KEMPALAN: FENOMENA pindah partai, atau sering disebut kutu loncat, adalah hal yang biasa dalam politik. Tidak hanya di Indonesia, di mana pun di seluruh dunia hal itu bisa terjadi. Orang terkaya di dunia Elon Musk menjadi kutu loncat dengan ‘’pindah partai’’ dari Partai Demokrat ke Partai Republik. Karena itu, siapa pun yang pindah partai seharusnya dianggap sebagai hal yang biasa dalam politik.
Di Amerika Serikat hanya ada dua partai mainstream yang selalu bersaing dalam setiap kontestasi politik. Partai Demokrat mewakili garis ideologi liberal-sekular dan Partai Republik mewakili ideologi konseratif religius. Dua partai itu berada pada pendulum politik yang berseberangan secara diametral. Dalam berbagai isu politik dua kubu selalu bertentangan secara tajam. Karena itu sangat jarang ada orang yang menyeberang dari satu partai ke lainnya.
Biasanya yang banyak terjadi adalah faksionalisasi di dalam kuadran partai itu sendiri. Partai Republik yang konservatif mempunyai varian gerakan bermacam-macam, mulai dari kanan ekstrem sampai kanan tengah yang moderat. Salah satu fenomena yang terjadi adalah munculnya faksi Tea Party di lingkungan Partai Republik yang menjadi tempat berkumpul orang-orang konservatif sayap kanan radikal.
BACA JUGA: From Russia with Love
Gerakan Tea Party muncul pada 2009 semasa pemerintahan Preisiden Obama. Awalnya hanya kecil tapi kemudian menjadi besar dan bahkan menjadi penyokong utama ketika Donald Trump menjadi presiden mengalahkan Hillary Clinton pada pilpres 2014. Kelompok Tea Party ini umumnya beranggotakan orang-orang kulit putih yang radikal dari kalangan WASP (White Anglo Saxon Protestant), kulit putih, keturunan Anglo Saxon Eropa dan beragama Protestan. Mereka tidak menyukai orang kulit hitam, kulit berwarna, dan imigran.
Saking fanatiknya terhadap gerakan konservatif, kalangan Tea Party meledek kelompok konservatif moderat sebagai RINO singkatan dari Republic in Name Only, artinya Republik sekadar nama saja, tidak benar-benar Republik yang orisinal. Beberapa tahun terakhir ini pengaruh Tea Party masih sangat kuat dan kemungkinan besar faksi ini akan kembali mengusung Donald Trump dalam pilpres 2024.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi