Selasa, 28 April 2026, pukul : 06:53 WIB
Surabaya
--°C

Agresif Tapi Diplomatis, Siasat Tiongkok Hadapi Malaysia Masa Perang Dingin

Menurutnya, kebijakan luar negeri RRT dengan koeksistensi damainya bersifat moderat, maka dari itu tidak menekankan pada ideologi dan revolusi komunis. Tiongkok sepenuhnya menyalahkan Inggris atas kegagalan Perundingan Baling.

Sikap Tiongkok terhadap komunis lokal bergantung pada bagaimana pemerintah negara berkaitan terhadap Tiongkok, apabila pejabat setempat bersahabat dengannya, maka RRT akan mengendurkan dukungan propagandanya kepada pemberontak komunis lokal.

Akan tetapi, bukan berarti sikap RRT terhadap Malaysia menjadi lunak. Mao Zedong bahkan menuding para pemimpin Malaysia sebagai antek imperialis dikarenakan sikap Tengku A. Rahman yang antikomunis. Situasi ini semakin memanas ketika Sukarno mencanangkan Konfrontasi-nya melalui Ganyang Malaysia yang mendapatkan dukungan dari RRT.

Walaupun demikian, sehari sebelum pembacaan deklarasi kemerdekaan Malaysia, baik Mao maupun Zhou Enlai mengirimkan surat berisi ucapan selamat kepada Tengku A. Rahman, bahkan Mao memanggil sang perdana menteri Malaysia dengan panggilan “Yang Mulia”. Hal ini dimaknai oleh Dahana sebagai implementasi kebijakan koeksistensi damai yang dilancarkan oleh Tiongkok.

Buku ini mengajak para pembaca untuk melihat bagaimana kebijakan luar negeri Tiongkok pasca 1949 yang bersifat mendua. Di satu sisi mereka memperlihatkan keberhasilan perjuangan PKM, namun juga tidak melakukan konfrontasi keras terhadap pemerintah yang ingin membabat habis PKM. Sikap semacam ini seringkali terjadi di kalangan kelompok komunis, karena mayoritas dari negara komunis selalu melihat perkembangan situasi politik internasional.

Soviet pun melalui Komintern pernah menyarankan kerjasama dengan kaum kolonial/nasionalis borjuis untuk melawan fasisme yang dibawa oleh Jepang,  tetapi, pada suatu titik, terbentuklah Kominform yang mencanangkan doktrin dua kubu, bahwa dunia terbagi menjadi dua: pendukung sosialisme yang demokratis dan cinta damai serta kubu imperialis yang ekspansionis.

Sikap politik Tiongkok terhadap Malaysia pada kurun waktu 1949-1974 memperlihatkan dinamisnya hubungan internasional yang dapat berubah sewaktu-waktu karena keadaan mendesaknya. Buku ini bisa menjadi gambaran bagi para diplomat maupun mahasiswa hubungan internasional untuk melihat bagaimana kekuatan dominan yang sedang naik daun pada Abad 21 ini bermain di kancah mancanegara melalui kacamata sejarah. Pertanyaan besar yang akan muncul adalah bagaimana menyikapinya? (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.