Selasa, 28 April 2026, pukul : 00:42 WIB
Surabaya
--°C

Inovasi Pemakaman Masa Depan, Jasad Manusia Dijadikan Kompos

Pengomposan jasad manusia mungkin belum menjadi arus utama hari ini, tetapi ia menawarkan gambaran masa depan yang berbeda: kematian tidak lagi menjadi akhir yang statis, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang terus berlanjut.

Oleh: Rokimdakas

KEMPALAN: Perbincangan tentang kematian selama ini hampir selalu berujung pada dua pilihan: pemakaman konvensional atau kremasi. Namun, di tengah meningkatnya populasi manusia dan keterbatasan lahan, cara-cara tersebut mulai menghadapi tantangan serius.

Pertanyaan besar pun muncul, apakah metode pemakaman yang kita kenal hari ini masih relevan untuk masa depan?

Masalah pertama yang tak bisa diabaikan adalah keterbatasan lahan. Di kota-kota besar, ruang (terbuka) menjadi komoditas yang semakin mahal, termasuk untuk pemakaman.

Jika praktik penguburan konvensional terus dipertahankan, bukan tidak mungkin suatu saat kita akan menghadapi krisis ruang bagi mereka yang telah tiada.

Selain itu, ada beban sosial yang turut menyertai, anak cucu di masa depan harus menjaga dan mengunjungi makam leluhur, sesuatu yang tidak selalu mudah untuk dilakukan dalam era mobilitas global seperti sekarang.

Di sisi lain, budaya juga memainkan peran penting. Banyak masyarakat masih memegang teguh tradisi pemakaman konvensional sebagai bagian dari nilai spiritual dan penghormatan terhadap leluhur.

Namun, realitas modern menuntut adanya adaptasi. Di sinilah kremasi mulai menjadi alternatif yang semakin populer, karena tidak membutuhkan lahan luas.

Sayangnya, kremasi juga bukan tanpa masalah. Prosesnya memerlukan energi besar, terutama dari bahan bakar fosil, yang berdampak pada lingkungan.

Dalam konteks inilah muncul sebuah inovasi yang mulai menarik perhatian dunia, yakni pengomposan jasad manusia.

Metode ini menawarkan (suatu) pendekatan yang berbeda, bukan hanya sekadar “menghilangkan” tubuh, tetapi mengembalikannya ke alam dalam bentuk yang bermanfaat.

Dibungkus Bahan Hayati

Secara sederhana, yaitu metode ini bekerja dengan mempercepat proses alami dekomposisi. Jenazah dibungkus dengan kain berbahan hayati, lalu ditempatkan dalam sebuah kapsul khusus yang berisi campuran bahan organik seperti serpihan kayu, mulsa, dan bunga liar.

“Apa yang kami lakukan adalah mempercepat proses yang sepenuhnya alami,” kata Tom Harries, CEO perusahaan pengomposan manusia Earth Funeral, seperti dikutip CNN Indonesia edisi Sabtu, 25 April 2026.

Harries mengaku metode ini lahir dari kegelisahan pribadi setelah bertahun-tahun berkecimpung di industri pemakaman. Menurut data Asosiasi Kremasi Amerika Utara, kremasi kini menguasai sekitar 60 persen pilihan pemakaman di Amerika Serikat.

Melanjutkan pola pengomposan, di dalam wadah tertutup tersebut, mikroba bekerja secara aktif mengurai tubuh, dengan bantuan aliran oksigen yang dikontrol secara berkala.

Dalam waktu sekitar 30 hingga 45 hari, tubuh manusia dapat terurai sepenuhnya hingga ke tingkat molekuler. Hasil akhirnya bukan abu seperti pada kremasi, melainkan tanah subur seberat kurang lebih 136 kilogram.

Tanah ini kaya nutrisi dan dapat digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman.

Pendekatan ini bukan hanya efisien secara ruang, tetapi juga ramah lingkungan. Tidak ada emisi besar seperti pada kremasi, dan tidak ada penggunaan bahan kimia berbahaya seperti formaldehid yang umum digunakan dalam pembalseman pada pemakaman konvensional.

Dengan kata lain, metode ini mengurangi jejak karbon sekaligus mengembalikan manusia ke siklus alami kehidupan.

Lebih dari sekadar solusi teknis, pengomposan jasad juga menawarkan dimensi emosional yang baru. Alih-alih mengunjungi makam, keluarga dapat “bertemu kembali” dengan orang yang telah tiada melalui kehidupan baru yang tumbuh dari tanah tersebut.

Kisah-kisah yang muncul dari praktik ini menunjukkan bagaimana tanah hasil pengomposan digunakan untuk menanam pohon, bunga, hingga tanaman pangan – menciptakan bentuk kenangan yang hidup dan terus berkembang.

Namun demikian, inovasi ini tetap menghadapi tantangan, terutama dari sisi budaya dan penerimaan sosial. Tidak semua masyarakat siap menerima gagasan bahwa tubuh manusia diubah menjadi kompos.

Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terasa asing atau bahkan bertentangan dengan nilai yang dianut.

Meski begitu, perubahan selalu dimulai dari kebutuhan. Ketika lahan semakin terbatas, biaya semakin tinggi, dan kesadaran lingkungan semakin meningkat, masyarakat perlahan akan mencari alternatif yang lebih rasional dan berkelanjutan.

Pengomposan jasad manusia mungkin belum menjadi arus utama hari ini, tetapi ia menawarkan gambaran masa depan yang berbeda: kematian tidak lagi menjadi akhir yang statis, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang terus berlanjut.

Dari tubuh yang kembali menjadi tanah, tumbuh kehidupan baru, sebuah simbol bahwa manusia, bahkan setelah tiada, tetap memberi makna bagi dunia. Dalam perspektif ini, pemakaman bukan lagi hanya sekadar perpisahan, melainkan juga transformasi.

 Sebuah inovasi yang tidak hanya menjawab persoalan praktis, tetapi juga mengubah cara kita memandang hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan itu sendiri.

*) Rokimdakas, Wartawan dan Penulis

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.