Sebagai bekas polisi dia mencemaskan kriminalitas yang tinggi sejak awal berkembangnya pulau ini. Dia menunjukkan bekas luka panjang diagonal di perutnya. Itu yang membuat dia berhenti jadi polisi. Personel kurang. Dana operasional tinggi. Kejahatan tinggi. Pulau ini kecil memang, tapi semua kejahatan ada di sini: penculikan, penyelundupan keluar dan masuk, trafficking, pencucian uang.
”Sekalian saja saya jadi preman, orang bebas. Daripada terikat dengan aturan kepolisian. Saya orangnya disiplin. Tapi, tahu tidak, Mas Dur, sampai sekarang, sudah puluhan tahun saya berhenti jadi polisi, kapolres berganti belasan kali, saya masih diizinkan pegang pistol, lho… Mau lihat?” tanya.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (5)
”Nggak usah, Pak. Percaya,” kata saya. Tapi, tetap saja dia keluarkan pistolnya dari tas hitam yang selalu berada tak jauh dari dirinya itu. Dia sorongkan ke saya. Menyuruh saya memegang pistol itu. Dingin. Dia suruh angkat. Berat. Dingin dan berat.
”Kalau kamu mau tahu siapa-siapa orang sipil di sini yang pegang pistol tanya saya. Saya punya daftarnya,” katanya.
Saat itu saya hanya berpikir, mungkin suatu saat data itu berguna juga buat saya. Di antara banyak cerita Pak Roni yang paling sering beliau ceritakan ulang adalah menjadi sopir presiden. Siapa saja presiden negeri ini kalau berkunjung ke pulau itu maka sopir mobilnya selalu beliau.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi