Dia tertawa lebar. ”Jadi orang bebas begini saja nikmat sekali, Dur. Sesekali jadi sopir presiden itu juga nikmat lain yang luar biasa,” katanya terus memperbesar tawanya.
“Saya ini mau mencari apa lagi? Anak-anakku sekolah dan tinggal di luar negeri. Masih sehat, masih bisa makan sukun goreng. Ngopi bareng wartawan hebat macam kau ini….,” katanya.
”Bapak banyak musuh, Pak? Kan banyak penjahat yang dulu bapak tangkap?”
”Beberapa aku tembak dan mati,” kata Pak Roni. Seperti sesal, tapi ia sama sekali tak ragu dengan ucapannya itu.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (7)
”Pasti ada yang dendam sama aku. Aku sendiri sudah menganggap semua jadi bagian dari masa lalu, yang sudah lewat. Itu dulu kan aku lakukan sebagai tugas,” katanya.
”Bapak takut?”
”Kalau takut ngapain aku bertahan di sini, Dur. Anak saya bolak-balik ngajak saya tinggal di Amerika, yang satu di Australia,” kata Pak Roni. ”Saya mencintai kota pulau ini, Dur. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu banyak bagian dari sejarah hidup saya yang saya lewatkan di sini. Istri saya juga dikuburkan di sini. Saya tak bisa jauh dari dia,” katanya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi