Bagi para pengunjung candi Borobudur atraksi merogoh patung Budha itu seolah menjadi ritual wajib. Ada yang benar-benar memercayainya, ada juga yang sekadar iseng. Dua-duanya ternyata membawa akibat buruk terhadap kelestarian warisan budaya yang hebat ini.
Ternyata praktik yang dilakukan atas dasar iseng itu sekarang dituding menjadi salah satu penyebab kerusakan patung-patung di kompleks candi Borobudur. Tangan manusia yang berkeringat akan bersenyawa dengan patung batu dan menyebabkan munculnya penyakit jamur yang bisa merusak patung.
Beberapa hari terakhir ini candi Borobudur menjadi perbincangan nasional di jagat media sosial maupun media konvensional karena kenaikan harga tiket yang fantastis. Dari harga awal Rp 50 ribu sekarang naik menjadi Rp 750.000. Untuk turis asing harga tiket dipatok USD 100 dolar atau sekitar Rp 1,5 juta.
BACA JUGA: Who Are We?
Kontan kebijakan ini menimbulkan heboh nasional. Muncul berbagai komentar pro dan kontra. Yang pro mengatakan bahwa kebijakan pricing itu penting untuk menjaga kelesetarian candi Borobudur. Yang kontra menganggap kebijakan pricing itu diskriminatif dan akan menjadikan wisata Borobudur sebagai wisata elite yang hanya bisa terjangkau oleh orang-orang berada.
Tiket seharga itu tentu bukan harga yang terjangkau. Kalau diasumsikan bahwa pelancong ke Borobudur datang bersama pasangan dan dua anak maka mereka harus merogoh kocek sampai Rp 3 juta. Kalau dibandingkan dengan rata-rata upah minimum nasional angka itu sudah menyentuh sebulan gaji.
Tapi, para pendukung gagasan kenaikan harga itu punya pendapat lain. Pembatasan pengunjung perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian candi. Jumlah pengunjung yang tidak terkontrol disebut-sebut sebagai penyebab berbagai kerusakan yang bersifat vandalisme. Di beberapa akun media sosial bertebaran kabar bahwa setiap hari ditemukan ratusan bekas permen karet di sepanjang badan candi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi