Catatan Ekonomi Bambang Budiarto
KEMPALAN: Kanjuruhan, sesuai Prasasti Dinoyo Tahun 760 M adalah kerajaan kecil berlokasi di seputaran Lowok Waru – Malang sekarang ini. Dibawah kepemimpinan Raja Gajayana, kerajaan ini mencapai puncak perkembangan ekonomi tanpa upaya memperluas wilayah kekuasaan layaknya beberapa kerajaan pada masanya. Begitulah Kanjuruhan di masa lalu, yang namanya di hari-hari ini begitu populer dan mendunia seiring dengan terjadinya maha pralaya sepak bola. Meninggalnya lebih dari seratus Aremania pasca digelarnya pertandingan dalam lanjutan kompetisi Liga 1, kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Dan, dunia sepak bola pun berduka.
Sepak bola sekarang memang tidak lagi sekedar sebuah olah raga tapi sudah menjadi sebuah industri, sehingga cukup banyak pertimbangan-pertimbangan ekonomi yang dilakukan dalam setiap pengambilan keputusannya. Sementara boleh “diparkir” dulu keberadaan 28 klub Liga 2 dan klub-klub Liga 3 yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia.
Dengan 18 klub Liga 1 saja, dipastikan uang yang berputar sudah triliunan dan keseluruhannya memiliki multiplier effect dengan berbagai keragamannya yang tentu saja hal ini secara teoritis mampu menciptakan pergerakan ekonomi dengan gayanya sendiri.
Rilis beberapa media di pertengahan 2022, Persija Jakarta adalah klub dengan harga pasaran tertinggi, di atas Rp 100 miliar dan Persita yang terendah dengan harga pasaran di kisaran Rp 40 miliar. Arema, yang sedang hangat menjadi pembicaraan ada di angka Rp 74 miliar. Beberapa klub lain rata-rata ada di kisaran Rp 60 miliar.
Status badan hukum hampir seluruh klub yang Perseroan Terbatas, semakin memperkuat label bahwa sepak bola kita adalah sebuah industri. Sebagai sebuah unit kegiatan ekonomi dalam industri, tentu saja setiap klub boleh berharap profit melalui konsep dasar capaian Input (I) Proses (P) Output (O). Ending-nya tentu saja pada setiap O yang ada akan mampu menjadi outcome.
Pada setiap klub di Liga Indonesia, bila keberadaan pemain adalah I dan latihan rutin adalah P, maka yang dimaksud dengan O tentu saja adalah pergelaran atau pertandingan klub tersebut, benar begitu-kah? Yang pasti hampir semua O pada klub ini telah mampu menjadi outcome, ini terbukti dengan hadirnya penonton berbayar di stadion.
Konsumen dalam membelanjakan uangnya tentu saja memiliki harapan, yaitu mendapat kebermanfaatan atas nominal rupiah yang sudah dibayarkannya. Berangkat dari pemikiran yang demikian tentu pada giliran berikut muncul pertanyaan, untuk membeli apakah konsumen mengeluarkan uang di pertandingan sepak bola?
Bisa dipersempit, atas tiket yang sudah dibayarkan sebenarnya apakah yang dibeli oleh Aremania di gelaran pertandingan Arema vs Persebaya ? Jika Aremania membeli O, sementara O-nya adalah gelaran pertandingan, tentu saja sebenarnya semua sudah selesai ketika pertandingan berakhir, layaknya Baladewa menonton pergelaran Dewa atau Vyanisty selesai nonton konser Via Vallen.
Tidak beda dengan Bonek yang ngamuk di Kamis 15/9/2022 setelah Persebaya ditaklukkan RANS United, Aremania yang juga diberitakan ngamuk usai Arema dikalahkan Persebaya (Minggu 1/10/2022). Ini memberi arti bahwa yang dimaksud dengan O dalam industri ini tentu saja bukanlah hanya sekedar pergelaran pertandingan. Dapat pula dipahami bahwa konsumen tidak mendapatkan “barang” sesuai dengan yang diharapkan, yaitu kemenangan.
Yang harus disadari sejak awal bahwa tidak ada jaminan atas tiket yang sudah dibeli tersebut pada konsumen akan memperoleh optimal capaian, yaitu kemenangan. Bisa juga dilihat dari sisi yang berbeda, apabila kemenangan klub adalah profit dan kekalahan klub adalah kerugian, maka keberadaan suporter justru lebih dekat sebagai seorang investor dan bukan konsumen.
Mencermati situasi yang demikian, meskipun telah sama-sama mengeluarkan uang, akhirnya muncul pembedaan antara istilah antara konsumen, penonton, dan suporter. Selanjutnya silahkan mendiskripsikan perbedaan di antara ketiganya. Selamat jalan Aremania, Salam Satu Jiwa. (Bambang Budiarto, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Dosen Universitas Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi