JAKARTA-KEMPALAN: Selama beberapa bulan terakhir, harga gas mengalami penurunan yang stabil. Hal itu terjadi ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga yang tinggi untuk mendinginkan perekonomian.
Dilansir dari CNN, sejak harga gas per galonnya mencapai rekor sebesar USD 5,02 pada 14 Juni 2022, harga rata-rata nasional untuk gas turun sebesar 22 persen atau sebesar USD 1,10 menjadi USD 3,92. Rata-rata itu turun berturut-turut selama 67 hari.
Pengecer besar, seperti Walmart (WWT), Target (TGT), Best Buy (BBY), dan Gap (GPS) memotong harga barang tersebut setelah konsumen beralih ke pengeluaran lebih banyak untuk gas dan makanan.
Saat ini banyak yang memprediksi akan terjadi resesi karena pengeluaran konsumen menyumbang hampir tiga perempat dari aktivitas ekonomi Amerika Serikat.
Menurut Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, penurunan harga beras sebesar USD 1 setara dengan penghematan sebesar USD 125 miliar per tahun untuk rumah tangga AS atau per bulannya lebih dari USD 10 miliar.
“Dan itu hanya keuntungan langsung. Turunnya harga solar menurunkan biaya transportasi untuk semua barang, termasuk makanan,” pungkasnya. “Jika Anda menambahkan manfaat tidak langsung, itu adalah uang sungguhan,” tambah Mark.
Zandi menyebutkan, dirinya masih berpikir ada kemungkinan sebesar 50 persen bahwa ekonomi AS jatuh ke dalam jurang resesi dalam tahun depan hingga 18 bulan.
Eksekutif di Target dan Walmart mengatakan pada pertemuan dengan investor minggu ini bahwa mereka melihat adanya tanda-tanda harga gas yang lebih murah sehingga dapat meningkatkan permintaan konsumen terhadap barang yang tidak penting.
“Jika Anda memberi tahu kami bahwa bahan bakar akan terus turun dan inflasi makanan akan moderat, itu memengaruhi cara kami berpikir tentang inventaris barang dagangan umum,” ujar CEO Walmart Doug McMillion.
Dikutip dari The Federalist, dari tahun ke tahun tingkat inflasi mengalami lonjakan setiap bulannya seiring dengan kenaikan indeks energi sebesar 32,9 persen sejak tahun lalu.
Indeks bensin meningkat sebesar 44 persen, sedangkan indeks bahan bakar minyak naik sebesar 75,6 persen. (Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi