Kepanikan dan ketakutan bercampur jadi satu. Banyak yang membawa mobil ke bandara tanpa tahu akan ditinggal di mana mobilnya nanti. Banyak juga yang sampai di bandara ingin menjual mobil itu. Dengan harga berapa pun. Lalu terbang ke luar negeri.

Saya jadi ingin tahu: benarkah semua itu. Maka, kalau ada pembaca yang mengalami semua itu, saya ingin sekali mendapat ceritanya secara langsung. Saya bisa dihubungi di email redaksi@disway.id
Malam itu, Adharta pilih tinggal di hotel yang ada di dalam Bandara Cengkareng. Ia mendapat kamar VVIP. Dari Singapura ia membawa pizza dua karton. Masing-masing berisi pizza lapis dua. Ia jaga-jaga: siapa tahu sulit mendapat makanan.
BACA JUGA: Sawit Siklus
Begitu mau masuk hotel ia lihat begitu banyak anak di bandara itu. Seperti kelaparan semua. Ia ajak anak-anak itu ke lobi hotel. Sekitar 20 anak. Di lobi itu, pizza dibagi. Orang tua mereka melihat dari kaca di luar lobi.
Adharta sengaja membawa anak-anak itu ke lobi. Agar jangan sampai ada orang dewasa yang ikut makan. Ia telah minta izin petugas hotel untuk memasukkan anak-anak lapar itu.
Petugas hotel melihat adegan itu dengan haru. Keesokan harinya ketika Adharta makan di hotel itu tidak boleh bayar.
Tanggal 15 Mei, mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Kerusuhan di Jakarta mereda. Hari itu Presiden Soeharto meletakkan jabatan. Wakil Presiden Habibie dilantik menjadi presiden.
Malam itu Adharta menghubungi sopirnya. Agar Sang Sopir cari jalan menuju bandara. Pukul 03.00, sang Sopir bisa sampai bandara. Pakai mobil kijang. Adharta bisa pulang ke Grogol. Sudah ada tentara yang menjaga perumahan itu.
Itu adalah perumahan Kementerian Penerangan. Yang sudah banyak dijual. Adharta membelinya satu tahun sebelumnya.
Komposisi di perumahan itu 50:50 —antara Tionghoa dan non-Tionghoa.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi