Senin, 1 Juni 2026, pukul : 14:31 WIB
Surabaya
--°C

Who Are We?

KEMPALAN: Siapakah kita? Apa jatidiri kita, apa identitas nasional kita?

Pertanyaan itu dilontarkan oleh Samuel Huntington (2004) yang galau memikirkan memudarnya identitas nasional bangsa Amerika Serikat. Dalam bukunya ‘’Who Are We: The Challenges to America’s National Identitiy’’, Huntington mengatakan bahwa identitas nasional Amerika berada dalam bahaya. Setelah lebih dari dua ratus tahun menjadi bangsa merdeka, identitas itu menjadi perdebatan yang kembali mengemuka.

Sejarah bangsa Amerika relatif muda dibanding bangsa-bangsa lain di dunia. Negara ini adalah sebuah koloni yang ditemukan oleh Columbus pada 1492. Kemudian bangsa Inggris mulai memasuki wilayah itu pada awal abad ke-17. Melalui suka duka dan pertempuran yang hebat bangsa Amerika melepaskan diri dari kolinialisme Inggris pada 1776. Sejak itu mereka berusaha membentuk jatidiri sendiri terlepas dari masa lalu dan memutus rantai sejarah dengan Inggris.

BACA JUGA  NPD Sulit Akui Kesalahan

Huntington mengakui bahwa tidak mudah membangun identitas nasional itu, karena pada dasarnya identitas dasar bangsa Amerika tidak berbeda dengan bangsa Inggris yang dianggap sebagai penjajah. Identitas itu adalah WASP (white anglo saxon protestant), bangsa Amerika adalah kulit putih keturunan Inggris dan beragama protestan.

Mau tidak mau identitas itu tetap melekat sampai sekarang, dan bangsa Amerika sangat bangga dengan identitas itu. Inilah paradoks pada identitas nasional Amerika. Pada satu sisi mereka ingin menjadi bangsa yang merdeka dengan identitas yang betul-betul lepas dari Inggris sebagai penjajah. Tapi, di sisi lain mereka tetap bangga dengan identitas WASP-nya.

Pengalaman penjajahan membuat mereka berusaha menemukan identitas baru dengan menjadikan pluralisme, kebhinekaan, sebagai dasar filosofi berbangsa. Motto Amerika ‘’Pluribus e Unum’’ mirip dengan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi jargon bangsa Indonesia; bermacam-macam tetapi satu jua. Amerika ingin menjadi sebuah negara baru yang menerima kemajemukan sebagai bagian dari identitas nasional.

BACA JUGA  Sidoarjo Raih WTP 13 Kali Beruntun: Bukti Ketatnuya Tata Kelola di Tengah Pusaran Badai OTT Jawa Timur
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.