku politik identitas.

Jika didesak dengan pertanyaan susulan, pada kasus apa politik identitas itu disematkan pada Anies. Pasti jawabannya ngelantur, dan itu pada pilkada DKI Jakarta 2017. Bahwa Anies memenangkan pilkada Jakarta lewat politik identitas. Mereka lebih pada kelompok sas-sus yang modusnya ingin menstigma Anies itu buruk.

Bahkan ada, meski tidak banyak, sebatas hitungan jari saja pengurus NasDem yang lebih memilih mundur setelah partai mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capresnya. Mereka seperti rumus yang dibuat–bahkan layaknya influencer saja–yang dimenej dengan pokoknya tidak suka. Memaksa mata dan hati tertutup rapat untuk tidak sudi melihat Anies Baswedan dengan yang sebenarnya. Itulah risiko yang mesti dialami NasDem pada pilihan kebijakan politik yang dibuatnya. Adalah hal biasa jika muncul riak gelombang tipis-tipis bagian dari dinamika yang muncul.

Sikap Paloh mengemudikan NasDem tampak sebagai politisi matang, bukan politisi kaleng-kaleng. Paloh tahu kapan mesti bergerak, dan mengambil sikap. Bahkan Paloh tahu seberapa besar nantinya geliat internal partai atas kebijakan strategis yang dibuatnya itu membuncah. Semua tampak serba terukur. Paloh benar-benar matang dengan berani ambil risiko pada sikap politiknya.

Bahkan Paloh tahu kapan NasDem buat waktu untuk berkoalisi dengan rezim, dan kapan waktu buat mengakhirinya. Paloh menjadikan NasDem lentur, bisa di dalam kekuasaan maupun harus di luar kekuasaan, dan itu artinya oposisi. Pola Paloh membawa NasDem penuh perhitungan.

Paloh pada awalnya dikenal.sebagai politisi Partai Golkar. Bahkan Paloh dibesarkan partai itu. Pada saatnya ia mesti bertarung merebut menjadi orang nomor satu–bersaing dengan Aburizal Bakrie di Munas Golkar VIII Pekanbaru–dan kalah. Paloh banting stir dengan mengawali peruntungan menggulirkan Ormas NasDem. Banyak intelektual dan cendekiawan terlibat di sana. Anies Baswedan, dan juga Eep Saefulloh Fatah diantaranya, jika boleh disebut mereka yang bergabung dengan ormas yang menawarkan slogan Restorasi Indonesia.

BACA JUGA: Paloh, dan Harapan Hadirnya Presiden Sebenarnya

Saat berubah menjadi partai politik, Partai NasDem, Anies dan juga Eep memilih dengan tidak bergabung. Anies memilih sebagai akademisi kampus. Ia menjadi Rektor Universitas Paramadina. Kemudian takdir membawanya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Disusul menjadi Gubernur, yang mampu membawa Jakarta maju kotanya bahagia warganya. Jika takdir berpihak, tidak mustahil Anies Baswedan di 2024 nantinya bisa juga berkantor di jalan Medan Merdeka Utara–tempat Presiden Jokowi saat ini berkantor.

Partai NasDem memilih Anies Baswedan sebagai capresnya, tentu sudah dihitung dengan matang. Anies itu capres paket komplit: Integritas, intelektualitas dan elektabilitas (yang tinggi). Itulah modal yang dipunya Anies, yang buat kesenggsem Partai NasDem cepat-cepat meminangnya.

Hari-hari berikutnya, setelah Deklarasi Capres Partai NasDem, berharap partai lain, setidaknya Partai Demokrat dan PKS, berkoalisi dalam Pilpres mengusung Anies Baswedan. Deklarasi definitif tiga partai, jika mungkin sekaligus dengan cawapresnya.

Perjalanan menuju Pilpres 2024 memang masih sekitar satu setengah tahun lagi, namun dinamika kedepan yang akan ditemui Paloh sebagai pribadi, dan Partai NasDem, tidaklah kecil. Hal itu disampaikan Paloh sendiri, bahwa akan muncul risiko atas pilihan politiknya. Paloh tampak siap menghadapinya. Risiko sebesar apapun yang akan dialami Paloh dan NasDem, jika itu nantinya memang muncul, hasilnya akan sebanding dengan pilihan politiknya. Rakyat dengan seksama bisa melihat itu semua. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.