Rabu, 1 April 2026, pukul : 13:49 WIB
Surabaya
--°C

Idola Masa Kecil, Gubernur Anies Ziarah ke Makam Sentot Alibasya

JAKARTA–KEMPALAN: Film November 1828, sebuah karya sinematik fiksi dalam epik sejarah atas dasar perang Diponegoro pada periode 1825-1830. Sang maestro Teguh Karya mengerti betul bagaimana mengemas sebuah cerita yang sarat akan makna edukasi kehidupan berbangsa lintas generasi  dengan bertumpu pada konflik empat tokoh antara lain Kapten Van Der Borst, Demang Jayengwirono, Letnan Van Aken  dan Kromoludirolah.

Tak hanya menyorot keempat tokoh tersebut beserta dinamikanya, Teguh juga berhasil mendeskripsikan kehebatan berperang dan sosok yang kharismatik dari Sentot Prawirodirjo, Panglima Perang Diponegoro ini ditampilkan Teguh dengan sangat epik dan menjadi sentral dari seluruh film, dimana strategi perang Sentot dan Diponegoro dalam perang Jawa ini yang menjadi bahasan utama film.

Sosok Sentot yang digambarkan begitu heroik tak ayal membuatnya amat digemari dan diidolakan, salah satunya adalah Anies Baswedan kecil yang saat itu masih berusia 10 tahun ketika film ini dirilis. 43 tahun berlalu, akhirnya dalam sebuah kunjungan kerja ke Bengkulu Anies yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta berziarah ke Makam Sentot Prawirodirjo atau yang dikenal masyarakat Bengkulu sebagai Sentot Alibasya.

“Beliau (Sentot) merupakan idola saya, saat kecil saya mengenal sosok beliau melalui film November 1828, Setelah menonton film itu, kami semua bermain perang-perangan, kami ingin menjadi seperti Sentot, Pangeran Diponegoro. Kami ingin membela negara ini karena terinspirasi film November 28 tersebut,” ujar Anies usai melakukan Ziarah ke Makam Sentot Alibasya di TPU Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu, Senin, 20 Juni 2022.

Nama Sentot Alibasya atau Sentot Prawirodirdjo bukan hanya amat lekat dengan kegigihannya sebagai Panglima Perang Dipenegoro, tetapi juga di Bengkulu nama Sentot amat harum sebagai salah satu penyebar syiar Islam di Bumi Raflessia.

Sosok Sentot sebagai Panglima Diponegoro juga diakui pihak kolonial hingga membuat mereka dengan licik memanfaatkan kemampuannya pada perang Paderi melawan Tuanku Imam Bonjol yang ternyata Sentot malah membantu Imam Bonjol mengusir kolonial sehingga membuatnya diasingkan ke Bengkulu 1833 dan akhirnya wafat pada 17 April 1885.

“Ada yang menarik dari sosok Sentot ini karena dimana pun beliau diasingkan, beliau tak pernah terasing bahkan selalu memberi kontribusi untuk masyarakat di tempatnya berada,” terang Anies.

Melihat kontribusinya untuk masyarakat dan umat yang begitu besar, Gubernur Anies menilai bahwa putra dari Ronggo Prawirodirjo, ipar Sultan Hamengku Buwono IV itu telah berhasil mengamalkan dengan amat baik filosofi jawa yakni urip iku urup.

“Beliau adalah orang Jawa dan keturunan raja yang menerapkan filosofi urip iku urup yang bermakna kita dilahirkan di dunia ini bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semua hanya untuk diri sendiri, akan tetapi kita lahir untuk saling memberi, saling menolong dan saling membantu sesama tanpa ada rasa pamrih,” papar Gubernur Anies.

“Dan filosofi tersebut diikhtiarkan dengan amat baik sehingga beliau mampu memberikan manfaat yang besar bagi semua khususnya umat Islam di Bengkulu,” tambahnya.

Gubernur Anies berharap kisah hidup dan perjuangan Sentot ini dapat menjadi inspirasi lintas waktu dan lintas generasi. Bagaimana seorang dapat memberikan manfaat dimanapun dia tingga dan tetap membela keadilan apapun yang terjadi.

“Banyak sekali inspirasi dari sosok beliau yang bisa dipelajari oleh generasi saat ini dan masa depan, bagaimana kita harus teguh memperjuangkan keadilan, serta mensyiarkan Islam yang membawa kedamaian dan memberikan manfaat untuk semua,” tutup Gubernur Anies. (kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.