Pada bab-bab awal hingga tengah diceritakan bagaimana mereka bergaul bersama mahasiswa para fanatik Kristen dan fanatik evangelis Inggris dalam menentang stereotip kemajuan orang Eropa dan obskurantisme Muslim. Sementara itu, di bagian akhir cerita akan diceritakan bagaimana enam mahasiswa itu berjuang melawan Wetoksifikasi, Xenophilia terhadap budaya barat dan prasangka terhadap budaya kolonialis Eropa ataupun ketidakcocokan antara ide-ide Muslim dan Kristen.
Sekalipun hubungan Timur Tengah dan Eropa diceritakan sebagai kisah permusuhan, namun dengan terungkapnya kisah Miza Salih selama belajar merupakan sebuah kesaksian penting bagi nilai-nilai kemanusiaan dan persahabatan antara Muslim Iran dan teman-teman kristen mereka di London. Ketulusan persahabatan itu akan menghasilkan koreksi terhadap ide-ide yang berpotensi mengalami benturan budaya yang tidak terhindarkan.
Dalam buku juga diceritakan bagaimana Mirza Salih bertemu dengan Dr. Olinthus Gregory, Sir William Herschel dan putranya, Sir John Frederick Herschel dan banyak tokoh terkenal lain dalam dunia ilmu pengetahuan. Enam mahasiswa ini juga mengajarkan kepada pembaca bahwa dalam mencari ilmu pengetahuan di mana pun tempatnya yang terpenting adalah Qa’idadan dan Mu’addab atau disiplin dan sopan santun.
Membaca buku ini seperti kita membaca sebuah novel non-fiksi yang akan membawa kita terbang melintasi ruang dan waktu. Kita juga akan dibawa oleh penulis menuju imajinasinya seperti dalam latar panggung serial Downtown Abbey. Buku ini sangat menarik dan unik, dan mungkin belum memiliki celah untuk dikritik kekurangannya. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi