Jumat, 26 Juni 2026, pukul : 21:00 WIB
Surabaya
--°C

Putusan Otak

munawir syadzali

Alhmarhum Bapak menamai sy dengan nama Munawir Sandali, itu setidaknya yg tertulis di ijazah TK. Krn suka dibully dg sebutan Sandal, Sy pun mencari jati diri nama saya, dr mana sebenarnya nama itu, apa artinya dan meniru siapa. Usut punya usut, ternyata harapan org tua memberi nama itu supaya bisa menjadi mentri agama. Waktu itu, kelas 3 SD sy bingung, mentri agama yg mana, kuberanikan diri sy bertanya ke guru TPQ sy. Utk nama saya, bagaimana tulisan arabnya. Bu Guru itu pun menuliskan nama sy versi arabnya. Sy catat, sy simpan. Suatu ketika, sy membuka2 halaman depan al Qur’an terbitan kemenag, tertulis di kata pengantarnya, dg huruf arab, yg sama seperti Bu Guru menuliskan utk sy. Oh ini, toh rupanya, tulisan yg sebenarnya. Sy mencoba mentransliterasi sendiri, bagaimana mengubah huruf arab ke indonesia. Jadilah Munawir Syadzali. Harusnya Munawwir, dr nawwara, yunawwiru, fa huwa munawwirun. Tp, krn Pak Mantri Agama menuliskan namanya dg Munawir Sjadzali, sy tuliskan saja spt itu, tanpa tasydid. Waktu ada perubahan penulisan nama kelas 6 SD utk penulisan nama ijazah, sy ajukan ke wali kelas utk perubahan nama, sy patenkan sendiri, tanpa sepengatahuan org tua, pun sampe skrg, maklum, org tua masih buta huruf. Demikian cerita tdk penting dr saya. Semoga, sebagaimana namanya, Munawwir, org yg memberikan cahaya, Sy bisa bermanfaat utk sesama, agama dan negara. Amien

BACA JUGA  Kekerasan Finansial pada Korban Pasangan NPD

DeniK

Berbahagialah bagi pembaca disway Yang yang bisa isi kolom komentar setiap hari. Kolom komentar sekarang sudah seperti bensin premium,sangat susah di cari.hil yang mustahal. Jadi silent reader itu jadi pilihan. Salam buat’ mas Dur’ di Borgam.

yea aina

Soal kekhasan muslim di Indonesia, dinarasikan secara ilmiah oleh Prof Azra, hingga menjadi rujukan ilmuan barat. islam Nusantara versi Prof Azra, jangan disamakan dengan Islam Nusantara yang akhir-akhir ini diwacanakan. Sebab sebuah karya ilmiah steril dari muatan kepentingan, entah itu jabatan apalagi uang. Prof Azra hanya menjelaskan BAGAIMANA sejarah dan sikap muslim Indonesia yang dikenal sangat toleran. Mungkin, beliau merasa tidak perlu menjelaskan MENGAPA sikap toleransi begitu kuat mengakar di sini, dalam disertasinya. Umumnya literatur ilmiah hanya membahas suatu hal berdasarkan bukti logis-empiris. Padahal sikap toleransi didasari kesadaran yang bersifat spiritual, keyakinan orang per orang. Perbedaan sisi spiritual (keyakinan) tidak layak diperdebatkan, baik di ranah ilmiah apalagi hanya ranah medsos. Bisa ribut debat kusirnya.

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.