KEMPALAN: UNTUK kesekian kali,isu reshuffle kabinet kembali merebak hari-hari ini. Kemarin isu itu ditanggapi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno. Ia mengatakan, saat ini banyak permasalahan yang harus ditangani pemerintah secara cepat. Reshuffle dibutuhkan karena kondisi ekonomi global sangat dinamis. Pemerintah harus responsif dalam menghadapi berbagai persoalan. Pernyataan Pratikno yang setengah mengonfirmasi isu disampaikan di Gedung DPR, Senayan, Kamis (2/6).
Hak Prerogatif Presiden
Merombak kabinet atau mengganti menteri, memang hak prerogatif Presiden. Tinggal berani atau tidak? Bukankah sudah berkali-kali juga “diancamkan” Presiden Jokowi, namun belum terealisasi. Tidak ada halangan kapan pun mau dilakukan. Bisa tengah malam terpikir, besok pagi eksekusi. Paling -paling dinyinyirin oleh “buzzeRp” yang terlanjur menggantungkan hidup dari menteri yang lengser.
Perbaikan kinerja dan citra
Sudah benar langkah Presiden Jokowi mengambil opsi reshuffle dua tahun sebelum lengser. Demi memperbaiki kinerja kabinet yang beberapa waktu ini berjalan ugal-ugalan seperti dituduhkan para pengamat. Contohnya, kemelut minyak goreng yang sudah lebih 6 bulan belum ketemu ujungnya.
Itulah saya duga salah satu efek dari sebagian anggota kabinet bekerja sambil melaksanakan agendanya cari perhatian rakyat untuk menjadi presiden. Secara terselubung maupun terang-terangan. Tanpa malu memanfaatkan pelbagai fasilitas negara demi kepentingan ambisi pribadi semata. Abai mengira milik negara seakan milik keluarga.
BACA JUGA: Ditraktir Makan Durian Musang King oleh PM Malaysia
Reshuffle adalah sebaik-baik hal yang memang harud dilakukan Jokowi demi menyelamatkan citra pemerintahannya menjelang berakhir.
Reshuffle jauh lebih baik tinimbang “bermain” dengan wacana perpanjangan masa jabatan Presiden RI dengan berbagai alasan yang terasa dikarang – karang. Yang membuat negeri gonjang ganjing.
“Permainan” itu telah dirasakan sendiri dampaknya oleh Presiden Jokowi. Kontan mereduksi popularitas dan tingkat kepuasan publik yang pernah mencapai puncaknya dari hasil survey lembaga polling.
Saling klaim
Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden ( Pilpres) 2024, dua tahun lagi. Relatif masih cukup waktu berbenah supaya Presiden Jokowi dapat meninggalkan legacy yang bisa dikenang rakyat. Namun, bagi para politikus itu waktu singkat untuk mempersiapkan diri maju menjadi Presiden RI. Itu sebabnya, sejak tahun lalu khalayak sudah mulai kebanjiran pesan- pesan dari politikus yang merasa ( sendiri) berpeluang menjadi Presiden RI priode berikutnya (2024-2029).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi