Pak Maidi lantas mengajak saya menyeberang jalan. Melihat kawasan “Galeri 6 Negara.” Masih belum jadi, tapi akan segera jadi. Ada Patung Merlion ala Singapura di situ. Di depannya ada tangga turun, menuju sebuah “terowongan.” Masih belum jadi, tapi akan ada tempat wisata menarik di bawah situ. Orang bisa naik perahu, atau jalan kaki, menuju bagian lain kota. Maaf, ke “negara lain” di tengah kota. Semua di “bawah tanah,” di bawah jalanan dan bangunan di tengah kota.
Di seberang jalan ada replika Kabah, sedang dibangun replika Madinah. Di belakangnya, sedang dibangun replika Menara Eifel. Nantinya, akan ada enam negara yang terwakili di situ. Singapura, Arab Saudi, Prancis, Inggris, Belanda, dan –yang keenam dan terpenting– Indonesia. Di sekelilingnya ada galeri UMKM, menjual produk-produk asli Madiun.
Biasanya, kalau membangun seperti ini, meleset sedikit saja bisa terkesan tidak keren. Pak Maidi tampak sangat berupaya agar itu tidak terjadi. Mantan guru geografi, beliau bilang selalu mengawasi sendiri, memastikan supaya segalanya sesuai ekspektasi.
Pak Maidi benar-benar ingin menyiapkan masa depan untuk Madiun, menjadikannya kota wisata unik. Dia ingin ada lima juta pengunjung setiap tahunnya ke Madiun. Dan yang saya suka, beliau tidak muluk-muluk dulu dalam mengincar wisatawannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi