Broken Home, Pemicu Bunuh Diri Remaja?

waktu baca 4 menit
ILUSTRASI: Perceraian. (Foto: ©Shutterstock.com/ejwhite)

KEMPALAN: Masa remaja acapkali diklaim sebagai masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Ada banyak perubahan yang terjadi, baik secara fisik, psikologis, hormonal, dan sosial pada masa remaja. Adanya tekanan sosial yang menuntut remaja untuk menunjukkan pola kehidupan sosial baru seperti merubah tingkah laku anak-anak ke dewasa membuat remaja merasa tidak nyaman dan berakibat pada ketidakstabilan emosi yang berakhir pada timbulnya ide bunuh diri.

Broken home berasal dari dua kata yaitu broken dan home. Broken berasal dari kata break yang artinya retak, sedangkan home artinya rumah atau rumah tangga. Arti dari broken home dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perpecahan dalam keluarga. broken home juga dapat diartikan sebagai kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan seperti keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan dan perselisihan yang menimbulkan pertengkaran dan berakhir dengan perceraian.

Perceraian disini tidak hanya berdampak bagi yang bersangkutan (suami-istri), namun juga melibatkan anak khususnya yang memasuki usia remaja. Perceraian merupakan beban tersendiri bagi anak sehingga berdampak pada psikis. Seperti perasaan malu, sensitif, dan rendah diri hingga menarik diri dari lingkungan. Hal-hal yang biasanya ditemukan pada anak ketika orangtuanya bercerai adalah rasa tidak aman, tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi, sedih dan kesepian, marah, kehilangan, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orang tua bercerai

Bunuh Diri adalah merupakan sebuah tindakan sengaja yang mengakibatkan kematian diri sendiri. Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan gangguan jiwa seperti depresi, skizofrenia (gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. ketergantungan alkohol, atau bahkan penyalahgunaan obat. Hampir 800.000 orang meninggal akibat bunuh diri disetiap tahunnya atau dengan kata lain setiap 40 detik satu orang meninggal akibat bunuh diri.

Bunuh diri, khususnya pada remaja dilakukan karena salah satu faktor yaitu perceraian orang tua yang mengakibatkan remaja tersebut broken home. Kondisi seperti ini menyebabkan remaja stress dan tertekan, karena kurangnya dukungan sosial, terutama dari orang tua mereka. Kejadian bunuh diri tidak memiliki penyebab tunggal, pada individu yang bunuh diri sering kali ditemukan rendahnya sistem dukungan sosial seperti kekerabatan dan teman atau keimanan, pekerjaan, dan kelompok dukungan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *