Senin, 1 Juni 2026, pukul : 08:48 WIB
Surabaya
--°C

JHT

KEMPALAN: Wong cilik atau orang kecil menjadi kosa kata sakral dalam politik Indonesia. Agak susah mencari padanannya dalam istilah bahasa Inggris, tapi dalam tradisi sosialisme mungkin lebih dekat dengan proletar yang umumnya tediri dari kalangan buruh.

Ada partai yang mengklaim sebagai partai wong cilik, partai yang memperjuangkan kepentingan dan hak-hak wong cilik. Respresentasi paling pas dari wong cilik adalah kaum buruh atau kalangan pekerja. Tapi, pemerintahan yang didukungnya justru tidak membala wong cilik yang diwakili oleh para buruh.

Ini kenyataan yang ironis sekaligus lucu. Ironis karena buruh merasa tidak mendapatkan dukungan politik dari partai wong cilik. Lucu karena lucu saja, partai wong cilik tapi tidak membela wong cilik.

Ribuan buruh melakukan demonstrasi besar-besar di kantor kementerian tenaga kerja (16/2). Mereka menuntut agar peraturan Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikeluarkan oleh menteri tenaga kerja dicabut. Buruh marah karena ada aturan baru bahwa dana JHT baru bisa dicairkan setelah seorang pekerja berusia 56 tahun.

BACA JUGA  S Golf Academy (SGA), Akademi Golf yang Ajarkan Golf Bukan Sekadar dari Sisi Teknis

Kalau sekarang seorang pekerja berusia 36 tahun dipecat dari pabrik tempatnya bekerja maka dia harus menunggu 30 tahun untuk bisa mencairkan uang jaminannya. Uang itu bukan uang pemerintah, uang itu milik para pekerja yang dikumpulkan rupiah demi rupiah.

Ketika buruh membutuhkannya pada saat paling kritis, dana itu malah tidak tersedia. Menunggu 30 tahun tentu bukan opsi yang menyenangkan. Tapi, itulah yang dilakukan pemerintah. Dengan berbagai alasan dana itu ditahan.

BACA JUGA: Kotak Amal

Dana JHT jumlahnya sampai Rp 550 triliun, sebuah jumlah yang bikin ngiler ketika kas negara sedang tipis seperti sekarang. Ketika pemerintah sedang berada pada puncak kreatifitas untuk mencari sumber dana, maka jumlah sebesar itu sungguh sangat menggoda.

BACA JUGA  Cara Elegan DPC PDI Perjuangan Gresik Antar Keberkahan Iduladha ke Pintu Rumah Warga

Lucu dan ironis itu beda tipis. Tergantung cara pandang kita. Ada satu kejadian yang oleh seseorang dianggap lucu dan mengundang tawa atau senyum simpul, tapi oleh orang lain dianggap sebagai ironi yang menyesakkan. Buruh menuntut uangnya sendiri untuk dicairkan tapi dipersulit. Itu lucu, tapi juga ironis.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.