Ketika belum sampai rumah, Adharta terpikir untuk mengevakuasi keluarganya. Ke hotel. Atau ke apartemen. Itulah pilihan tempat evakuasi paling aman.
Waktu masih di Singapura, ia terpikir mengevakuasi keluarga ke sebuah apartemen di dekat Muara Baru. Ia kenal pemiliknya. Ia memesan 20 rumah di apartemen itu. “Ternyata, besoknya apartemen itu jadi sasaran kerusuhan. Dibakar,” ujar Adharta.
Setelah tiba di rumah, Adharta berubah pikiran. Tidak perlu evakuasi. Pak RT/RW di situ menjamin keamanan kampung. “Kampung kami memang kompak,” ujar Adharta bangga. “Bahkan warga yang bukan Tionghoa sudah menawarkan agar kami tinggal di rumah mereka,” katanya.
BACA JUGA: Bencana Sapura
Kini, 24 tahun kemudian, Adharta masih sehat. Ia lahir di pulau kecil Alor di NTT. Lalu sekolah di Surabaya. Di SMPN Kapas Krampung. Lanjut ke SMA Frateran. Kini ia pengusaha kapal. Di awal masa pandemi ini ia membentuk kelompok relawan Covid. Namanya: Komunitas Indonesia Lawan Libas Covid. Disingkat KILL Covid. Bentuk lembaga itu perkumpulan. Pendirinya 60 orang. Cabangnya di banyak kota. Total relawan KILL Covid sampai 30.000 orang.
Adharta sendiri terkena Covid. Tiga kali pula. Tanggal 27 Juli 2020 ia kena yang pertama. Justru ketika lagi mengurus terbentuknya relawan itu. Parah. Sampai masuk ICU 14 hari. Waktu itu belum ada obat Covid. Dokter masih meraba-raba apa yang bisa dilakukan.
Tepat setahun kemudian, 27 Juli 2021, Adharta kena Covid lagi. Masuk RS sampai 10 hari.
Itu bermula dari sakit gigi. Dua hari sebelumnya. Lalu ia ke dokter gigi. “Begitu keesokan harinya saya mendengar dokter gigi itu kena Covid, ya sudah. Saya pasti kena lagi,” katanya mengenang.
BACA JUGA: Wilayah Pusat
Yang ketiga, terjadi akhir Februari 2022. Tertular dari istrinya. Sang istri tertular dari pembantu. Ia masuk RS lagi. 10 hari lagi. Kali ini kompak bersama istri. Baru kali itu sang Istri kena Covid.
“Saya sudah mengalami semua: Alpha, Delta, Omicron,” katanya lantas tertawa.
Adharta tidak mengira kena Omicron bersama istri. Hari itu ia baru pulang dari Australia. Masuk karantina 10 hari. Di Hotel Mulia. Aman. Justru ia mendengar anaknya yang di Australia yang terkena Covid. Sekeluarga.
Adharta memang punya rumah di Australia. Di Melbourne. Sudah lebih 2 tahun ia tidak melihat rumahnya itu.
Setelah Covid reda, Adharta punya dua persoalan. Pertama, apa yang harus dilakukan KILL Covid yang begitu besar. Saya pun mengusulkan untuk menangani akibat long Covid. Adharta setuju. Ia sendiri mengalami long Covid. Kini pendengarannya tidak normal lagi. Ia sudah berobat ke banyak dokter. Termasuk dokter di Singapura. Gagal. “Sembuh tidak mungkin. Tapi bisa diusahakan tidak memburuk,” ujarnya.
Saya sendiri tidak mengalami kesulitan mewawancarainya. Jarak jauh. Lewat telepon. Masih ok.
Lalu apa persoalannya?
“Pendengaran saya tidak bisa lagi stereo,” jawabnya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi