Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 15 Mei 2022 08:00 WIB ·

Stereo Adharta


					Adharta, mengenang masa menakutkan 1998.(FOTO: DISWAY) Perbesar

Adharta, mengenang masa menakutkan 1998.(FOTO: DISWAY)

KEMPALAN: KEMARIN, 24 tahun lalu. Ribuan orang panik. Mereka membanjir ke bandara Cengkareng. Cari aman. Ingin terbang ke luar negeri.

Hari itu Adharta sudah di luar negeri. Di Singapura. Sudah dua minggu. Harusnya masih dua minggu lagi di Singapura. Urusan bisnis.

Ia justru ingin balik ke Jakarta. Keluarganya harus diselamatkan. Malam itu, 12 Mei 1998, ia pun membeli tiket. Tidak satu atau dua. Ia membeli tiket semua perusahaan penerbangan jurusan Jakarta.

Keesokan harinya, pukul 07.00, Adharta sudah tiba di Bandara Changi. Ia lihat papan pengumuman: begitu banyak penerbangan jurusan Jakarta yang dibatalkan.

Adharta sudah keliling ke setiap konter penerbangan. Semua mengatakan tidak jadi terbang ke Jakarta. Ia terus melakukan komunikasi dengan keluarganya yang lagi ketakutan di Jakarta.

Akhirnya Adharta dapat pemberitahuan dari KLM. Pukul 15.00 perusahaan penerbangan Belanda itu akan terbang ke Jakarta. Adharta sudah diberitahu: pesawat akan bisa mendarat, tapi penumpang tidak akan bisa keluar dari Bandara Cengkareng.

Gak masalah. Yang penting sudah sampai Jakarta.

Hari itu Jakarta membara. Kerusuhan dan pembakaran terjadi di mana-mana. Anda sudah tahu: korbannya warga keturunan Tionghoa. Juga aset mereka.

Adharta adalah Tionghoa. Marganya Ong (王国逸). Rumahnya di Grogol —sekitar 500 meter dari kampus Trisakti. Atau persis di seberang Hotel Ciputra. Trisakti adalah salah satu titik menentukan penyebab kerusuhan itu. Yakni setelah mahasiswa Trisakti, yang demo anti Presiden Suharto, tertembak mati.

BACA JUGA: Muflis Segera

Menurut Adharta, KLM jurusan Jakarta itu tidak penuh. Bahkan tidak sampai separo. Kelihatannya KLM sengaja terbang ke Jakarta sebagai bagian dari usaha evakuasi.

“Mungkin hanya sepertiga kursi yang terisi,” ujar Adharta. Itu pun banyak yang tenaga medis. “Sebelah-sebelah saya dokter Singapura,” katanya.

Begitu mendarat, Adharta melihat sendiri. Bandara penuh manusia. Dalamnya. Terutama luarnya. Tidak mungkin ia bisa keluar dari bandara.

Ia masih bisa menjalani proses imigrasi. Seperti biasa. Tapi untuk yang terbang meninggalkan Jakarta banyak yang tanpa paspor. Terutama anak-anak yang masih dalam gendongan.

Adharta juga memperoleh informasi: macet total di sepanjang jalan tol menuju bandara. Jalur menuju Jakarta pun dipadati mobil yang menuju bandara.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

KKN Horor

18 Mei 2022 - 16:22 WIB

Kaus Oblong

18 Mei 2022 - 08:00 WIB

UAS

17 Mei 2022 - 17:27 WIB

Upacara Baijiu

17 Mei 2022 - 08:00 WIB

Jokowi, Biden, dan Elon

16 Mei 2022 - 16:11 WIB

一百二十

16 Mei 2022 - 08:00 WIB

Trending di Kempalpagi