Dihampiri Banyak Masalah, Tesla Kemungkinan Bangkrut?
JAKARTA-KEMPALAN: Dalam dua tahun terakhir Tesla dihampiri masalah yang beragam. Bahkan Elon Musk, CEO Tesla, membicarakan kemungkinan risiko perusahaan tersebut bangkrut.
Selama masa pandemi dua tahun terakhir ini, Tesla dikabarkan kehilangan miliaran dolar akibat adanya kebijakan lockdown dan masalah supply chain atau rantai pasokan.
“Dalam dua tahun ini, gangguan rantai pasokan benar-benar menjadi mimpi buruk, satu demi satu,” ujar Elon Musk yang dikutip dari Tribunnews.
Elon musk mengatakan bahwa perusahaannya masih belum keluar dari permasalahan tersebut. Permasalahan yang paling utama adalah bagaimana cara Tesla menjaga pabrik tetap beroperasi sehingga mereka tetap dapat menggaji karyawan mereka dan tidak bangkrut.
Selama beberapa pekan, pabrik Tesla di Shanghai telah ditutup karena adanya kebijakan karantina atau lockdown. Sementara itu, pabrik yang berada di Texas dan Jerman membuat Tesla kehilangan miliaran dolar karena permasalahan rantai pasokan.
Dalam wawancara dengan grup pemilik Tesla, Elon Musk ketika menyinggung risiko bangkrut dianggap mengatakan pernyataan yang berlebihan.
Salah satu contohnya adalah Elon Musk mengatakan bahwa saat ini perusahaan mobil sangat ingin bangkrut, tetapi tidak menunjukkan analisis keuangan yang memadai.
Namun, Tesla yakin akan keluar dari masa sulit yang dialaminya selama masa pandemi ini. “Ini akan normal kembali dengan sangat cepat,” ujar Elon Musk pada (31/5/2022).
Menurut Gordon Johnson dari GLJ Research, mengatakan bahwa saat ini Tesla sedang menghadapi permasalahan keuangan yang lebih besar dari perkiraan banyak pakar. “Kebangkrutan adalah risiko yang nyata bagi orang-orang ini,” ungkapnya.
“Mengapa? Karena banyak dari uang mereka yang terkunci di China. Mereka tak akan mendapat untung hingga mereka di China; dan mengingat China tidak mengizinkan perusahaan untuk memulangkan dolar yang mereka buat di negeri ini, dan Tesla memiliki masalah nyata,” jelasnya.
Tanda lain perusahaan Tesla sedang menghadapi masalah yang besar adalah mereka telah melakukan PHK sebanyak 10 persen pekerjanya.
“Anda pikir mengapa mereka mengurangi pekerja? Ini tanda yang sangat penting,” tambahnya.(Detik/Tribun/CNBC, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam









