Dia tidak bengong. Dia merasa tidak mampu melayani serbuan massa yang lapar itu. Dia sendirian. Sudah
tua sekali. Gemuk. Giginya ompong. Pakaiannyi lusuh.
Melihat kegamangan itu balik kami yang bengong –bengongnya orang lapar.
“Bu,” kata Ivo pada ibu tua itu. “Ibu duduk saja. Kami bisa melayani diri sendiri,” tambahnyi.
Ivo dan Isna langsung ke dapur yang sempit. Mereka mencari di mana nasi. Di mana lodeh. Di mana
rawon. Di mana piring dan sendok.
Cucu-cucu langsung membuka bungkus mie: bikin sendiri. Mereka hanya minta direbuskan air. Kompor
pun dinyalakan. Sang ibu-tua hanya bisa melongo. Warungnyi telah dikudeta.
Saya sendiri menuju cobek itu: mengambil kacang goreng dari toples plastik. Cabe. Garam. Petis. Dan sedikit gula merah. Saya juga ambil pisau. Saya iris-iris pisang kluthuk muda yang jadi kelengkapan bumbu rujak.
BACA JUGA: Hidup Kesusu
Semua itu saya jadikan satu onggokan di cobek batu. Saya uleg mereka dengan uleg-uleg batu. Sampai lumat. Saya beri air sedikit. Saya tambahkan irisan tahu. Dan lontong. Dan sayur satu-satunya yang ada di situ: kacang panjang rebus.
Kami pun makan siang dengan serunya. Sang Ibu-tua tidak perlu merinci apa saja yang kami makan. Tidak akan bisa. Hitungan porsinya rusak semua.
Yang penting kami senang bisa makan. Dan Sang Ibu-tua juga senang dagangannya laris. Kami juga
membeli sendok dan piringnyi.
Hanya saja saya tidak bisa membeli warung itu sekalian. Itu bukan hak miliknyi. “Kami numpang di sini,” katanyi.
“Sudah berapa tahun?“
“Sudah 40 tahun“.
“Di mana anak-anak?”

“Yang perempuan, dua orang, jualan bakso. Yang laki-laki, satu orang, jadi tukang parkir,” katanyi.
“Di mana suami?”
“Sudah meninggal lebih 35 tahun lalu,” ujar ibu berdarah campuran Jawa-Madura itu.
Habis menyerbu warung itu, kami pun bisa ke Bangsring dengan gembira. Inilah pantai yang punya
sejarah kelam: ikannya punah dan terumbu karangnya hancur. Nelayan sendiri yang menghancurkan ”sawah-ladang” mereka.
Waktu itu nelayan menggunakan bom dan kimia. Untuk mencari ikan. Hancur. Lingkungan rusak. Berat.
Hilanglah sumber mata pencaharian mereka.
Sampai, akhirnya, muncul ”pahlawan lingkungan” di desa ini: Ikhwan Arief. Waktu itu 24 tahun. Baru lulus S1 dari Universitas Islam Malang.
Ikhwan justru putra tokoh nelayan di sana. Ayahnya pemilik lebih 30 perahu nelayan. “Ayah saya
termasuk yang menyalurkan bom dan kimia kepada para nelayan itu,” ujar Ikhwan mengenang.
Ketika sekolah di Aliyah Situbondo, Ikhsan bergabung ke klub pencinta lingkungan. Bumi. Di situlah Ikhwan sadar: ayahnya termasuk perusak lingkungan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi