Siapa Membunuh Putri (5)

waktu baca 7 menit
Ilustrasi Pembunuhan (Kolase-Kempalan.com)

Rapat Redaksi yang Kacau

KEMPALAN:KAU pimpin rapat, ya!” kata Bang Eel kepadaku. Aku terkejut. Dan spontan menolak.

”Wah, kan baru terima SK hari ini, Bang. Paling tidak abang umumkan dululah…”

”Kau umumkan sendirilah. Malas aku nanti ribut sama Jon,” kata Bang Eel. “Aku ada rapat sama orang percetakan. Sekarang,” katanya.

Ia keluar kantor. Lalu dengan mobil kantor dia diantar ke Sagulung, tempat percetakan kami. Jaraknya lumayan jauh, seperti di sisi lain pulau ini. Itulah jarak yang tiap malam bolak-balik ditempuh oleh teman-teman pracetak, mengantar lembar film-film halaman koran, untuk dibikin pelat cetak dan kemudian masuk mesin cetak. Jarak itu pula yang ditempuh teman-teman percetakan dengan mobil boks bawa koran ke kota. Itu sebabnya, seperti kata Bang Eel, deadline adalah nabi kedua bagi orang koran.

BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (1)

Di ruang rapat, anak-anak redaksi sudah menunggu. Termasuk Mas Jon. Saya berusaha keras menyusun kata-kata untuk membuka rapat sebaik mungkin. Apa yang harus kukatakan? Bagaimana harus mengatakannya? Ada beberapa wartawan senior selain Mas Jon, tandem dan mentor awalku di liputan lapangan, dan hari ini saya memimpin mereka dalam rapat redaksi.

“Eel mana? Kok bukan dia yang mimpin rapat?” kata Jon, menggelegar, sebelum aku bicara. Soal rapat di percetakan itu aku sampaikan sebagai alasan, dan jawaban itu jadi pembuka yang mulus, pengantar pembuka rapat yang kusampaikan dengan lancar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *