Kita ingin negara maju dengan birokrasi yang belum matang. Ingin membangun manusia unggul, tapi orang cakap disia-siakan. Ingin industri kuat, tetapi masih terbelenggu ekonomi ekstraktif.
Oleh: Prof. Yudi Latif
KEMPALAN: Saudaraku, Indonesia tidak kekurangan mimpi. Yang sering kurang adalah keberanian melihat dirinya sendiri.
Kita hidup di negeri kaya tetapi tetap rapuh, ramai tetapi kerap kehilangan arah. Pertanyaan pentingnya bukan seberapa hiruk kita bergerak, melainkan apakah kita sungguh bertumbuh.
Bangsa tidak bangkit karena lebih sibuk, melainkan karena manusianya lebih bermutu, institusinya lebih tertib, dan masyarakatnya lebih giat dan sadar hukum.
Perubahan sejati jarang lahir dari slogan besar, revolusi besar. Ia tumbuh dari pekerjaan panjang yang tampak biasa: sekolah yang bekerja baik, birokrasi bersih, guru yang dihormati, hukum yang adil, dan masyarakat yang belajar disiplin.
Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok maju lewat puluhan tahun membangun manusia, industri, dan ketekunan.
Indonesia memiliki daya tahan besar – melewati kemiskinan dan krisis tanpa runtuh. Tetapi daya tahan saja tidak cukup; bangsa besar adalah yang mampu bertahan sekaligus unggul.
Hari ini kita berbicara tentang bonus demografi, hilirisasi, makan bergizi gratis. Namun masalah utama bukan kekurangan ide, melainkan lemahnya kemampuan menjalankan ide secara bersih, tepat, dan konsisten.
Kita ingin negara maju dengan birokrasi yang belum matang. Ingin membangun manusia unggul, tapi orang cakap disia-siakan. Ingin industri kuat, tetapi masih terbelenggu ekonomi ekstraktif.
Kita berbicara tentang demokrasi sehat, tetapi membiarkan uang dan identitas menggantikan akal sehat. Ingin hasil besar, tapi tidak sabar pada proses panjang.
Kemajuan lahir dari jutaan tindakan kecil yang dilakukan dengan benar, terus-menerus.
Karena itu kebangkitan Indonesia mungkin tidak dimulai dari istana negara, melainkan dari guru yang berdedikasi, pegawai yang menolak suap, pemimpin yang jujur, orang tua yang menghargai kemampuan lebih dari gengsi, dan juga masyarakat yang tak lagi mengagumi kekayaan tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya.
Pekerjaan terbesar kita bukan sekadar menjadi lebih kaya, tetapi menjadi lebih dewasa sebagai bangsa.
Sebab negara besar tidak dibangun oleh euforia sesaat, melainkan oleh kesediaan menjalani pekerjaan panjang dalam senyap, dengan etos kerja kuat dan konsisten dalam bersikap.
*) Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi