Pandji dan Alasan Pilihan Politiknya: Keren

waktu baca 4 menit
Pandji Pragiwaksono, aktor dan komika.

KEMPALAN: Pandji Pragiwaksono namanya. Sebagai aktor dan komika, bisa disebut ia salah satu yang intelek. Bahkan sepertinya satu-satunya yang berani memilih pilihan dengan nalar, dan itu diungkapkan pada publik. Pilihan politik dengan nalar bagi sebagian orang itu penuh risiko. Maka dikalangan artis, semacam Pandji, itu punya taruhan tidak kecil.

Salah memilih pilihan politik, bisa tamatlah karir keartisannya. Bisa tidak “ditanggap” alias diboikot. Kebiasaan buruk bagi negeri pseudo demokrasi. Banyak contoh bisa disebut mereka yang dibuat tamat karirnya. Tentu tidak etis jika disebut nama bersangkutan.

Begitu salah pilihan, sepertinya ladang rezeki dikunci rapat untuknya. Tidak lagi muncul namanya dalam deretan selebritis. Seperti ditamatkan karirnya. Seperti terkubur sebelum waktunya. Padahal yang bersangkutan terbilang artis punya seni peran dan karakter yang baik, dan memilih peran yang tidak sembarang peran.

Apakah itu karena salah pilihan politiknya, jawaban bisa debatable. Mungkin karena pilihan yang tidak banyak dipunya mereka–siapa pun itu–dibanding pilihan politik kebanyakan, yang lalu muncul jadi pemenang. Jadi bukan salah memilih, tapi pilihan politik dengan nalar memang belum sebanyak yang memilih dengan hati.

Pilihan dengan nalar itu berdasar apa yang dilihat dan dirasakan. Sedang pilihan dengan hati, itu lebih pada pilihan berdasar kelompok. Pilihan pada kelompok berdasar etnis, ini yang paling dominan. Ikut-ikutan pada pilihan kawan jadi model kelompoknya.

Tapi pilihan politik Pandji yang berdasar pada nalar, itu pilihan yang pastilah ia tahu penuh ranjau buat perjalanan keartisannya. Tapi Pandji ya Pandji, yang lebih memilih bertaruh dengan pilihannya. Dan pilihan politik berdasar nalar yang dipilihnya, seperti sudah jadi konsennya. Pandji sepertinya sudah yakin, bahwa rezeki tidak bisa ditutup oleh pilihan politik yang dipilihnya. Maka ia tak ragu suarakan pilihannya.

Saat Pilkada DKI Jakarta 2017, Pandji berdiri di posisi Anies-Sandi. Sedang mayoritas artis, termasuk para komika, berdiri di barisan petahana Ahok-Djarot. Itu taruhan pertama seorang Pandji Pragiwaksono. Anies-Sandi keluar sebagai pemenang. Pandji tidak lantas melepas Anies begitu saja, ia terus mengawalnya sebagai bagian dari tanggung jawab atas pilihannya.

Tapi Pandji pun tak lantas “mendekat” pada Anies minta jasa atas pilihan dan dukungannya. Pandji bahkan terkesan buat jarak. Bisa jadi agar ia tak kehilangan kekritisannya. Mendukung tanpa pamrih atau balas jasa. Tidak banyak yang semacamnya. Banyak justru sebaliknya, ngambek jika seolah “dilupakan” dan lalu mengumbar kekesalannya di ruang publik. Ngundat-ngundat.

Dulu saya bantu, tapi setelah terpilih melupakan. Narasi penuh kekecewaan semacam ini yang sering muncul. Padahal memilih pilihan politik, pastinya itu bukan paksaan. Itu muncul pada kesadaran (nalar), atau ikut kelompok etnis/agama/dan seterusnya (hati). Mestinya dicukupkan pada yang dipilih dan dibelanya itu menang. Dicukupkan sampai disitu saja. Tidak perlu berpikir lain. Pastinya itu tidak sama dengan menanam pohon di pekarangan rumah, dan berharap ada hasil yang didapat.

Pandji memang terbilang komika kritis. Acap membuat relawan Presiden Jokowi mencak-mencak. Pandji acap me-roasting Jokowi dengan kekritisannya yang lucu, tapi tetap intelek. Dan dibalas oleh “pecinta” Jokowi dengan umpatan tidak selayaknya.

Mengkritik rezim sudah ia lakukan bahkan sebelum era Jokowi. SBY pun jadi langganan kritiknya, dan itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang menyikapi berlebihan. SBY lalu jadi sosok yang dirindukannya, itu karena yang sekarang tidak sebaiknya. SBY mampu mengajak pendukungnya untuk tidak tipis telinga. Kata Pandji suatu ketika, “Serius gue kangen zaman SBY dulu”.

Pada helatan pilpres 2024, tampaknya Pandji Pragiwaksono ingin mengulang 2017, yang berdiri di barisan Anies Baswedan. Meski belum tahu siapa calon wakil presiden yang disandingkan dengan Anies. Sikap pilihan politiknya itu ia sampaikan dalam sebuah video, mengapa Anies jadi presiden yang dipilihnya.

“Emang kita gak pengen punya presiden yang prestasinya bisa kita banggakan, dan kita bisa ngomong dengan yakin apa prestasi dia,” katanya.

Baginya, yang ia yakini, bahwa Anies Baswedan adalah calon presiden yang prestasinya bisa dibanggakan.

“Dan saya percaya orangnya ini gitu, saya yakin kalau kamu melihat video pak Anies, beliau bicara pasti ada sesuatu yang membuat kita bilang, ‘ini presiden saya’,” ujarnya.

Pemilih calon presiden yang memilih dengan hati memang masih mendominasi. Perlu waktu untuk menariknya pada pilihan berdasar pada nalar. Soal tingkat pendidikan pemilih jadi rintangan tak mudah untuk menariknya. Tentu ini kerja keras bagi Pandji dan semua pihak yang ingin menghadirkan presiden selayaknya, yang mampu menjadikan negeri ini lebih baik.

Betapapun Pandji sudah memulai, yang dengan berani “pasang badan” menyampaikan hasratnya memilih calon presiden dengan kriteria yang jelas: presiden yang bisa dibanggakan. Dan itu pada karya yang dihadirkan. Semua risiko pastilah sudah diperhitungkan masak-masak. Keren memang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *