Mungkin Firli sengaja mengidentifikasikan dirinya dengan FBI Amerika, karena agensi itu memang mempuyai reputasi yang terkenal dalam menginvestigasi dan memburu para pelaku kejahatan. Tapi, reputasi Firli dalam memburu penjahat buron masih diragukan publik. Salah satunya adalah belum tertangkapnya Harun Masiku yang sudah buron selama 2 tahun.
Sampai sekarang keberadaan Harun Masiku belum diketahui. Setidaknya begitu menurut KPK. Karena itu kasus ini menjadi utang sekaligus aib bagi KPK. Para petinggi KPK sendiri kelihatannya menjadi rikuh dengan munculnya spanduk FBI di tengah masih buronnya Harun Masiku. Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango malah mengusulkan agar masyarakat memasang baliho Harun Masiku ketimbang baliho FBI.
Kecaman dari para aktivis anti-korupsi mengalir deras. Mempunyai aspirasi politik adalah hak setiap warga negara. Tetapi, ketika seseorang memegang jabatan puncak dalam lembaga pemberantasan korupsi seperti KPK, seharusnya ia lebih fokus kepada tugas-tugas pemberantasan korupsi ketimbang sibuk menyalurkan syahwat politik.
BACA JUGA: Pengkhianat
Rekam jejak Firli yang dilaporkan dan disidang oleh Dewan Pengawas KPK pun diungkit-ungkit lagi. Firli dianggap melanggar kode etik karena mempergunakan helikopter bantuan swasta untuk melakukan perjalanan pribadi di Palembang pada 2020. Firli disidang oleh Dewas tapi divonis ringan dengan peringatan tertulis.
Para pegiat antikorupsi kecewa dengan keputusan ini. Tindakan Firli dianggap sebagai pelanggaran serius karena mencederai marwah KPK sebagai lembaga anti-rasuah. Gaya hidup Firli dianggap sebagai hedonis yang bermewah-mewah dan dianggap bisa menyeret orang lain untuk melakukan tindak korupsi.
Sebagai ketua KPK Firli harusnya memberi contoh hidup yang sederhana. Mempergunakan helikopter swasta untuk melakukan perjalanan pribadi akan memberi contoh buruk bagi publik. Hal ini juga memunculkan kecurigaan akan terjadinya dagang pengaruh yang menjurus kepada penyelewengan kekuasaan atau abuse of power.
Di mata para pegiat antikorupsi reputasi Firli sering menjadi sorotan. Di bawah Firli KPK dianggap kehilangan kegarangan dan mengalami kemerosotan wibawa. Salah satu penyebab utama adalah berubahnya undang-undang KPK akibat revisi pada 2019. Revisi itu menyebabkan KPK kehilangan gigi karena operasinya banyak dibatasi dengan berbagai aturan yang membelenggu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi