Judul buku: Perang Dingin, Tiongkok, Malaya, dan Malaysia, 1949-1974
Penulis: A. Dahana
Penerbit: Kompas
Tebal buku: xix+324 halaman
Tahun terbit: 2021
ISBN: 9786233463553
Harga: 75.000
Peresensi: Reza Maulana Hikam
KEMPALAN: Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mungkin adalah salah satu negara yang menarik dikaji mulai dari kebudayaan masa lampaunya hingga pada politik dan ekonominya pada era modern. Semenjak kemenangan Partai Komunis Tiongkok (PKT) atas Kuomintang (KMT), negara tirai bambu itu memiliki kebijakan luar negeri yang menarik untuk ditelisik, terutama jika diulas oleh sinolog dari Universitas Indonesia, Abdullah Dahana.
Sekilas mengenai penulis buku ini, Profesor Abdullah Dahana adalah alumni Universitas Indonesia yang mengabdikan dirinya untuk mendalami kajian mengenai Tiongkok di Universitas Cornell dan Universitas Hawaii di Manoa. Buku ini merupakan disertasinya yang pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Melayu dengan judul China dan Malaysia dalam Arena Perang Dingin.
Meskipun tidak berfokus pada hubungan Tiongkok dengan Indonesia, bukan berarti buku ini tidak penting, karena demi melihat kesinambungan hubungan negara-negara Asia Tenggara dengan negeri panda raksasa itu, maka seseorang harus juga melirik para tetangganya, dalam hal ini, Malaysia adalah salah satu tetangga dekat Indonesia, yang mana Republik Indonesia pernah memiliki hubungan yang panas dengannya.
Adapun, Tiongkok yang diulas dalam buku setebal 324 halaman ini dimulai pada masa Mao Zedong dan naiknya PKT sebagai partai penguasa di negeri itu sejak tahun 1949. Meskipun nampaknya PKT berhasil memenangkan pertarungan dengan Kuomintang, namun tidak sepenuhnya KMT musnah. Mereka berhasil membangun basis baru di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Taiwan.
Tiongkok yang diam-diam agresif mencanangkan koeksistensi damai, karena banyak dari tetangganya memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat, seperti Taiwan, Jepang dan Korea Selatan (yang mana Tiongkok terlibat dalam Perang Korea). Negara yang sekarang dipimpin Xi Jinping, pada masa lalu juga memilih untuk mendekatkan dirinya dengan Uni Soviet, walaupun dalam perkembangannya akan muncul sino-soviet split.
Tahun 1949, kas negara Tiongkok habis terkuras karena perang saudara berkepanjangan antar dua partai itu, sehingga Mao dan PKT harus berpaling kepada etnis Tionghoa yang ada di luar negeri dengan meminta bantuan mereka untuk memberikan dana kepada pemerintah Tiongkok yang baru. Karena itu, pada periode awal kepemimpinan komunis di negeri itu, diaspora Tionghoa di luar negeri merupakan aset yang berharga, sehingga Tiongkok menganut ius sanguinis dalam penerapan kewarganegaraannya.
Penerapan azas tersebut…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi